Oleh : Yusriani Nuruse
Kala itu aku sedang menjenguk kakak yang sedang melahirkan di sebuah rumah bersalin, di kota Makassar. Sampai disana setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari kota Kalong ke kota Daeng, aku disambut seorang tetangganya dan ia menyapaku. Menanyakan kabar, kuliahku yang baru saja ku selesaikan, juga tentang seputar kabar pribadiku alias iseng nanya tentang tambatan hatiku. Ia sepertinya sedang mencari sesuatu padaku. Aku tersenyum ramah menanggapi semua pertanyaannya.
Kujawab dengan candaan kalau pacar belum tentu jodoh. Yach… begitulah menurut penilaianku tentang sebuah hubungan. Bukan tanpa alasan. Dari pacar yang tak direstui sampai pacar yang telah nyata meminta ke orang tuaku tidak sampai membawaku duduk bersanding di pelaminan.
Tiba-tiba ia mengajakku untuk menjodohkan dengan adiknya yang setahun lalu menyandang gelar duda dengan 2 orang putri. Ia menceritakan tentang kehidupan adiknya.
Aku hanya menanggapinya dengan polos “kalau jodoh”.
Ia pun meminta nomor ponselku untuk diberikan ke adiknya.
Hari berganti pekan, pekan berganti bulan berlalu begitu saja. Aku sudah melupakan pembicaraan itu, kuanggap hanya angin lalu.
Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah pesan masuk menanyakan kabarku.
Ia bercerita tentang dirinya, dia si adik tetangga.
Cuma itu…
Komunikasi kami tidak intens… berlalu begitu saja.
Hingga suatu hari kakakku menelpon memintaku ke Makassar hari itu juga. Kupenuhi permintaannya. Sesampai disana, aku diminta siap-siap. Aku pikir akan diajak jalan-jalan menikmati angin mamiri dipinggir Pantai Losari , bisikku dalam hati.
Siang berganti malam… saat sedang bersantai di ruang tamu, tiba-tiba tetangga kakak yang dulu menjodohkanku dengan adiknya datang bertamu dengan adiknya yang ternyata baru tiba dari tempat dinasnya di seberang sana.
Kakaknya hanya mengantar adiknya dan meninggalkan kami. Tentu saja aku merasa kikuk… deg-degan dengan pertemuan yang tidak pernah terlintas dipikiranku.
Kuimbangi perasaanku dengan bercerita tentang Negara ini yang mulai carut marut, tentang politik, tentang dahsyatnya bom Mariot yang kala itu baru terjadi. hehehe lucu ya.. bukannya bercerita tentang indahnya cinta….
Sampai akhirnya ia pamit pulang. Tidak ada yang berarti di pertemuan perdana itu. Kuanggap biasa saja dan berlalu begitu saja.
Waktu terus berlalu, dan jarak yang memisahkan serta komunikasi yang tidak intens.Namun dengan statusnya saat itu ku selalu berdoa “Ya Allah jika ia baik untuk Dunia dan Akhiratku, maka satukanlah kami. Kalaupun sebaliknya “Jauhkanlah ia dari hidupku”.
Namun entah bagaimana prosesnya hingga tepat 6 oktober 2009, kami mengucapkan ijab kabul di sebuah masjid di Kota Makassar.
Itulah awal perjalanan cinta kami yang akhirnya dibingkai dengan ikatan pernikahan.
Watansoppeng, 3 September 2021
