PERJALANAN MENUJU REUNI AKBAR VII & MUBES IKASEMTANI VIII 2027
Persinggahan I (Juli 2026)
Belajar dari PORSENIJAR
Sebuah perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Begitu pula perjalanan menuju Reuni Akbar VIII dan MUBES IKASEMTANI VII 2027. Dalam setiap persinggahan, kita akan berhenti sejenak, bukan untuk memperlambat langkah, melainkan untuk memetik pelajaran, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan arah perjalanan. Persinggahan pertama ini mengajak kita belajar dari sebuah momentum yang mungkin tidak direncanakan oleh IKASEMTANI, tetapi justru menghadirkan pelajaran yang sangat berharga.
Sebuah organisasi yang kuat bukan dibangun oleh banyaknya acara, tetapi oleh rasa saling memiliki. Ini menjadi fondasi seluruh perjalanan.
PORSENIJAR Selesai, IKASEMTANI Menemukan Sesuatu yang Lebih Berharga
Ada pemandangan yang mungkin tidak pernah masuk dalam jadwal resmi PORSENIJAR PGRI Sulawesi Selatan di Kabupaten Sidrap. Tidak tercantum dalam buku acara, tidak diumumkan dari atas panggung dan tidak diperebutkan dalam perlombaan.
Namun, justru di sanalah tersimpan sebuah cerita yang layak dikenang. Di tengah hiruk 72 ribu guru dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan, satu per satu alumni SMK Negeri 3 Sidrap mulai saling menghubungi.
“Di mana kita berkumpul?”
“Saya sudah sampai di Sidrap.”
“Tunggu, saya menuju titik kumpul.”
Mereka datang dengan identitas yang berbeda. Ada yang menjadi guru, kepala sekolah, pengawas, pejabat, maupun profesi lainnya. Mereka berasal dari berbagai daerah. Tetapi sesampainya di Sidrap, semua identitas itu seolah melebur dalam satu nama : IKASEMTANI.
Tidak ada agenda resmi, tidak ada panggung dan tidak ada protokol. Namun ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada semua itu, yaitu kerinduan untuk bertemu keluarga.

Mabessa.
Yang lebih menarik, inisiatif pertemuan itu lahir dari alumni yang berdomisili di Sidrap. Mereka tidak sekadar mengabarkan lokasi berkumpul. Mereka mengambil peran sebagai tuan rumah. Menyambut, mengarahkan dan menemani. Memastikan setiap sahabat yang datang dari jauh merasa diterima.
Di saat yang sama, Bupati Sidrap berpesan kepada seluruh masyarakat agar menjadi tuan rumah yang baik, melayani tamu dengan sepenuh hati, dan menunjukkan karakter orang Sidrap yang “mabessa”: penuh empati, murah hati, serta senang memuliakan tamu.
Tanpa disadari, pesan itu juga hidup dalam perjumpaan kecil keluarga IKASEMTANI. Bukan melalui pidato, melainkan melalui tindakan, melalui secangkir kopi yang disuguhkan, melalui pelukan hangat dan melalui sapaan : “Sudah lama tidak bertemu…..” Melalui kalimat sederhana : “Kalau datang ke Sidrap, singgahlah. Kami menunggu……” Di situlah nilai mabessa menemukan bentuknya.
Modal Sosial.
PORSENIJAR memang mempertemukan para guru. Namun bagi IKASEMTANI, PORSENIJAR menghadirkan sesuatu yang lebih dalam. Ia menjadi ruang yang memperlihatkan bahwa ikatan alumni bukan sekadar nama organisasi. Ia adalah rasa memiliki, rasa yang membuat seseorang rela meluangkan waktu hanya untuk bertemu sahabat lama. Rasa yang membuat alumni saling mencari di tengah keramaian ribuan orang. Serta rasa yang tidak lahir karena undangan, tetapi karena persaudaraan. Inilah modal terbesar sebuah organisasi alumni. Bukan gedung yang megah. Bukan kas yang besar. Melainkan modal sosial, yaitu kepercayaan, kepedulian, dan persahabatan yang terus hidup meski dipisahkan oleh jarak dan waktu.
Mungkin tanpa disadari, PORSENIJAR telah memberikan pelajaran berharga kepada IKASEMTANI. Bahwa sebuah organisasi tidak selalu diukur dari banyaknya kegiatan yang dibuat. Kadang-kadang, ukuran sesungguhnya adalah seberapa kuat anggotanya saling mencari ketika kesempatan untuk bertemu datang. Dan ternyata, keluarga besar IKASEMTANI telah membuktikannya.
Pulang Ke Rumah.
Pengalaman sederhana ini juga menyimpan pesan penting menjelang Reuni Akbar IKASEMTANI 2027. Reuni nanti bukan sekadar tentang panggung yang megah. Bukan hanya tentang jumlah peserta. Bukan pula tentang kemeriahan hiburan. Yang paling penting adalah menghadirkan kembali perasaan yang sama seperti yang lahir di sela-sela PORSENIJAR. Perasaan bahwa setiap alumni yang pulang tidak sedang menghadiri sebuah acara. Ia sedang pulang ke rumah. Rumah yang dahulu menanamkan mimpi. Rumah yang membentuk karakter. Rumah yang mempertemukan persahabatan yang bertahan melintasi waktu.
Mungkin inilah makna terdalam dari sebuah organisasi alumni. Bukan sekadar menjaga hubungan. Melainkan menjaga agar setiap anggotanya selalu memiliki tempat untuk pulang. Sebab sekolah tidak hanya meluluskan siswa. Sekolah melahirkan keluarga. Dan keluarga yang baik akan selalu menemukan jalan untuk saling mencari, saling menyambut, dan saling menguatkan.
Semoga semangat yang tumbuh secara alami di tengah PORSENIJAR ini menjadi benih yang kelak tumbuh menjadi pohon besar bernama Reuni Akbar IKASEMTANI 2027.
Bukan sekadar pertemuan lintas angkatan. Melainkan perayaan persaudaraan, pengabdian, dan warisan nilai yang akan diteruskan kepada generasi berikutnya. Karena pada akhirnya, yang paling dikenang dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa meriah acaranya. Melainkan seberapa hangat orang-orang yang menyambut kita ketika pulang.

Refleksi Perjalanan.
Kadang-kadang, perjalanan menuju tujuan besar tidak dimulai di ruang rapat, tetapi lahir dari perjumpaan-perjumpaan sederhana yang mengingatkan kita bahwa keluarga selalu memiliki jalan untuk saling menemukan.
Perjalanan masih panjang. Setelah belajar dari PORSENIJAR, kita akan singgah kembali untuk menemukan makna mengapa almamater selalu menjadi rumah yang ingin kita pulang.
“Perjalanan masih berlanjut. Sampai bertemu di Persinggahan berikutnya.”
