Berbicara mengenai bahasa, maka akan berbicara mengenai salah satu unsur dari kebudayaan. Sebab bahasa merupakan salah satu dari 7 (tujuh) unsur kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut antara lain; bahasa, seni, pengetahuan, peralatan, pekerjaan, organisasi kemasyarakatan, dan kepercayaan.

Penempatan urut-urutan ketujuh unsur kebudayaan tersebut, yang dimulai dengan bahasa pada urutan pertama, bukan tanpa alasan. Akan tetapi, hal tersebut memiliki alasan yang kuat. Oleh karena, dengan bahasa, semua unsur-unsur kebudayaan tersebut didokumentasikan, oleh bahasa, termasuk juga bahasa itu sendiri.

Definisi yang populer dari bahasa; “bahasa adalah alat komunikasi antar manusia yang memahaminya”. Jadi, dengan bahasa yang dipahami, manusia bisa saling berkomunikasi, saling mengetahui siapa dia, siapa saya.

Melalui bahasa pula, semua yang tersimpan dalam pikiran kita, dideskripsikan baik secara lisan maupun tertulis, untuk disampaikan kepada orang lain. Maka, terjadilah saling memahami, di antara lawan bicara (atau antara penulis dan pembaca). Proses saling memahami di antara manusia yang satu dengan yang lainnya ini, dibantu oleh kehadiran bahasa sebagai alat komunikasi. Jadi, melalui penggunaan bahasa, manusia bisa berkomunikasi antar sesamanya.

Pernahkah orang mengembangkan kesenian, dan kemudian mewariskannya kepada generasi berikutnya, tanpa bahasa. Belum pernah kita temukan. Bisa jadi ada orang yang mengatakan; “kita bisa berkesenian (bermain musik), asal ada partiturnya”. Harus dipahami, bahwa kehadiran partitur juga merupakan lambang nada, yang mewakili bahasa.

Kita sering mendengarkan musik instrumental, yaitu musik tanpa vokal. Kita akan menikmati musik tersebut, tetapi belum dapat menikmati isi dan makna musik tersebut, jika tidak disertai suara (vokal) manusia dengan bahasa yang digunakan untuk melantunkan lagu. Kita bisa merasa sedih, merasa gembira, merasa senang, merasa tenang, termotivasi melalui musik. Karena, di dalam musik tersebut disertai vokal penyanyinya. Disertai pula penikmat musik, memahami makna dari bahasa yang dinyanyikan tersebut. Maka, tersampaikanlah pesan yang dibawa di dalam nyanyian tersebut.

Demikian pula, ketika para seniman; seniman tari, seniman patung, seniman lukis dsb., ditanya mengenai karya seninya. Otomatis, mereka akan menjelaskannya dengan bahasa yang dikuasainya. Apalagi dalam dunia seni teater, bahasa memegang peran penting.

Ada sebagian orang berkata: “zaman dulu ada film bisu, tetapi yang menonton bisa memahami film tersebut”. Ya betul! Akan tetapi pemahaman tersebut karena dibantu dengan kehadiran bahasa tubuh (kinesik), yang membantu penyampaian pesan kepada penonton. Ilustrasi musiknya pun, ikut membantu membangun pesan yang disampaikan.

Di dalam lingkup pengetahuan manusia. Tidak sedikit bahasa membantu pengembangannya. Bahasa menjadi alat yang diperlukan, manakala pengetahuan tersebut akan dijelaskan kepada orang lain. Hal yang mustahil, pewarisan atau transfer ilmu tanpa disertai bahasa di dalamnya. Untuk mendokumentasikan penemuan dalam pengetahuan, maka bahasa menjadi media utama. Untuk mengajarkan pengetahuan dengan temuan-temuan baru, maka bahasa diperlukan sebagai media untuk menyampaikan. Jadi dalam pengetahuan pun, bahasa memegang peran penting dalam pengembangan keilmuan.

Di dalam suatu batasan dijelaskan, bahwa manusia adalah mahluk yang berorganisasi. Manusia adalah mahluk yang membutuhkan kehadiran manusia lainnya. Sangat jarang individu, yang tidak membutuhkan kehadiran individu lainnya. Pastilah, kehadiran manusia yang satu membutuhkan kehadiran manusia lainnya sekecil apa pun. Oleh sebab itu dikatakan, bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang berorganisasi.

Organisasi sosial dengan berbagai keperluannya, dikembangkan oleh makhluk yang namanya manusia. Bagaimana agar individu di dalam organisasi tersebut paham akan arah kerja organisasinya. Maka, kehadiran bahasa membantu menjelaskan hal ihwal organisasi tersebut. Dengan bahasa, organisasi sosial tersebut dipahami dan dikembangkan oleh para pendiri dan anggotanya.

