Oleh: Sumardi

Hari ini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berulang tahun untuk yang ke -76. Suatu usia yang tidak dapat dibilang muda atau remaja lagi jika hal tersebut dianalogikan sebagai usia manusia. Namun dalam konteks negara maka usia tersebut merupakan usia yang matang walaupun tidak dapat juga dikatakan tua. Dalam menapaki usia tersebut ternyata NKRI didera oleh bertumpuknya pekerjaan rumah (PR) dan permasalahan yang harus segera diambil penyelesainnya. Problematika tersebut utamanya adalah dampak pandemi Virus Covid-19 yang juga mendera hampir semua negara di belahan bumi ini.   

Permasalahan pandemi Virus Covid-19 diakui oleh hampir semua orang sedemikian hebat dampaknya. Multiflier effect dari pandemi virus di abad ini menerjang hebat hampir semua sendi kehidupan masyarakat mulai dari sektor perekonomian, pendidikan, dan industri. Sosial budaya, ketenagakerjaan, dan keagaaman juga tidak luput dari terjangan Virus Covid-19 yang tanpa ampun menghajar bagaikan pencuri di siang bolong yang berhasil menggondol barang curian dari si empunya rumah. Banyak orang melongo, pesimis dan ketakutan akan bahaya Virus Covid-19, walaupun juga terdapat sebagian kecil anggota masyarakat yang “cuek bebek” seakan-akan tidak terjadi apa-apa di negeri ini.

Pada sektor pendidikan mungkin saja tidak terhitung berapa banyak anak negeri ini tidak bisa lagi sekolah karena orang tuanya tidak mampu membelikan si anak sebuah gawai sebagai sarana pembelajaran online.  Alih-alih membelikan laptop atau note book sebagai sarana pembelajaran, untuk sekedar membelikan paket data atau pulsa internetpun seringkali “kembang kempis”. Jikapun mempunyai gawai atau laptop ketersediaan dan kelancaran jaringan atau koneksi internetpun juga menjadi permasalahan tersendiri mengingat betapa wilayah bumi Indonesia yang terbentang sedemikian luas dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote.

Pada sektor perekonomian dan ketenagakerjaan setali tiga uang terimbas dampak yang sama. Banyak pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang terpaksa gulung tikar karena sepinya pembeli. Usaha kategori besarpun tidak luput dari dampak buruk pandemi tersebut baik sektor industri, perdagangan, maupun  otomotif serta usaha jasa wisata dan perhotelan. Jasa transportasi juga terkena imbas yang sama. Semuanya itu akhirnya bermuara kepada pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pengurangan tenaga kerja yang menambah deret ukur banyaknya pengangguran di Indonesia. Kondisi ini tentu saja akan mengakibatkan dampak turunan berikutnya yaitu kerawanan, ketertiban dan keamanan masyarakat. Urusan kebutuhan lain bisa ditunda namun urusan mempertahankan kehidupan atau urusan makan sehari-hari seringkali menjadi pemicu timbulnya gejolak sosial di masyarakat.  Terdapat segelintir sektor yang tetap bertahan namun hanya mengalami kelambanan adalah industri makanan yang merupakan kebutuhan pokok manusia. Untuk industri di bidang kesehatan dan jasa pengiriman mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebagai imbas dibatasinya mobilisasi manusia.         

Demikian juga di sektor pemerintahan mengalami realokasi dan refocusing yang luar biasa. Budget di sektor pemerintahan dilakukan realokasi untuk mendukung program pencegahan dan penanganan penularan Virus Covid-19 di masyarakat. Dampaknya adalah banyak kegiatan pemerintahan yang harus ditata ulang bahkan dihentikan agendanya. Hal ini tentu saja membawa dampak ke  sektor lain baik transportasi, akomodasi dan jasa pendukung lainnya. Ya, semua berkonsentrasi kepada penanganan dan pencegahan Virus Covid-19.   

Namun demikian lepas dari permasalahan tersebut di atas kita semua sangat prihatin dengan suguhan serial kisah drakula penghisap darah rakyat di sebuah kementerian. Di tengah kondisi pendemi Virus Covid-19 terdapat elite pemerintahan atau Pejabat Negara yang secara kejam memotong paket bantuan sosial kepada masyarakat sehingga konon terkumpul dana milyaran rupiah. Sungguh si pelaku berbuat kejam, tidak ada hati nuran, dan mengkhianati negara dan bangsanya. Pantas kiranya mereka mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Jargon membela rakyat, membela orang kecil dan mensejahterakan masyarakat sungguh sebuah pepesan kosong semata. Jauh panggang dari api.     

Mengambil hikmah dari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, penulis mengajak ayolah sadar dan sadar wahai para penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan. Sumbangkan jiwa, raga dan pikiranmu untuk negeri ini. Jangan sakiti Ibu Pertiwi, jangan engkau nodai Ibu Pertiwi. Sudah terlalu sakit Ibu Pertiwi melahirkan dan merawat bangsa dan negara ini. Jangan injak-injak harga diri bangsa ini dengan perbuatan jahat kalian. Ayo segeralah bertaubat wahai para penyelenggaran negeri. Ayo bangkit dan bekerja keras wahai Saudaraku. Mari kita bergandeng tangan untuk bekerja keras, bekerja tuntas dan bekerja cerdas untuk kemamkmuran segenap komponen bangsa dan negara ini. Jangan sekali-kali menjadi pengkhianat bangsa dan negara ini di tengah penderitaan rakyat. Bangkitlah Negeriku, jayalah Bangsaku. Merdeka…Merdeka….Merdeka

Penulis : Praktisi Audit Manajemen Sumber Daya Aparatur

(Visited 120 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sumardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.