Sampul bukunya sih biasa-biasa saja, kertasnya buram kelabu, murah banget, tidak ada yang istimewa pokoknya. Wajar saja apabila penampakan buku terbitan Pustaka Utama Grafiti tahun 1995 ini sepi peminat.

Tampilan warnanya juga sederhana, sesederhana bukunya, hanya putih, biru gelap dan putih lecek. Bergambarkan jeruji besi, kemudian dibalik jeruji besi ada seseorang pria mengangkat kedua tangannya tanpa mengenakan baju atau kaos tahanan, uniknya digambar itu sang tahanan bukan merengut sedih atau cembetut, tapi tertawa lebar, lepas tanpa beban sama-sekali.

Tapi itu bukanlah penghalang buat menyelami isinya, justru pembaca penasaran dibuatnya. Tak ayal ngakak tingkat dewa.

Menurut katalog dalam terbitan perpustakaan nasional, buku “Surkikur Mudukur dan Plekenyun” ditulis oleh Arwendo Atmowiloto. Tulisan unik ini merupakan hikmah kebijaksanaan dalam rumah tahanan.

Arswendo Atmowiloto lahir tanggal 26 November 1948 di Solo, Jawa Tengah adalah pengarang serba bisa dan sebagian besar karyanya berupa novel.

Isi ceritanya bernada humoris, fantastis, spekulatif, dan suka bersensasi, seperti novel Surkumur, Mudukur, dan Plekenyun (1995).

Surkumur Mudukur dan Plekenyun. Apa itu? Ya, seperti itulah Arswendo Atmowiloto. Dia dapat dengan enak menamakan rekannya di “dalam” dengan sebutan “surkumur Mudukur” dan menyebut orang-orang non-tahanan sebagai “Plekenyun”.

Buku yang berjudul agak nyleneh ini lahir atas dasar hikmah kebijaksanaan dalam penjara alias rumah tahanan/Lembaga Pemasyarakatan.

Sebuah cerita pengalaman dibalik penjara yang justru “menggelitik”. mengambil perspektif dari sisi humanis kaum “terbuang” yang memperlihatkan bahwa mereka juga sama seperti kita semua, manusia yang pernah dan akan selalu melakukan kesalahan.

Ini bukan rahasia karena dalam upacara bendera diumumkan secara terbuka. Hanya dari selembar kertas ucapan terima kasih banyak nasib bisa berubah

Dibalik ceritanya yang menggelitik, buku Surkumur Mudukur dan Plekenyun menyuratkan hikmah penuh makna dibalik penulisannya, semisal persamaan nasib membuat kita setia satu sama lain.

Hikmah lain menuliskan, Kebebasan pun mengenal liburan, dan hanya narapidana yang merasakannya. Atau Sesama orang buta bisa saling tolong menolong. Dalam menertawakan kebutaan mereka.

Kesulitan mencari sahabat tingkatannya lebih berat dari pada Kesulitan mencari pekerjaan. Pekerjaan bisa datang dari persahabatan, tapi persahabatan belum tentu bisa datang dari pekerjaan.

Hormatilah profesi jaksa dan Hakim. Tidak semua orang bisa melaksanakan tugas untuk menjaksai dan menghakimi orang lain.

Dan dalam menyimpan uang usus perut lebih jujur, yang disimpan sebesar yang dikeluarkan, tak ada potongan komisi atau administrasi.

(Visited 226 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.