Terkait dengan peralatan hidup, baik untuk keperluan pekerjaan, maupun untuk mempertahankan diri. Baik bagi manusia primitif maupun bagi manusia modern, diperlukan kehadirannya. Akan tetapi, peruntukan penggunaan alat-alat tersebut untuk apa? Perlu dijelaskan. Media untuk memberikan penjelasan berbagai fungsi dan manfaat peralatan tersebut, digunakanlah bahasa.

Manusia, dalam kapasitas manusia primitif maupun modern perlu bekerja. Bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Sekecil apa pun ruang gerak manusia, ia adalah mahluk pekerja. Sebab, dalam hari-hari hidupnya, manusia mencari yang dia butuhkan. Tanpa bekerja, apa yang diperlukan tersebut tidak hadir dengan sendirinya. Agenda apa saja yang dia (manusia) butuhkan tersebut, baik implisit maupun eksplisit, pasti dicatat dengan media bahasa. Baik tertulis, maupun lisan. Sebelum bergerak untuk bekerja, di dalam benaknya sudah terlintas apa yang akan dikerjakan, gagasan dan angan-angan mengenai apa yang akan dikerjakan dan untuk apa, akan tersirat maupun tersurat di dalam bahasanya.

Kepercayaan, adalah produk budaya manusia dalam mencari perlindungan kepada Sang Maha Pencipta. Dalam hari-harinya, manusia selain melindungi dirinya dengan peralatan yang diciptakannya, dia pun mencari perlindungan kepada yang dia yakini sebagai Sang Maha Penciptanya. Dia bertanya dan berpikir, kepada siapakah gerangan memohon perlindungan selain kepada manusia lagi. Dialog yang terjadi dalam pikirannya tersebut, otomatis terdeskripsikan di dalam bahasa yang dikuasai dan digunakannya. Dengan bahasalah, manusia berkeluh kesah dan memohon perlindungan kepada Sang Maha Pencipta, baik lisan maupun tertulis dalam berbagai benda. Dia sampaikan permohonan dan doa untuk melindunginya, kepada Sang Maha Pencipta, hal tersebut dengan menggunakan bahasa yang dia kuasai. Baik terucap maupun tak terucap, bahasa menjadi media permohonan dan doa-doa yang disampaikan.

Jadi, bahasa adalah alat yang digunakan manusia, untuk menyampaikan gagasan, mendokumentasikan gagasan, menyampaikan kehendak, menampung jalan pikiran, untuk saling memahami satu dengan lainnya. Maka, terkait dengan berbagai aktivitas manusia yang bersinggungan dengan berbagai unsur kebudayaan. Bahasa merupakan dasar dari kebudayaan tersebut. Bahasa diperlukan sekali kehadirannya oleh manusia. Hal ini terbukti, bagi manusia yang tidak dapat berbicara, maka diciptakan bahasa isyarat untuk agar mereka bisa saling berkomunikasi, baik dalam bentuk bahasa tubuh maupun menciptakan makna dari isyarat di mulut. Pendek kata, manusia akan berusaha menciptakan alat komunikasi untuk saling berhubungan di antara satu dengan yang lainnya. Alat komunikasi tersebut, bisa diciptakan melalui alat-alat ucap manusia, maupun dengan kinesik atau bahasa tubuh. []

(Visited 118 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Bahasa Dasar Suatu Budaya”
  1. Mangga nyerat ngeunaan basa karuhun, Abah Gugun…diantos pisan.
    Matak watir da nasibna penulis Sunda mah. Cerpen teh mung dihonoran saratus rebu. Cobi dibandingkeun sareng Republika 700 rebu. Komo Kompas mah tos 2 juta.

  2. setelah baca artikel “Bahasa Dasar Suatu Budaya”, ada ruang kosong pada pikiran saya yang perlahan terisi. ternyata peran bahasa sangat vital sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan gagasan. Tercerahkan

  3. Assalamualaikum.
    Sangat inspiratif… hanya bhs jadi multi makna…terkait makna dari org yg bicara dan kondisi org yg diajak bicara. Disini muncul pula intonasi yg terkadang bisa positif bisa makna negatif bagi orang yg di ajak bicara…..shg terjadi interaksi simbolik (bahasa) disinilah simbol berdialektika……cinta….benci…ekploitasi dst……berhati hatilah berbahasa….nuhun kang Gungun. Wallohu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: