Oleh: Sumardi
Gendhing (lagu) Jawa berjudul “Ojo Lamis” adalah lagu terkenal yang dikarang oleh dalang kondang dari Kota Semarang, Jawa Tengah yaitu Ki Narto Sabdo (almarhum). Lagu tersebut sering dilantunkan dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalam sesi “Cangik-Limbuk” (simbol rakyat jelata), atau sesi jeda terjadinya “goro-goro” (hura-hara) yang menampilkan guyonan para abdi dalem Karang Kadempel yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Tidak hanya dalam pewayangan lagu tersebut juga sering ditampilkan dalam pagelaran “klenengan” atau karawitan bahkan sudah merambah masuk ke genre musik jawa modern atau populer yang ditampilkan dalam bentuk Campur Sari. Gendhing Jawa berjudul Ojo Lamis akan lebih terasa jika dibawakan oleh pesindhen atau penyanyi dengan “bowo” (kalimat pengantar) yang membuatnya terasa lebih dalam dan bermakna.
Kristanto, (2016) telah menterjemahkan gendhing Jawa tersebut ke dalam Bahasa Indonesia sehingga mudah untuk difahami oleh para pembaca. Lirik gendhing Jawa Ojo Lamis tersebut sebagai berikut:
Ojo sok gampang Janji wong manis | Jangan mudah berjanji orang manis
Yen ta amung lamis | Kalau hanya berdusta
Becik aluwung | Lebih baik
Prasaja nimas | Jujur apa adanya
Ora agawe cuwa | Biar tak mengecewakan
Tansah ngugemi | Selalu memegang
Tresnamu wingi | Cintamu kemarin
Jebul amung lamis | Ternyata cuma berdusta
Kaya ngenteni | Seperti Menunggu
Tukule jamur ing mangsa ketiga | Tumbuhnya jamur pada musim kemarau
Aku iki prasasat | Aku ini seperti
Lara tan anthuk jampi | Sakit yang tiada obat
Mbok ojo amung lamis | Janganlah berdusta
Kang uwis dadine banjur didis | Yang terlanjur akan menjadi buruk
Akeh tuladha | Banyak contoh
Kang dhemen cidra | Orang yang suka mengingkari janji
Uripe rekasa | Hidupnya sengsara
Milih sawiji endi kang suci | Pilihlah salah satu yang menurutmu baik
Tanggung bisa mukti | Agar bisa bahagia
Lagu tersebut mengisahkan percintaan dua anak manusia dengan penuh pesan moral agar tidak berbohong dan tidak mengingkari janji. Hal penting dalam lagu tersebut juga menyampaikan bahwa orang yang suka mengingkari janji, maka hidupnya akan sengsara. Hidup sengsara yang di gambarkan di sini tidak hanya masalah harta atau kekayaan, namun sesungguhnya tidak ada kebohongan yang bisa menenteramkan jiwa. Lagu Ojo Lamis dalam konteks kini dan masa yang akan datang masih mengandung relevansi yang sangat kuat jika dikaitkan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini.
Dalam konteks kekinian kita sering sekali mendengar janji-janji manis para politisi yang tidak dapat dipegang omongannya sehingga dinarasikan sebagai “esuk tempe sore dele” atau pagi masih berbentuk tempe, sore berubah menjadi kedelai. Para pejabat tinggi yang memberikan informasi berputar-putar seolah-olah ilmiah untuk menutupi kebohongannya. Saling melempar tugas dan tanggungjawab untuk mengelabuhi khalayak umum. Tidak jujur terhadap rakyat dengan mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya. Barangkali mereka lupa bahwa segala sesuatu yang diperbuatnya nanti akan diminta pertanggungjawabannya du muka Allah SWT. Sebagaimana terjemahan Alquran Surat Yasin ayat 65, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Jadi mari teman-teman sebangsa dan setanah air berusahalah jujur dalam berbicara walaupun pahit rasanya. Jangan mudah berjanji namun miskin untuk menepati. Ojo Lamis ya Mas dan Mbak……….
Sumber: http://oke-kristanto.blogspot.com/2016/07/filosofi-gending-ojo-lamis.html
Matraman, 29 Juni 2021
Penulis: Praktisi Manajemen SDM

Ada yang menarik menurut saya dari lagu tersebut ada di dua lirik paling terakhir.
Pilihlah salah satu yang menurutmu baik, agar bisa bahagia.
Saya akan melihat dari perspektif lain dari lagu tersebut.
Menurut saya jangan terlalu percaya sama laki-laki jika soal cinta, jika memang benar-benar cinta buktikan dengan menikahi nya jangan biarkan wanitamu menunggu.
Jangan katakan cinta jika hanya nafsu belaka, karna sakit yg di timbulkan dari cinta tidak ada obatnya selain mendekatkan diri kepada maha kuasa.
Terimakasih pak Sumardi, artikel yang sangat menarik.
Di tunggu artikel selanjutnya pak.