Oleh: Burhanuddin Tandi
Dua kata ini bagaikan dua mata koin yang tak pernah dipisahkan. Kedengarannya terlalu sederhana. Namun, maknanya sangat kompleks.
Fenomena yang berkembang di masyarakat adalah berlomba-lomba untuk menang. Berlomba-lomba Ingin menjadi yang terbaik dari yang baik, dan untuk menjadi posisi terbaik itulah banyak orang menghalalkan segala cara untuk mencapainya.
Mengapa demikian? Semua kembali pada karakter kita. Semua kembali pada kebiasaan kita. Kadang kita dengan kalimat “siap menang siap pula kalah”. Namun, itu hanya sekedar kalimat saja, tapi pada kenyataannya tak banyak yang mampu mengaplikasikannya. Banyak orang dididik menjadi petarung dan pekerja keras agar mencapai titik menang. Namun, terkadang kita lupa untuk menyelipkan pula pendidikan bagaimana menyikapi jika kita tidak mampu mencapai titik menang tersebut.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan anak kita. Bimbinglah mereka sejak dini agar menjadi pemenang sejati. Ajarkan anak sejak dini bahwa kita semua memiliki hak yang sama untuk menang. Silakan bertarung menjadi pemenang tanpa mengganggu hak orang lain untuk menjadi pemenang. Siapkan diri anak sejak dini untuk selalu bersabar dan legowo. Sehingga jika tidak mencapai titik menang, mereka mampu mampu menyikapi ketidakmenangannya tersebut secara bijak.
Biasakan anak anda untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri. Berkompetisi untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Hari ini berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin. Menyiapkan hari esok lebih baik dari hari ini. Jangan lupa pula mengajarkan untuk selalu berterima kasih, bahwa dalam perjalanannya untuk mencapai titik menang ada banyak campur tangan pihak lain. Paling penting biasakan berterima kasih kepada Tuhan, karena tanpa kuasa-Nya kita tidak bisa sampai ke posisi tersebut.
Kenali potensi anak. Bimbinglah mereka sehingga kelak mereka menjadi petarung yang berkarakter positif.
Watansoppeng, 27 Agustus 2022
