URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER BAGI MAHASISWA

(Pemuda pelopor, berprestasi dan mandiri di Kota Makassar)*

Dr. Sudirman, S.Pd.,M.Si.

*materi kegiatan Pembinaan &Pelatihan Kepeloporan Mahasiswa. Pelaksana Dispora kota Makassar, Hotel M.Regency, 28 Agustus 2019.

Karakter itu seperti pohon dan reputasi seperti bayangannya. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan tentangnya, dan pohon adalah apa yang nyata.

Abraham Licoln
  1. Pengertian Karakter adalah

Kata character berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggambar), seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal.

Berakar dari pengertian yang seperti itu, character kemudian diartikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan sutu pandangan bahwa karakter adalah pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang?.

Setelah melewati tahap anak-anak, seseorang memiliki karakter, cara yang dapat diramalkan bahwa karakter seseorang berkaitan dengan perilaku yang ada di sekitar dirinya (Kevin Ryan, 1999: 5).

Proses pembentukan karakter, baik disadari maupun tidak, akan mempengaruhi cara individu tersebut memandang diri dan lingkungannya dan akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi adalah salah satu sumber daya yang penting.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Jadi bagi mahasiswa, sangat penting untuk mendapatkan pendidikan karakter, hal ini bertujuan untuk memperkuat akhlak dan sifat terpuji bagi peserta didik (dalam hal ini mahasiswa).

Karena kepandaian di bidang pendidikan saja belum cukup tanpa bekal moral dan karakter yang kuat. Agar saat mahasiswa terjun di masyarakat nanti tidak terjadi penyalahgunaan ilmu yang di pelajari selama sekolah.

Seperti kita lihat sekarang ini, dimana orang-orang pandai malah menyalahgunakan kepandaiannya untuk melakukan tindak pidana seperti korupsi atau menjadi teroris.

Kalau saja mereka memiliki karakter dan budi pekerti yang kuat, tentu hal itu tidak akan terjadi. Jadi untuk alasan kebaikanlah maka perlu di tekankan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa.

Oleh karena itu kita harus merubah karakter kita menjadi karakter sukses. Karakter sukses adalah bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, tidak pernah mengeluh apapun resikonya yang kita hadapi. Karena untuk beberapa tahun kedepan yang dibutuhkan adalah orang-orang yang memiliki karakter yang baik.

  • Pentingnya pendidikan karakter

Keinginan menjadi bangsa yang demokratis, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), menghargai dan taat hukum adalah beberapa karakter bangsa yang diinginkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun, kenyataan yang ada justeru menunjukkan fenomena yang sebaliknya.

  • Sejarah perkembangan pendidikan Karakter

Perkembangan pendidikan karakter tidak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang sejarah peradaban manusia. Karena dalam peradaban itulah karakter individu dan karakter suatu bangsa dibangun oleh kebudayaan masing-masing.

Karakter individu dan karakter bangsa dapat dikatakan sama tuanya dengan umur manusia dan proses pendidikan itu sendiri.  

Setiap zaman memiliki perspektif yang berbeda dalam membentuk  dan menentukan karakter yang tepat berdasarkan kondisi sosial yang dialami. Maka dari itu terdapat cara yang beragam dalam praktik pendidikan karakternya. Cara dan prioritas yang berbeda-beda sesuai kebutuhan masyarakatnya mengakibatkan perbedaan orientasi dalam pembentukan karakter suatu bangsa.

  1. Pendidikan Karakter era Yunani

Pendidikan karakter di era peradaban Yunani (abad VII-II SM) mengalami beberapa fase.pada fase awal, karakter manusia terlihat dalam bentuk gambaran manusia yang ideal yang disebut juga manusia yang memiliki arête, yaitu sesuatu yang menjadikan sesuatu menjadi berbeda dan unik.

Dalam kenyataan moral, arête berarti keutamaan, nilai, bijaksana, nama baik, keberanian, dan keunggulan. Pada masa awal kejayaan Yunani, gambaran manusia yang ideal tampil dalam bentuk pahlawan, yakni dari kalangan bangsawan, fisik yang bagus tanpa cacat, berani, menang dalam duel, kaya dan berkuasa. Jadi pada fase ini lebih menekankan pertumbuhan dan perkembangan potensi yang dimiliki individu secara utuh. Baik secara fisik –kuat, tangguh, gagah- maupun secara moral –bijaksana, berani, dan nama baik-. 

Sifat kepahlawanan sebagai indikasi manusia yang ideal dipakai pula pada masa keemasan Sparta (abad VIII-VI SM). Yang berbeda terletak pada kepahlawanan yang individual disempurnakan dengan kepahlawanan kolektif yang cinta tanah air (patriot).

Semangat dan jiwa yang cinta tanah air akan mengantarkan seseorang menjadi manusia yang bermoral dan rela berkorban. 

Pendidikan karakter pada fase selanjutnya mengemukakan gagasan tentang manusia ideal yang dapat dimiliki oleh semua orang. Tidak hanya dari kalangan bangsawan, tetapi bisa juga diraih mereka yang berasal dari rakyat jelata, petani dan kalangan bawah lainnya.

