Bagi mereka yang sempat belajar di luar negeri  terlebih bagi mereka yang belajar melalui beasiswa, merupakan suatu keberuntungan yang luar biasa. Selain bisa mendapatkan ilmu secara gratis, juga bisa melihat dan menikmati suasana negeri orang, anggaplah traveling gratis. Seperti halnya kisah seorang Hamdan Juhannis (kini sebagai Rektor UIN Makassar) dalam buku biorafi  motivasinya “Melawan Takdir” yang berkisah tentang seorang anal lelaki yang berasal dari desa di Bone yang menununtut ilmu di IAIN (sekarang UIN Makassar) yang mampu  mendapat gelar master di Canada hingga meraih doctor di Australia. Di negeri Kanguru itulah beliau bekerja sampingan tetapi tetap fokus dengan memproritaskan kuliah, karena anak istri yang juga membutuhkan biaya.

Ketika belajar di Australia, seperti halnya mahasiswa lainnya, beliau bertemu dengan mahasiswa lainnya dari berbagai bangsa di berbagai belahan bumi, terutama ketika istirahat makan siang. Pertemuan kala makan siang dan kala kuliah yang membuatnya makin akrab dengan teman-temannya, yang sering terjadi perbincangan hingga berlanjut dengan diskusi-diskusi kecil, yang dibarengi canda-canda lucu. Pertemuan-pertemuan kecil itu terkadang saling mengungkapkan tentang studi, karakter professor masing-masing sampai pada identitas bangsanya.

Suatu dialog yang sangat berkesan dan tentu tidak pernah beliau lupakan, ketika suatu hari beliau bertemu dan bercanda dengan teman-temannya dari berbagai Negara ang antara lain : Kurh dari India, Tomomi dari Jepang,Romel dari Philipina, dan beliau sendiri. Saat perbincangan berlangsung, pak Hamdan bertanya pada Kush asal Negara  India, apa karakter bangsamu? Kush menjawab: “karakter Bangsaku (India), Kalau bekerja selalu bicara.” Pak Hamdan mengangguk dan segera melanjutkan dengan mengatakan itulah sebabnya film India cenderung panjang, yang disambut tawa lepas yang lainnya. Lalu pertanyaan yang sama diajukannya pada Tomomi asal Jepang: “apa karakter bangsamu? Tomomi menjawab dengan singkat: ”sedikit bicara banyak kerja”,     beliuapun langsung menyambung perbincangan itu,dengan berkata: pantaslah Bangsa Jepang maju dan nyaris tak tertandingi oleh bangsa manapun di dunia ini dari sisi ekonomi. Lalu pak Hamdan mengalihkan pandangannya ke Romel bangsa Philipina: “apa karakter bangsamu? Dengan cepat Romel mejawab: “sebaliknya dari bangsa Jepang, banyak bicara sedikit kerja.” Pak hamdan mengatakan sambil sedikit meledek : “pantaslah bangsamu tidak majau-maju sampai sekarang.” Terakhir, giliran pak Hamdan ditanyai dari ketiga temannya bertanya padanya: “apa karakter bangsamu? Dengan agak tertunduk dan agak sedikit terpaksa, beliau menjawab : “lain yang mereka bicarakan, lain pula yang mereka kerjakan.” Jawabannya tersebut, membuat Romel asal Philipina hamper saja menghamburkan makanannya dari mulutnya, saking tidak bisa menahan tawanya.

Dialog yang beliau lakukan memberikan pengalaman berharga baginya dan tentu bagi kita semua sebagai bangsa yang besar dan beradab. Walau kedengarannya mengolok-olok bangsanya sendiri, dengan sadar  sangat berharap bahwa semoga cara itu mampu mengikis tabiat buruk bangsanya karena tabiat seperti ini sangat menghambat kemajuan suatu bangsa. Lain yang diungkapkan lain pula yang menjadi kenyataan. Karakter jujur sudah terkikis, kebohongan merajelela, maka potensi kehancuran menganga lebar. Membangun negeri dengan kebohongan, bagai membangun rumah labah-labah, rapuh dan mudah hancur. Telunjukpun mampu merobohkan rumah labah-labah. Begitupun bangsa yang besar ini yang lahir dari perjuangan panjang dan berliku, ada kucuran keringan, ada tetesan darah, ada pengorbanan harta yang tidak terhitung, bahkan pengorbanan nyawa yang tidak terhitung, bila dilanjutkan membangun dengan lebih banyak kebohongan, maka Indonesia berpotensi menjadi Negara yang berkeping-keping.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.