Sebongkah kayu berwarna merah dibawakan oleh anggota keluarga yang baru datang dari kampung. Kayu merah itu bukan sembarang kayu. Kayu merah atau dalam bahasa Bugis disebut Seppang (aju seppang), sementara di Makassar, meski jarang ditemukan dijual di pasar tradisional, disebut Sappang. Di Jawa disebut kayu Secang atau Soja Jawa. Kayu Seppang ini memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Kayu yang berwarna merah ini memiliki nama ilmiah Caesalpinia Sappan merupakan tanaman liar jenis polong-polongan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama bagian kulit kayu dan kayunya.

Teringat sekian dekade yang lalu di kampung, kayu merah ini hampir ada di semua rumah tangga. Sepertinya tidak afdal air minum dalam cerek atau teko jika tidak diberi warna merah dari kayu seppang ini. Air minum tanpa warna nampak terlalu biasa dan kurang menarik selera. Biasanya ibu ibu yang memasak air, akan memasukkan satu atau dua serpihan kayu seppang ke dalam air yang baru mendidih. Secara perlahan, warna merah akan keluar dari kayu dan memerahkan air dalam periuk. Warnanya tidak selalu merah, kadang pink (merah muda) kadang merah tua, sering pula agak kecoklatan bisa juga warna kekuning-kuningan sampai oranye atau jingga. Di kampung puluhan tahun silam, belum ada air leden (PDAM), air mineral kemasan, atau air galon. Yang ada hanya air dari sumur yang dimasak untuk dijadikan air minum.
Di kampung, saking terbiasanya orang meminum air seppang ini, terkadang serasa ada yang berbeda saat meminum air yang warnanya bening. Air minum hasil rebusan kayu seppang ini sama sekali tidak berasa. Artinya ada atau tidak ada kayu seppangnya, warna bening atau merah, rasanya di lidah sama saja. Seppang ini benar benar hanya “bertugas” mewarnai air minum, tidak memberinya rasa yang berbeda. Kalau di Yogyakarta biasanya dihidangkan di warung, air secang yang dicampur dengan cengkeh, serai, jahe dan rempah lainnya. Kalau di kampung dulu, air seppang ini juga kadang dihidangkan untuk tamu, selain kopi atau teh.

Sekarang ini, jarang lagi melihat orang menggunakan serpihan kayu seppang untuk campuran air minum sehari hari. Bahkan di kampung pun orang orang sudah mengenal air minum galon isi ulang. Meskipun sebenarnya tidak pernah yakin akan kebersihan air galon isi ulang tersebut, karena sedangkan pada air galon yang bermerek terkenal pun pernah ditemukan semacam bakteri, apalagi yang produksi lokal yang berbagai macam merek.
Apa saja khasiat air rebusan kayu seppang ? Ternyata cukup banyak. Menurut dr. Rizal Fadli dari laman web halodoc.com khasiat kayu seppang antara lain:
- Mengatasi Peradangan pada Tubuh
- Membunuh Bakteri Penyebab Penyakit
- Membunuh Bakteri Penyebab Jerawat
- Menekan Pertumbuhan Sel Kanker
- Meringankan Gejala Diare
- Mencegah Kerusakan Sel dalam Tubuh
- Mengontrol Gula Darah dalam Tubuh
Mau mencoba Resep Wedang Secang dirumah. Ini dia resepnya yang ditulis oleh Yuharrani Aisyah pada laman kompas.com/food, sebagai berikut :
– 5 liter air
– 50 gram secang
– 40 gram jahe
– 1/4 kilogram gula pasir
– 2 batang serai
– Daun pandan
– 20-30 gram kapulaga
– 50 gram kayu manis
Cara membuat :
- Bersihkan jahe, bisa dimemarkan juga.
- Rebus air hingga mendidih. Masukkan semua bahan, kecilkan api. Rebus sampai 45 menit. Jangan rebus lebih dari 45 menit karena kandungan nutrisi rempah bisa hilang.
- Dinginkan. Bisa disaring ke dalam botol. Sebaiknya minum wedang secang setelah selesai dibuat dalam keadaan hangat. Kalau masih sisa, wedang secang bisa tahan selama 5 hari di dalam kulkas. Kalau mau diminum, bisa dipanaskan dulu. (sumber: https://www.kompas.com/food/read/2020/10/15/151000475/resep-wedang-secang-minuman-rempah-pengusir-dingin)

Kembali ke kayu seppang yang dari kampung, kini, setiap hari kami dirumah minum air seppang. Kalau ke kantor, saya mengisi tumbler saya dengan air seppang. Di rumah, bongkahan kayu seppangnya cukup besar dan cukup dipakai sampai lebih setahun kata anggota keluarga yang membawakan kayu seppang tersebut.


Suka minum ini ada disajikan di kafe di Depok. Apakah sama dg kayu baja Kalimantan?
Mungkin sama Bunda Pipiet. Tapi kalau saya liat di Yogya, kayunya diiris tipis sekali. kalau di Sulawesi, potongannya seperti batangan korek api, dimasukkan ke air mendidih 1 atau 2 potong. Kalau yg di Kalimantan kalau tidak salah ada nama kayu Bajakah yang terkenal sebagai obat.
Era 80-an sy sering minum di rmh nenek, kini sy tak pernah temukan lagi