Mengapa harus berdamai dengan diri sendiri? Sebab dia adalah musuh terhebat manusia sepanjang hidup. Sangat sulit untuk dikalahkan. Seseorang yang belum selesai berurusan dengan dirinya sendiri, pastinya sulit untuk bisa peduli dan memberi manfaat untuk orang lain.

Tidak percaya? Banyak yang tidak menyadari bahwa konflik batin adalah permasalahan vital yang sering terabaikan. Sejauh mana diri kita bisa menerima diri sendiri, sejauh itulah kita bisa berdamai dengan kenyataan.

Berbahagialah mereka yang telah bisa berdamai dengan dirinya sendiri, hingga tidak akan kesulitan berdamai dengan sesamanya

Berdamailah mereka yang bisa memeluk dan mendekap dirinya sendiri, karena pasti bisa memeluk kemanusiaan dan mendekap kehidupan.

Berbahagialah mereka yang telah bisa menerima kenyataan, karena mereka akan mampu melihat segala perbedaan menjadi irama yang melagukan simponi kedamaian.

Hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah berdiri di depan cermin, lalu meminta maaf pada diri sendiri. Meminta maaf untuk segala keputusan yang sempat salah di masa lalu, saat berulang kali memarahi diri sendiri bahkan selalu saja kecewa pada diri sendiri.

Saatnya kita berdamai dengan diri sendiri tentang manisnya harapan yang harus menyesuaikan kemungkinan pahitnya kenyataan.

(Visited 128 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.