Konsep arête yang semula adalah mereka yang pahlawan dan bangsawan diubah menjadi mereka yang bersahaja menjalani hidup, bekerja keras dalam bidangnya dan mampu berbuat adil.

Seorang petani bisa menjadi manusia yang ideal jika bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya dan berbuat adil. Begitu pula prajurit atau para pekerja lainnya. Mereka yang tidak bekerja keras dianggap telah berlaku tidak adil sehingga tidak akan bisa menjadi manusia ideal meskipun berasal dari kalangan bangsawan. 

Kemudian pandangan masyarakat Yunani tentang karakter mendapat nuansa baru melalui tokoh besar Yunani, Socrates (470-399 SM).

Manusia adalah jiwanya, dan jiwa merupakan sesuatu yang sentral dari seorang manusia. Paradigma Socrates yang terkenal adalah “kenalilah dirimu sendiri”, yang berarti pula harus mampu mengenali jiwa dalam dirinya karena jiwa itulah yang memiliki dan mengendalikan kekuatan berpikir, bertindak, serta menegaskan nilainilai moral dalam hidup.

Di akhir hayatnya, ia dihukum mati dengan cara menenggak racun demi mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Ia tidak mau melarikan diri dari penjara karena hal itu tidak dapat dibenarkan secara moral. Socrates tidak mau mengorbankan prinsip dan kebenaran yang diyakini suara jiwanya dengan melarikan diri.

Setelah meninggalnya Socrates, pemikiran tentang karakter dilanjutkan oleh muridnya, Plato (427-347 SM). Menurutnya, kebenaran hakiki terdapat pada ide dan gagasan yang berada di balik alam fisik, yaitu jiwa atau alam rohani. Dari jiwa itulah akan muncul keutamaan-keutamaan dalam diri seseorang.

  • Pendidikan Karakter ala Romawi

Pendidikan karakter pada masa Romawi banyak terpengaruh kebudayaan Yunani. Terutama dalam patriotisme atau kecintaan terhadap tanah air sebagai karakter manusia yang ideal. Dalam perkembangannya, terdapat ciri dari pendidikan karakter Romawi yang membedakan dengan masa Yunani.

Pendidikan karakter Romawi terutama dibentuk melalui lingkungan keluarga dengan menghormati apa yang disebut dengan mos maiorum dan sistem pater familias.

Mos maiorum merupakan rasa hormat atas tradisi yang telah diberikan oleh leluhur. Tradisi leluhur yang baik harus tetap dihayati, dihormati dan diamalkan sebagai norma dalam tingkah laku dan cara berpikir dalam kehidupan bermasyarakat.

Ciri khas dari pendidikan karakter Romawi yang kedua adalah Pater familias, yakni menjadikan keluarga sebagai tempat utama dalam proses pendidikan anak.

Karakter anak akan terbentuk dari lingkungan keluarganya, terutama sang ayah. Sejak awal anak-anak diperkenalkan pada dinamika kehidupan publik dengan mengikuti dan mencontoh tata cara hidup sang ayah.

Dengan demikian bisa diambil kesimpulan bahwa terdapat dua karakteristik atau ciri khas dari pendidikan karakter Romawi. Yaitu Pendidikan karakter Romawi menghormati nilai-nilai tradisional yang dianggap sebagai warisan leluhur yang mesti dijaga keberlangsungan dan pelaksanaannya. Serta pelaksanaannya dimulai dari lingkungan keluarga sebagai masa awal pertumbuhan dan perkembangan individu.

  • Pendidikan Karakter di Indonesia

Pendidikan karakter bukan merupakan hal baru dalam peradaban bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh seperti RA Kartini, Ki Hadjar Dewantara, KH. Hasyim Asy’ari, Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Soe Hok Gie hingga Abdurrahman Wahid telah mencoba menerapkan semangat pembentukan kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteksnya masing-masing.

Perjuangan RA Kartini misalnya, dengan semangat penyataraan dalam memperoleh pendidikan antara laki-laki dan wanita, yang kaya dan miskin, beliau berusaha agar kaum wanita terangkat derajatnya melalui pendidikan.

Menurutnya, kebudayaan bangsa akan maju jika masyarakatnya berpendidikan, laki-laki ataupun wanita. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma. 

Membentuk identitas dan jatidiri bangsa merupakan keprihatinan pokok para pendiri bangsa ini. Ketika masih terpecahbelah dalam suku dan daerah, mereka mempunyai keinginan yang  sama untuk mengusir penjajah dan meraih kemerdekaan.

Secara historis, pada masa awal kebangkitan nasional –pra kemerdekaanmenjadi puncak dari keprihatinan tersebut.

Pada masa pra kemerdekaan, karakter bangsa Indonesia lebih ditujukan pada ranah persatuan dan kesatuan meraih kemerdekaan. Dari sinilah lahirnya Sumpah Pemuda yang mampu mengikat perbedaan yang ada di nusantara dalam persatuan. Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia.

