Oleh: Hasbi Latif
Seluruh keluarga besar Bengkel Narasi Indonesia turut berdukacita teramat dalam atas berpulangnya saudara kita, penulis paling produktif di Bengkel Narasi, Dr. Sudirman Muhammadiyah, yang selalu saya panggil SDM. Alfatihah tanpa batas untuk almarhum.
Lahir pada 31 Desember 1970 di Makassar, SDM menutup usia pada lima puluh lima tahun. Meski kepergiannya begitu tiba-tiba, kenangan semasa mahasiswa masih terasa seperti kemarin. Meski rambut telah memutih, tawa SDM di lorong kampus masih terngiang jelas. Sosoknya selalu dinantikan, kehadirannya selalu ditunggu, dan candanya selalu menghangatkan.
Saya memanggilnya “junior”, namun sesungguhnya SDM-lah yang banyak mengajarkan saya makna istiqamah. Ketika sebagian orang mulai jenuh berorganisasi, ia hadir paling awal dan pulang paling akhir. Sejak masa kuliah di UVRI Makassar hingga akhir hayatnya, dedikasi SDM tidak pernah surut. Baginya, papan dakwah tidak boleh dibiarkan kosong. Ia penulis yang sangat aktif. Ratusan tulisannya di Bengkel Narasi menjadi bukti bahwa tinta tidak pernah berhenti mengalir dari tangannya.
Benarlah kata Founder Bengkel Narasi, Ruslan Ismail Mage: “Kemarin masih sempat beliau mengucapkan terima kasih atas anugrah award Bengkel Narasi 2026. Engkau intelektual sejati yang rendah hati, selalu hormat dan menghargai seniornya. Selamat jalan saudaraku, ratusan tulisannya di BN untuk pencerahan ilmu pengetahuan akan selalu abadi. Alfatihah tanpa batas saudaraku.”
Award “Penulis Terprolifik Bengkel Narasi 2026” yang baru saja ia terima menjadi hadiah terakhir yang sempat ia syukuri. Sebuah pengakuan bahwa SDM memang tidak pernah lelah menumbuhkan budaya menulis, berpikir kritis, dan menyebarkan narasi positif. Anugerah Award Bengkel Narasi menjustifikasi kalau SDM paling banyak tulisannya, paling subur gagasan dan pemikirannya. Ratusan tokoh besar dunia dibedah pemikirannya untuk ditulis dalam mempermudah mahasiswanya membaca mata kuliahnya.
Satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan dari sosok kader Muhammadiyah ini: SDM tidak pernah berhitung untuk kepentingan umat. Saat ada kader yang mengalami kesulitan, dialah yang pertama mengulurkan tangan. Ketika majelis ilmu sepi peminat, ia berkeliling mengajak satu per satu. Kader boleh datang dan pergi, tetapi keteladanan SDM tidak tergantikan.
Kini, grup WhatsApp angkatan terasa hening. Nama SDM masih terpampang di atas, tanda centang dua tidak lagi berubah biru. Foto profilnya tetap menampilkan senyum yang menenangkan. Seolah ia berpesan, “Lanjutkan perjuangan, Kanda. Saya beristirahat dahulu.” Hati ini sesak, namun saya ikhlas. Sebab saya yakin, Allah lebih menyayangi SDM daripada kami semua.
Lima puluh lima tahun adalah waktu yang singkat untuk pribadi sebaik dirinya. Namun cukuplah masa itu untuk menumbuhkan ratusan pohon kebaikan. Murid-muridnya, orang-orang yang pernah ia layani, kader-kader yang ia bina, kami semua adalah buah dari pohon yang ditanam SDM. Dan pohon itu, insyaAllah, tidak akan mati selama ilmunya terus kami amalkan.
Usia boleh bertambah, tetapi semangat SDM tidak pernah menua. Dahulu, saat sama-sama menuntut ilmu, ia yang paling sering mengingatkan, “Kanda, kita ini kader. Tugas kita bukan mencari hidup nyaman, melainkan membuat orang lain nyaman dalam hidupnya.” Kalimat itu yang menguatkan saya hingga hari ini. Dan kalimat itu pula yang kini terasa begitu menghujam.
Kepada istri dan keluarga besar almarhum Dr. Sudirman Muhammadiyah di Makassar, kami keluarga besar Bengkel Narasi Indonesia menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Sebagai bentuk penghormatan kepada SDM, kita wujudkan gagasan yang disampaikan Ruslan Ismail Mage: membukukan kajian pemikiran tokoh dunia yang pernah ia ulas dalam tulisan-tulisannya. Agar tinta SDM tetap hidup, menjadi suluh bagi generasi sesudahnya. Kami tidak akan mampu menggantikan posisinya, namun doa kami akan senantiasa mengiringi. Semoga Allah melapangkan kuburnya, meneranginya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, SDM. Sahabat, saudara, dan guru saya dalam keikhlasan. Tugasmu di dunia telah paripurna. Kini giliran kami yang melanjutkan. Spidolmu boleh saja mengering, tetapi tulisan SDM di relung hati kami tidak akan pernah terhapus.
*Al-Fatihah, teman seperjuangan waktu kuliah
