Meski hanya sekedar senyum tersembunyi, keindahan itu dari mata menetap di hati.
Karena senyum tersenbunyi adalah sebuah “ketulusan”.
Dalam malam kugenggam sedikit keangkuhanmu, ada jarak yang tersematkan,
walau sekilas masih mencuri pandang lewat ujung matamu.
Sayu-sayup terdengar tangisan kepiluan,
kecewa kau utarakan sebagai hukuman.
Duduk termenung memandang harap menengadah dalam wujud kepasrahan.
Meski sendi terasa kaku kiranya itulah pelajaran yang diberi Tuhan untuk naik kelas.
Aku menahan gejolak,
menekan letupan,
membendung aliran negatif,
karena aku tidak ingin maracuni keikhlasanku, tidak ingin mengotori jiwaku, tidak ingin mengkhianati hatiku.
Menahan gemuruh itu menyakitkan.
Kupadamkan bara api itu
dengan siraman tinta pemaku, karena aku ingin naik kelas.

Goresannya muantapppp… 😁