Oleh: Yusriani Nuruse

Pagi itu, setelah selesai aktivitas ibadah, aku bergegas membersihkan dan memangkas pepohonan di belakang rumah yang kini tumbuh rimbun dan menyentuh tembok dinding rumah.Sudah lama aku tidak beres-beres di samping rumah sejak kepergian suamiku menghadap sang Ilahi Rabbi.
Hari ini, Jumat di mana sudah minggu ke-13 kepergian suamiku, masih dalam edisi libur panjang hari raya Idul fitri. Berdiam di rumah tanpa aktivitas hanya akan membuatku larut dalam kesedihan, maka segala kesibukan kulakoni, sebisa mungkin mengalihkan perasaanku agar tak larut dalam kesedihan.

Selesai pekerjaan pangkas memangkas pepohonan, aku bergegas membersihkan kandang burung merpatiku dan bermain dengannya.
Lalu masuk membuat segelas kopi untuk menghilangkan dahaga yang kurasakan.Aku duduk di ruang tamu menikmatinya sendiri. …Aah lagi-lagi memoriku terkenang akan dirimu. Tak ada lagi suara manjamu setiap kali engkau meminta segelas kopi.
Tak ada lagi ucapan terima kasih yang tulus darimu setiap kusajikan segelas kopi untukmu.

Kuraih ponselku, merangkai kata demi kata untuk mengabadikan rasa yang kualami. Walau dengan jemari bergetar, hati yang berdebar, dan air mata yang mulai membasahi pipi. Masih terlalu sulit melupakan semua tentangmu.

Biarlah rangkaian kata demi kata ini mewakili hatiku menjadi saksi bahwa ada cinta dalam segelas kopi.
Istirahatlah dengan tenang wahai kekasih hatiku,pemilik cintaku, takkan lelah aku mengenangmu,walau saat bersamamu begitu banyak duka yang telah kita lalui bersama, terseret-seret kita melaluinya sampai di ujung hayatmu. Biarlah aku di sini bersama buah hati kita. Tak lelah kami mengirim Alfatihah buatmu, walau rasa sepi kadang menyelimuti hati.

Watansoppeng, 6 Mei 2022

(Visited 80 times, 1 visits today)
One thought on “Cinta Dalam Segelas Kopi”
  1. Yang sabar bunda kita harus mengihlaskan yg telah pergi,karna tuhan lebih menyayanginya ,semoga almarhum di tempatkan di sorganya Allah & husnul khotinah ,dan ingat bahwa secangkir kopi dapat menghangatkan suasana hati yg lagi gunda gulana ,biarkanlah kerinduan berlabuh di dermaga hati yg tulus nan abadi di pesidir perduan cintanya sang pemilik hati yg telah pergi nembawa separuh jiwa bunda,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.