kkn

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) biasanya dilaksanakan saat mahasiswa perguruan tinggi memasuki semester akhir. Pelaksanaannya selama dua bulan di desa desa yang ada di dalam provinsi. Tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan para mahasiswa memasuki dunia kerja dan pengabdian kepada masyarakat. Sampai tahun 1990-an, pelaksanaan KKN selalu di desa desa atau di pulau pulau terpencil, yang jauh dari kota, tetapi sekarang ini pelaksanaannya bisa di dalam kota dan disebut dengan KKNP (Kuliah Kerja Nyata Profesi). Bahkan, ada program KKN antar provinsi dan antar negara.

Bersama Kepala Desa Belawae

Saya melaksanakan program KKN pada tahun 1990an. Waktu itu saya dan 9 mahasiswa lainnya dari berbagai fakultas dari Universitas Hasanuddin ditempatkan di desa Belawae, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasinya sangat jauh dan terpencil. Jarak dari jalan provinsi sekitar 15 Km, dan pada kilometer 10 ada sungai besar yang harus diseberangi karena tidak ada jembatan. Setelah menyeberangi sungai, lalu berjalan kaki sekitar 5 km ke pusat desa. Kalau kantor desa dan lapangan sepak bola, hanya sekitar 1 km dari sungai. Kalau terjadi hujan deras, dan air sungai meluap, masyarakat tidak bisa ke kota. Penduduk harus menunggu sampai banjir di sungai surut dan bisa diseberangi. Saat mengajar di sekolah, terkadang siswa yang saya ajar hanya 4 atau 5 orang saja yang hadir karena siswa lainnya tinggal di seberang sungai. Mereka tidak bisa menyeberang.

Sungai ini juga ternyata adalah tempat mandi dan mencuci pakaian bagi penduduk desa. Air sungainya jernih, karena desa tersebut adalah perkampungan yang pertama yang dilalui oleh sungai, kata salah seorang penduduk. Sebagian penduduk memiliki sumur, namun di pagi hari sebagian besar ke sungai untuk mandi Kalau mandi di sumur, perlu menimba air lagi, sedangkan di sungai, kita langsung bisa nyebur. Kami juga akhirnya mandi setiap pagi dan sore di sungai itu. Sebagian teman KKN awalnya agak risih mandi disungai, dan dilihat oleh banyak orang, namun akhirnya menikmati juga. Kalau saya, sejak kecil sering mandi di sungai di belakang rumahku di Bone. …

Menyeberangi sungai ketika berkegiatan di desa Belawae

Jalanan desa masih belum beraspal, dan tidak ada kendaraan yang lewat. Hanya sekali kali ada motor sejenis motor trail yang mampu menyeberangi sungai. Kemana-mana, penduduk hanya jalan kaki atau naik kuda. Padahal desa tersebut berbukit bukit, yang cukup melelahkan ketika berjalan dari rumah penduduk ke tempat lainnya.

Saya masih ingat teman teman KKN perempuan menangis saat tiba di lokasi, pada malam hari dengan jalanan yang berlumpur karena habis hujan. Kota terdekat dari desa ini adalah kota kecil Buriko dan Siwa yang merupakan bagian wilayah administratif Kabupaten Wajo. Desa Belawae belum dialiri listrik, hanya menggunakan mesin genset, itupun dinyalakan hanya pada malam hari saja. Siaran TV hanya menangkap TVRI Nasional Jakarta, karena ada bantuan antenna Parabola dari pemerintah. Tidak ada siaran TV dari Makasar. Juga belum ada siaran TV swasta waktu itu.

Minggu pertama kami tiba, kami di tempatkan di rumah 2 orang pamong desa, satu rumah untuk peserta laki laki, dan satu rumah lagi untuk peserta perempuan. Ada kejadian yang tak terlupakan bagi kami, saat awal awal  kedatangan kami, dan baru mencoba mengenali lokasi. Pada suatu hari semua teman KKN perempuan kena diare. Entah dari mana asal penyebabnya. Bisa dibayangkan, saat di rumah hanya 1 toilet, sementara 5 orang harus bergantian ke toilet dalam waktu yang hampir bersamaan. Untungnya waktu itu ada seorang teman KKN kami yang mahasiswa kedokteran, yang juga membawa sejumlah obat obatan.

Di desa tersebut banyak pohon cengkeh dan durian. Saya ingat saat malam hari, kami membantu tuan rumah untuk mengolah cengkeh yang telah dipetik. Di dalam rumah ada berkarung karung cengkeh. Yang baru dipetik biasa masih ada tangkai dan juga daunnya. Daun dan tangkai cengkeh ini yang harus dipisahkan dari buah (atau bunga?) cengkeh. Setelah bersih, maka cengkeh kemudian dijemur didepan rumah. Aroma khas cengkeh bisa tercium dimana mana dalam desa tersebut karena banyaknya penduduk yang menjemur cengkeh.

Beberapa program kerja yang kami laksanakan adalah penyuluhan hukum dan penyuluhan pertanian, program perbaikan sarana desa, peningkatan gizi masyarakat, sunatan massal, pengajaran di sekolah SMP, karena pada waktu itu di desa tersebut belum ada sekolah setingkat SMA. Saya sendiri membantu pengajaran Bahasa Inggris untuk murid SMP. Teman teman mahasiswi mengajarkan ibu ibu membuat bunga kering dari barang bekas: plastik kresek, kertas, kayu dan lain lain.

Mengajar Bahasa Inggris di SMP

Ketika diadakan pertemuan semua peserta KKN yang ditempatkan di Sidrap, desaku terpilih sebagai tempat pelaksanaan. Namun sampai hari pelaksanaan pertemuan, hanya sedikit saja yang datang, karena jauhnya lokasi. Kami kecewa, dan aparat desa serta masyarakat juga kecewa karena sudah mempersiapkan kedatangan para ratusan peserta KKN se-kabupaten Sidrap, namun yang datang hanya beberapa orang.

Setelah dua bulan berlalu, tibalah saatnya kami kembali pulang ke Makassar, melanjutkan kuliah dan selanjutnya menyusun skripsi.  Malam terakhir di lokasi KKN, diadakan malam perpisahan dengan penduduk dan pamong desa.  Suasana haru kami rasakan. Keesoka paginya mobil bus yang akan mengantar kami ke Sidrap lalu ke Makassar menunggu di seberang sungai. Ternyata, penduduk desa telah menyiapkan oleh-oleh untuk kami peserta KKN, masing masing kami diberi satu karung beras dan satu tandan pisang. Sebagian penduduk desa berurai air mata mengantar kami dan menunggui sampai bus berangkat. Teman perempuan juga diliputi rasa haru dan menangis, meskipun pada awal kedatangannya mereka juga menangis kecewa karena diberi lokasi KKN yang terjauh.

Entah bagaimana keadaan desa tersebut sekarang setelah puluhan tahun berlalu. Saya dengar dari teman Facebook yang punya kenalan di desa tersebut, katanya, kecamatannya sudah di mekarkan. Bukan lagi Dua Pitue. Desa Belawae sekarang mungkin sudah ada jembatan, mungkin jalannya sudah bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Mungkin juga sudah ada pasar di desa tersebut, sehingga penduduk tidak perlu lagi ke Buriko atau Siwa untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Semoga.

tt
(Visited 38 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: