History tentang lahirnya seorang anak manusia dari rahim seorang ibu bernama Aminah binti Wahab bin ‘Abdul Manaf, tepat hari Senin, 12 Rabiul Awal yang dikenal banyak orang dengan tahun Gajah, dimana terjadinya peperangan yang sangat dahsyat yang dipimpin langsung oleh Raja Abrahah dari Yaman, Bertepatan pada 20 April 571 Masehi.
Lahir dari sosok seorang ayah, dan merupakan seorang yang paling bagus rupa serta akhlaqnya di antara suku Quraisy. Abdullah bin ‘Abdul Muttalib, tidak banyak diceritakan dalam history, namun mengikuti perkataan Nabi SAW bahwa saat seseorang semakin bertambah umurnya, dia akan semakin menyerupai bapaknya. Maka cukuplah meraba sosok dari sifat-sifat yang ada pada diri anaknya, Rasulullah Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah tanpa ayah, dikarenakan ayahnya yang bernama Abdullah saat itu sudah wafat. Nabi SAW adalah anak tunggal. Ia mempunyai banyak paman, karena Kakek Rasulullah Abdul Muthalib memiliki anak sebanyak 19 orang. 13 orang laki-laki dan yang selebihnya adalah wanita serta Ayah Nabi SAW, Abdullah merupakan yang termuda.
Menjaga hubungan baik dengan kerabat dekat jauh sebelum saat ini telah tercatat dalam sejarah, bagaimana kemudian Nabi SAW yang merupakan anak tunggal banyak diasuh oleh paman dan bibinya. Tidak semua orang menyukai Nabi SAW pada saat itu, terlebih masa kenabian Rasulullah Muhammad SAW, beberapa diantaranya paman Nabi SAW tidak begitu senang dengan Nabi, tetapi Nabi SAW tidak pula memberikan balasan atas ketidak senangan setiap orang kepadanya tersebut.
History singkat tersebutlah yang coba diilhami dan hadir di tengah-tengah keluarga Bengkel Narasi. Bertemu merupakan salah satu wujud menjaga silaturahmi tersebut. Juga merupakan saat yang tepat untuk mempererat hubungan persaudaraan dan persahabatan, serta berbagi kebahagian bersama. Dari ayat-ayat Al Qur’an dan hadits, menjalin tali silaturahmi ini dapat membawa berbagai hikmah dalam kehidupan manusia. Meski, di tengah pandemi. Saat sebagian orang sibuk menjadi kaum rebahan, sahabat Bengkel Narasi hadir dengan membawa perubahan.
Itulah esensi dari semangat silaturahni yang kami bersama lakukan tepat hari Minggu, 10/2021, dikediaman Bunda Islamiati. Hal ini bukan hanya sekadar tradisi turunan, namun sebuah amalan mulia dan kewajiban agama. Alhamdulillah tabarakallah telah dipertemukan dengan orang-orang baik.
Menyambung tali kasih sayang atau tali persaudaraan, tidak hanya dilakukan dengan bertatap muka, makan kapurung, ikan bakar, dan ditutup dengan sup buah. Kebahagiaan itu terus berlanjut dengan bertatap via zoom meeting dengan seluruh sahabat Bengkel Narasi malam itu. Menutup malam dengan kalimat-kalimat motivasi dari Bang Ruslan Ismail Mage serta pegiat-pegiat literasi menjadi penyemangat tersendiri bagi sahabat Bengkel Narasi, untuk terus bergerak dan menggerakkan banyak orang dengan Literasi menuju keabadian.
Akhir kata, lingkungan keluarga ini semoga terus terjaga, hingga saatnya nanti kita semua bertamu untuk bertemu. Berbahagia untuk membahagiakan, serta bertatap untuk saling menetap menuju jalan-jalan keabadian.

(Visited 96 times, 1 visits today)
4 thoughts on “Esensi Persaudaraan Bengkel Narasi”
  1. Aamiin..
    Pingin juga ke Kolut bertemu dg sahabat2 superku di sana dan bunda2ku tersayaang😘😘

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.