Dalam pembentukan karakter bangsa yang kuat, Soekarno layak menjadi tokoh sentral bangsa ini di tengah penjajahan bangsa lain. Bung Karno tidak ingin bangsa ini memiliki mental budak yang jauh dari keinginan merdeka. Maka ia mencoba menggugah dan membangun kembali karakter dan mental manusia Indonesia untuk merdeka. Karakter bangsa tidak akan terwujud tanpa adanya kemerdekaan. Dan tidak akan ada kemerdekaan jika dalam mentalitas bangsa tidak ada semangat dan keinginan untuk merdeka.

Paska kemerdekaan hingga era reformasi sekarang, pendidikan karakter di Indonesia identik dengan manusia Pancasila, yakni manusia Indonesia yang menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dalam Pancasila. Dalam implementasinya, proses pembentukan manusia pancasila mengalami berbagai perubahan.

Pada orde lama, Pancasila dijadikan alat pemersatu bangsa. Sedangkan masa orde baru menjadikan Pancasila sebagai doktrin tunggal dan alat pelanggeng  kekuasaan. Lebih ironis lagi era reformasi sekarang, di mana manusia Indonesia semakin memudar pemahamannya tentang Pancasila. Sehingga bisa dikatakan bahwa Indoensia saat ini seperti negara yang besar tapi tanpa karakter.

Merujuk pada apa yang pernah disampaikan Mohandas K. Gandhi, ia mengingatkan kepada dunia tentang ancaman mematikan dari “tujuh dosa sosial”. Yaitu politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, perniagaan tanpa moralitas, kesenangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas dan peribadatan tanpa pengorbanan.

Dan disadari atau tidak, hal tersebut telah merasuk ke dalam kehidupan bangsa kita saat ini hingga menyebabkan pergeseran –jika tidak mau disebut hilangnya- karakter bangsa.

  • Tujuh Alasan Perlunya Pendidikan Karakter

Menurut Lickona ada tujuh alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan:

  1. Merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya;
  2. Merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik;
  3. Sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain;
  4. Mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam;
  5. Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah;
  6. Merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja; dan
  7. Mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban.

  • Penutup

Pendidikan berkarakter moral adalah kunci untuk perbaikan sosial dan kemajuan peradaban bangsa yang menjunjung tinggi integritas nilai dan kemanusiaan.

Harapan dari pendidikan berkarakter moral adalah tercapainya keseimbangan antara pengetahuan dan moral. Salah satu pendekatan dalam pendidikan berkarakter moral ialah dengan pendidikan moral agama yang diterapkan dalam setiap kehidupan akademis.

Jika pengetahuan dan moral agama dapat diintegrasikan maka berkembanglah kesempurnaan ilmu berlandaskan moralitas (excellent with morality). “Ilmu tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu akan lumpuh.”

Pendidikan berkarakter moral dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan untuk menjadikan manusia yang mempunyai karakter; kemampuan sosial (social skill), pengembangan kepribadian (personal improvement) dan pemecahan masalah secara komprehensif (comprehensive problem solving).

Pendidikan berkarakter moral memerlukan figur teladan sebagai role model untuk menegakkan nilai atau aturan yang telah disepakati bersama.

Di sinilah peran pendidik, khususnya guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai figur teladan agar peserta didik mampu melakukan imitasi terhadap perilaku moral. Oleh karena semua pihak dituntut untuk terlibat aktif maka perlu adanya sinergisitas diantara elemen tersebut sehingga pendidikan berkarakter moral dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

Sinergi semua elemen inilah yang mengingatkan kita kepada kata-kata bijak, “Tidak ada keberhasilan individu, yang ada adalah keberhasilan kolektif.”

my collection sdm
  • Referensi dan rujukan materi

Berkowitz, Marvin W. (2002). The Science of Character Education. Dalam William Damon (Editor), Bringing in a New Era in Character Education. USA: Hoover Institution Press Publication).

Berkowitz, M., & Bier, M. (2003). What works in character education. Presentation at the Character Education Partnership National Forum.Washington, DC.

Bohlin, Karen, E. (2005). Teaching Character Education through Literature. New York: Routledge Falmer.

Killen, M., Pisacane, K., Lee-Kim, J., & Ardila-Rey, A. (2001). Fairness or stereotypes? Young children’s priorities when evaluating group exclusion or inclusion. Developmental Psychology, 37, 587–596.

Silberman, I. (2005). Religion as a meaning system: implications for the new millennium. Journal of Social Issues 61(4): 641-663.

Timpe, Kevin. (2007). Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses 21 April 2010, dari http://www.iep.utm.edu/moral-ch/#H3)

(Visited 1,208 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

5 thoughts on “Urgensi Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa”
      1. Sangat setuju dengan kalimat ini..
        Bravo, sama hal nya yg utama ada daripada ilmu akan tetapi jika beradap namun tidak di ilmui sama saja kosong.

    1. Pendidikan karakter untuk mengembngkan potensi dasar dalam diri manusi sehingga menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, Dan berperilaku baik😍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.