“Berharap menjadi teman itu cepat, tetapi persahabatan adalah buah yang matangnya lama.”

Aristoteles

Aristoteles mempunyai banyak pemikiran fundamental, salah satunya ialah filsafat persahabatan.

Dalam tulisan ini kita akan membahas topik yang sederhana, tetapi bermakna dan sangat relevan dalam situasi dunia saat ini.
Termasuk pertemanan kita di Bengkel Narasi.

Aristotle’s Philosophy of Friendship!

Aristoteles secara luas dianggap sebagai salah satu filsuf paling cemerlang dan produktif sepanjang masa sejarah Filsafat Barat. Ia menulis berbagai bidang: astronomi, fisika, etika, dan ekonomi. Semuanya telah ia pikirkan lebih dari 2.000 tahun yang lalu.

Dampak karyanya sangat besar, berbagai disiplin ilmu masih menerapkan pemikiran beliau. Salah satu pengamatan Aristoteles yang paling abadi ialah tentang persahabatan. Ia melihat persahabatan sebagai salah satu kegembiraan hidup yang sejati.

Aristoteles menjabarkan dua jenis persahabatan yang membuat kita terkadang jatuh kedalamnya tanpa menyadarinya. Kedua jenis itu ialah:

  1. Friendship of utility
  2. Based in pleasure friendship.
  3. Friendship of utility

Dalam relasi ini, kedua belah pihak tidak menjalankan persahabatannya atas dasar afeksi. Sebaliknya, mereka ada di dalamnya demi keuntungan masing-masing. Hubungan ini bersifat sementara: kapanpun keuntungannya berakhir, saat itu juga hubungan berakhir.

Aristoteles mengamati bahwa friendship of utility ini paling umum ada di kalangan orang yang lebih tua. Misalnya ialah pertemanan atas dasar relasi bisnis atau pekerjaan. Kita dapat menikmati waktu yang dihabiskan bersama, tetapi ketika situasi berubah, koneksi itu berubah juga.

  1. Based in pleasure friendship

Hubungan ini, menurut Aristoteles, lebih umum di kalangan anak muda. Misalnya teman-teman kita di sekolah, hubungan yang didasarkan pada emosi yang kita rasakan pada waktu tertentu atau selama aktivitas tertentu.

Persahabatan ini seringkali merupakan hubungan yang paling singkat dalam hidup kita. Ini merupakan hal yang biasa, selama kedua pihak memperoleh kesenangan melalui kepentingan bersama dalam sesuatu yang eksternal.

Tetapi, pertemanan seperti ini akan berakhir ketika selera atau preferensinya berubah. Banyak anak muda menjalani fase-fase dalam apa yang mereka nikmati. Sepanjang perjalanan, teman-teman ini pun akan berubah dengan sering.

Nah, kedua jenis pertemanan ini dikategorikan oleh Aristoteles sebagai accidental friendship. Ia tidak pernah mengatakan bahwa jenis pertemanan tersebut adalah buruk. Diluar accidental friendship ini, ada yang namanya the friendship of the good.

Bentuk persahabatan terakhir ini didasarkan pada perasaan saling menghargai kebajikan yang dipegang orang lain. Dalam relasi seperti ini, orang-orang itu sendiri dan kualitas yang mereka representasikan memberi insentif bagi kedua pihak untuk berada dalam kehidupan satu sama lain

Persahabatan kebajikan (virtue) ini membutuhkan waktu dan kepercayaan untuk dibangun. Relasi ini bergantung pada pertumbuhan bersama. Agar dapat mempunyai relasi seperti ini, kita harus mempunyai empati dan kemampuan untuk merawat orang lain.

Tentunya berdasarkan sifat yang alami, bukan karena orang lain bermanfaat bagi kita atau hanya sekedar memuaskan kesenangan kita (seperti pada accidental friendship). Kita biasa berada pada relasi ini ketika kita mengetahui kondisi terburuk teman kita dan menyaksikannya bertumbuh

Ketika kita menghormati seseorang dan merawatnya, kita akan mendapat kesenangan karena menghabiskan waktu bersama mereka. Pertemanan seperti ini mampu menjaga kesehatan mental dan emosional kita.

Ada alasan yang bagus mengapa karya Aristoteles terus dibaca lebih dari 2.000 tahun setelah kematiannya. Dia mengajar kita untuk memeriksa dunia secara empiris dan dia menginspirasi filsuf dan pemikir selanjutnya untuk mempertimbangkan peran etika dalam hidup sehari-hari.

Peran etika ini salah satunya ialah tentang pertemanan dan hubungan manusia. Ikatan pertemanan kita secara langsung membentuk kualitas hidup kita.

Life is too short for shallow friendship.
Hidup terlalu singkat untuk pertemanan yang dangkal.

Sumber: Aristotle’s Philosophy of Friendship Still Matters Today by Zat Rana https://t.co/CAHPl9ZZ39

(Visited 197 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

One thought on “Aristotle’s Philosophy of Friendship”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.