Menuju siang ditengah terik, berburu dengan kapal yang telah membunyikan terompet tanda berangkat. Bentor (becak motor) yang kutumpangi tidak menghiraukan petugas Dishub yang berjaga, untuk melakukan pembayaran retribusi masuk ke Pelabuhan.

“Sebentarpi kubayar, buru-buru penumpangku”. Ucap sang driver Bentor, dan terus menarik gas tanpa henti. Jalan berlubang tidak lagi menjadi kendala. Becak Motor itu terus melaju kekiri dan kekanan mencari jalan paling baik untuk dilalui.

Syukurnya saya telah berpegang dengan eratnya jemari, meremas dan menggenggam kuat ujung kursi becak motor tersebut. Barang yang kubawa juga demikian, kugenggam dengan erat.

Arena balapan motor croos, dengan jalan berlubang dan gundukan tanah serta lumpur. Astagahh, lamunanku terhenti karena ternyata ini adalah jalan menuju Pelabuhan Bangsalae Siwa. Bukan seperti lamunanku

Aduhhh lambat 2 menit, ramdor telah terangkat dan petugas yang berjaga mengatakan tidak bisa lagi untuk naik ke kapal. Kuucapkan selamat tinggal dalam hati, sampai ketemu kapal berikutnya.

Saya tidak pernah menyalahkan siapapun itu. Karena ini adalah kecerobohanku terlambat menuju pelabuhan. Sesuai jadwal yang disampaikan Saudara Enhal Rachman Melalui Facebooknya.

Jam 09.00 kapal berangkat dari pelabuhan Siwa-Tobaku. Tapi ternyata tidak demikian jadwalnya, dan khusus di hari Jum’at, lebih cepat berangkat. Pukul 08.30 semua telah tutup, dan kapal siap Berangkat.

Yahh pasrah dan yakin akan selalu ada hikmah dari keterlambatan. Itu pasti dan ternyata benar-benar ada hikmahnya. Pukul 11.00, kapal yang saya tumpangi akhirnya berangkat menuju Pelabuhan Tobaku.

Bahagia dan penuh semangat kulangkahkan kaki menuju tempat merebahkan badan diatas kapal, dan sebentar lagi lantunan suara adzan akan berkumandang ditengah lautan.

Hikmat kami melaksanakan ibadah salat Jum’at di geladak kapal, alhamdulillah Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukazziban (maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan).

Jam tangan yang kukenakan menunjukkan waktu 14.30, pandanganku tertuju dikejauhan lautan. Pikirku itu sampah, dan tepat sekali itu sampah. Astagah perilaku manusia. Gumamku

Bak sebuah lapangan futsal, sampah itu berhimpun saling menghimpit.Lagi-lagi bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Kita hanya pandai bersolek, untuk menjaga lingkungan, namun sejatinya penuh tipu daya.

Katanya sukses meraih Adipura diberbagai tempat namun sejatinya, hanya bagus ditempat tertentu, dan membawa nelangsa di tempat yang lain.

Hidup adalah kesesuaian antara perkataan, tulisan dan perbuatan. Kehormatan itu akan lahir saat ketiga hal ini dihadirkan dalam kehidupan kita sejak dini.

Namun, tidak akan bermartabat manusia saat ketiga hal tersebut bertolak belakang.

Kita selalu menyuarakan tentang pentingnya menjaga kebersihan, pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Berseliweran membincang tema tentang kerusakan lingkungan, tetapi paling pintar hanya dengan kata, namun tidak dengan tindakan.

Lalu kemudian menghadiahkan gelas kemasan dan mie instan sebagai hadiah menuju laut luas, yang disana hidup satwa dan biota laut.

Sungguh malang nasibmu, lautku, teluk boneku

Lalu apa yang perlu kita lakukan?

Hadirkan kesadaran dalam diri tentang pentingnya menjaga lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dilansir dari Condor Ferries. Mengungkapkan bahwa 5,25 triliun sampah plastik di lautan telah membunuh 100 juta hewan setiap tahunnya.

Coba kita bayangkan, sampah botol plastik akan mengalami masa penguraian saat usianya telah mencapai 450 tahun. Kantong plastik 1-20 tahun, kaleng 200 tahun.

Bukan waktu yang singkat. Bisa jadi kita telah menua dan mati, lalu tindakan yang kita lakukan akan kita wariskan kepada anak cucu kita kelak. Sungguh terlalu….!!!

Lalu apa yang perlu kita lakukan?

Kita perlu bahu membahu untuk melakukan upaya pencegahan di masing-masing desa, kecamatan dan kelurahan tempat tinggal kita. Kita perlu kerja bersama, dan yang paling penting untuk TIDAK MEMBUANG SAMPAH dan LIMBAH ke Sungai, Danau, dan LAUT.

Mulai dari DIRI SENDIRI. Sama-sama kita saling mengajak untuk menjaga lingkungan. Yang tua ajak yang muda, yang muda ajak teman dan rekan-rekannya.

Mulai hari ini, jangan sampai karena merasa itu bukan urusan kita. Lalu kita abai untuk tetap membuang sampah di tempat yang kita inginkan.

Ucapan apresiasi bagi rekan-rekan yang terus menyuarakan, dan bergerak bersama menjaga Lingkungan hingga detik ini.

“Jangan pernah berkecil hati kawan, jika kepalan tanganmu masih lemah. Jangan berkecil hati kawan, jika dirimu belum mampu mengubah situasi”.

Kita mulai dari diri sendiri, dari keluarga sendiri. Esok lusa kita akan menyaksikan perubahan itu datang, dan saatnya nanti suara kita akan membahana terdengar.

Kepal tangan kita akan menggetarkan. Percayalah. Diantara orang-orang yang membaca tulisan ini, selalu ada yang mampu mengerti dan memahami, lantas bahu-membahu untuk mengubah situasi menjadi lebih baik.

#AH

(Visited 35 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.