Oleh : Imam Abdullah El- Rashied
Rimba rindu yang kau tinggalkan, telah penuh belukar dan luka yang menjalar.
Aku tak tahu, tanpa sebuah perjanjian, kita telah sepakat untuk saling merindu, berbalas aksara-aksara pilu.
Di sini, di bawah rajutan cahaya rembulan yang sayu, aku menyendiri tertusuk duri kenangan yang membekaskan luka biru, tepat di ulu hatiku.
Ada kicauan gagak, sejenak membuat telingaku pekak. Bukan, bukan suaranya, tapi kenangan yang mengalirkan duka.
Ah, mungkin ini hanya sejentik prasangka, atau sejengkal praduga. Harapan yang pernah kau tanam benar-benar tumbuh memenuhi rimba dalam jiwa.
Entahlah, kita sedang beradu rindu atau kata-kata pilu. Merindumu memang selalu harus ambigu.
Benar, tak ada kontrak yang kita sepakati. Tapi, mengapa jauh darimu membuatku sesesak ini?
Ah, terkadang mata lebih sering berdusta, menganggap kau benar-benar ada.
Prakkk…
Bukan, itu bukan suara buku-buku yang terjatuh dari rak. Bukan pula gerobak yang tertabrak. Tapi, Itu suara hatiku yang mulai retak, jauh darimu sungguh membuatku sesak.
Peternak Rindu
Mukalla, 28 Agustus 2021.
