Oleh: Ruslan Ismail Mage
Ketika Februari 2019 menulis buku berjudul “Dialog dengan Cinta”, saya harus melakukan pengembaraan literatur yang mendayu-dayu tentang cinta (jejak buku ini masih bisa ditelusuri di google dengan kata kunci nama lengkap penulisnya Ruslan Ismail Mage). Di antara banyak data yang mengurai cinta, ada dua temuan yang menarik dikedepankan dalam tulisan ini.
Pertama, saya mengumpulkan lebih 100 definisi cinta dari berbagai golongan pencinta. Ternyata tidak ada bahasa yang sama dalam mendefinisikan cinta. Artinya, tidak ada definisi cinta yang sama berlaku secara universal. Setiap orang mempunyai definisi cinta tersendiri yang berbeda dengan yang lainnya. Namun pada intinya, cinta adalah rasa yang sedang bergelora. Karena itu, setiap orang akan memberi definisi cinta sesuai dengan perasaannya masing-masing.
Kedua, saya menemukan data atau lebih tepatnya sebuah konsep yang jauh lebih menarik dan menantang. Dikatakan menarik, karena konsep ini akan membuat hampir setiap orang terkejut. Dikatakan menantang, karena perlu pembuktian atau riset lebih dalam tentang kebenaran konsep itu. Konsep itu mengatakan, “Cinta sejati hanya mampu bertahan selaman tiga tahun, selebihnya hanya tanggung jawab dan penghargaan terhadap nilai-nilai dan lembaga pernikahan”.
Dari bulan Februari 2009 sampai akhir November 2018, konsep itu bertahan dalam pikiranku dan meyakininya. Kemudian tanggal 25 Desember 2018 dalam rangka Hari Guru Nasional, saya mendapat undangan dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kolaka Utara menjadi narasumber tunggal seminar nasional kependidikan bertema “Menjadi Pendidik Menginspirasi (Guru Berjalan Menuju Taman Surgawi)”.
Alhamdulillah, seminarnya berhasil dan sukses diikuti kurang lebih 1.000 peserta guru-guru di bawah naungan PGRI (jejak digitalnya bisa diakses di Youtube dengan kata kunci Sipil Institute Media). Lalu pertanyaan menggelitiknya, apa hubungan dua temuan konsep buku “Dialog dengan Cinta” di atas dengan suksesnya seminar kependidikan itu?
Jawabannya sangat berhubungan! Lebih jelasnya, berikut data pembenarnya. Selama empat hari agenda pencerahan Sipil Institute di Kolaka Utara, saya menginap di rumah Butiq Wihda milik pasangan saudaraku Hasbi Latif dan ibu Rosmawati. Empat hari tiga malam di rumahnya, saya menemukan data dan fakta tak terbantahkan yang “menggugurkan” konsep dan keyakinan saya kalau cinta sejati hanya mampu bertahan selama tiga tahun.
Pada pasangan ini saya menemukan “Cinta sejati” yang sudah bertahan 23 tahun lamanya. Terhitung sejak keduanya berikrar sehidup semati di depan penghulu Minggu 2 Agustus 1998 di Gedung STM Pembangunan, Jalan Sunu Ujung Pandang, sampai ditulisnya catatan ini Senin 2 Agustus 2021. Tentu kita doakan seterusnya cinta sejati mereka akan bertahan sampai akhir hayat.
Empat hari pasangan ini menemani saya secara fisik di Kolaka Utara, kemudian sacara batin sejak awal 2019 sampai sekarang hubungan silaturahmi kami tanpa batas terus terjalin tanpa syarat. Baik penglihatan langsung saya secara fisik, maupun hubungan komunikasi selama ini, lagi-lagi saya menemukan data dan merasakan pasangan ini tidak pernah berhenti saling jatuh cinta setiap saat. Tidak pernah berhenti saling mengasihi setiap tarikan dan hembusan napas mereka.
Karena setiap sudut ruang dan waktunya selalu memancarkan energi cinta sejati dan romansa kasih sayang, maka saya menyebut pasangan ini bagaikan “Galih dan Ratna”. Tokoh dalam film “Gita Cinta dari SMA”, yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman dan sempat menjadi role model anak SMA di era tahun 80an.
Begitulah aku menemukan Galih dan Ratna di Butiq Wihda. Selamat atas usia cinta sejatinya yang ke-23 tahun hari ini Senin 2 Agustus 2021. Insyaallah cinta sejatinya akan abadi selamanya sampai akhir hayat. []

Galih dan Ratna… Puspa Indah Taman Hati cerita ini bukan sebatas film yg viral pada masanya tapi suatu yg nyata didepan mataku… Bahagia selalu Om Hasbi n Bunda Ros..Sakinah Mawaddah Warahmah. Buat bang RIM tulisannya menguatkan yg nyata… Syukran