Oleh : Gusnawati, S.Pd, M.Pd
CGP Kabupaten Soppeng
Salah satu tugas guru penggerak adalah menciptakan well – being ekosistem pendidikan di sekolah. Guru sebagai pendidik menciptakan kondisi nyaman, sehat, dan bahagia bagi murid.Hal ini sejalan dan senada dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.
Murid yang memiliki well-being yang optimum, memiliki kemungkinan untuk mencapai prestasi belajar yang optimal, kesehatan mental dan fisik yang lebih baik, memiliki ketangguhan dalam menghadapi stres dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab.
Pembelajaran sosial emosional penting dilakukan dengan tujuan memberikan keterampilan yang dibutuhkan oleh murid untuk dapat bertahan dalam masalahnya, sekaligus memiliki kemampuan untuk memecahkannya. Budaya positif yang dapat dilakukan di sekolah untuk menerapkan latihan berkesadaran penuh atau mindfulness sambil mengembangkan kompetensi kesadaran diri atau self awareness adalah dengan mengenali emosi. Hal ini dapat membantu guru dan murid merespon terhadap kondisinya sendiri.
Pernahkah bapak/ibu stres saat bekerja di sekolah ? Kesal, cemas kemudian takut dan lelah.
Hal itu sering dialami mengingat tuntutan sebagai seorang guru dan tugas tambahan sebagai seorang guru sangatlah banyak. Stop stres.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak stres. Pelajari 5 kompetensi sosial emosional yaitu :
- Pengenalan emosi
- Pengelolaan diri
- Empati terhadap orang lain
- Resiliensi/ daya lenting
- Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
STOP STRES by Stop yang berarti:
Stop untuk mengelola kesadaran diri/Self Awareness
Stop/Berhenti
Take a deep Breath/Tarik nafas dalam
Observe/Amati
Proceed /Lanjutkan.
Semoga Bapak dan ibu bisa mempraktekkan teknik STOP ini secara kontiniu.
Bahagia selalu untuk mengelola emosi
Watansoppeng, 6 Agustus 2021
