Pagi yang cerah di sebuah desa di Kecamatan Katoi ,Kabupaten Kolaka Utara. Kebetulan saya sedang berkunjung ke desa tersebut dalam rangka sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak sebagai tugas dari seorang Aktivis PATBM di Kecamatan Katoi.
Dengan berjalan pelan-pelan sambil menikmati udara segar di perdesaan yang sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani, terdengarlah samar-samar percakapan di teras rumah sebuah keluarga yang sedang menimati minuman instan Gujames. Tidak bermaksud nguping, tetapi suaranya memang cukup terdengar jelas.
Sang suami tampak bersiap-siap berangkat ke kebun. Namun, tidak seperti biasanya, sang istri tidak ikut serta. ”Adik sudah tiga hari ini demam, Mas. Aku mau ke bu bidan, tapi…” ucapan sang istri agak terhenti. Ternyata sang istri sudah tidak memegang uang lagi untuk keperluan sehari-hari.
“Kok kamu minta uang terus? Bukannya aku sudah kasih lima puluh ribu beberapa hari yang lalu?”
“Mas, kenapa kamu selalu hitung uangmu itu? Coba pikirkan, uang segitu sekarang ini cukup untuk apa? Rokok saja sudah dua puluh ribu. Si adik sakit, apa yang mau dimakan? Aku hanya bisa belikan mie instant. Obat pun yang ada saja di warung.”
“Kamu itu harus belajar berhemat. Ini masa pandemi, semua serba susah. jangan ikut-ikutan tetangga yang tidak memperhitungkan masa depan.”
“Bagaimana lagi caraku untuk berhemat dengan uang lima puluh ribu selama lima hari? Belum lagi anak kita sedang sakit. Aku hanya berharap sedikit pengertian darimu.”
Aku mulai tidak nyaman menyimak percakapan mereka. Namun, itulah realitas yang terjadi di desa ini. Satu dari berbagai hal yang sangat mungkin menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Aku jadi penasaran seperti apa kelanjutan percakapan mereka sambil duduk di gapura dusun dan pura-pura sibuk membuka ponsel.
“Kamu tahu sangat susah mendapatkan uang sekarang ini. Apalagi aku hanya bertani. Aku harus banting tulang tidak kenal panas dan hujan. Semua tidak aku hiraukan asalkan bisa menggarap kebun untuk penghasilan kita.”
“Mas, aku juga bantu kamu di kebun. Kita kan sama-sama kerja. Kamu ke kebun, aku juga ikut setiap hari. Aku pun tidak pernah menggunakan uang untuk membeli sesuatu yang tidak penting. Semua untuk kebutuhan keluarga kita.”
“Sudah diamlah, tidak usah banyak bicara. Apa kamu tidak malu sama tetangga kalau mendengar kita bertengkar masalah seperti ini? Nanti aku kasih uang seratus ribu untuk satu bulan.”
“Mas, kita ini suami istri yang seharusnya saling bahu-membahu. Dalam hal keuangan keluarga juga begitu. Kita sama-sama ke kebun. Jadi, kita juga harusnya bisa duduk bersama untuk kesembuhan si bungsu. Mumpung masih ada waktu, kita tata lagi masa depan keluarga. terutama anak-anak kita, hidup mereka harus lebih baik dari kita. Itu harus kita pikirkan sama-sama. Mereka harus sehat dan sekolah setinggi mungkin.”
Suaminya pun terdiam sesaat mendengar perkataan istrinya. Dia duduk sesaat dan tampak merenung. Sepertinya dia sedang memikirkan bahwa apa yang dikatakan istrinya itu benar. Untuk sesaat mereka berdiskusi dengan volume suara yang lebih kecil sehingga tidak semuanya bisa terdengar.
“Ya sudah, aku ke kebun dulu. Hari ini panen nilam agak banyak. Kamu pegang saja uang seratus ribu ini. Segera ke bu bidan.”
“Iya, Mas.”
Aku meneguk sisa bekal air minum dalam tumbler. Sepertinya aku pun harus segera beranjak. Pukul sembilan nanti aku harus sudah siap di kantor desa untuk mengisi penyuluhan.
Syukurlah, pasangan suami-istri tersebut berhasil menyelesaikan diskusinya dengan baik. Setidaknya satu permasalahan selesai. Anak bungsu mereka memang harus segera berobat.
Satu hal yang paling penting dari episode rumah tangga mereka pagi ini adalah kesadaran masing-masing pihak untuk memperjuangkan nasib keluarga. Komunikasi terbuka dan melepas ego masing-masing menjadi salah satu kuncinya. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dapat dihindari.
Tidak terasa waktu sudah hampir pukul sembilan pagi. Sambil membantu pekarya desa menata ruangan, aku senyum-senyum sendiri.
“Kenapa, Bu? Kok senyum-senyum sendiri?” Tanya dia.
“Oh, nggak apa-apa, Pak. Ini taplak mejanya bagus-bagus,” jawabku berbohong.
Padahal, aku sedang berpikir bahwa episode dialog pasangan suami-istri tadi bisa menjadi contoh yang bagus untuk diangkat dalam paparan penyuluhan. Tentu saja dengan menyamarkan identitas mereka. []

