Oleh: Syamsuriadi S.

Di hamparan lembah tanah merah terdapat sebuah gedung yang sederhana. Jika dilihat sepintas dari kejauhan, terlihat seperti gedung biasa. Akan tetapi, yang sebenarnya gedung tersebut adalah gedung sekolah nampak warnanya mulai memudar seiring bergulirnya waktu.

Di pojok sekolah, di bawah sebatang pohon yang rindang, kududuk sejenak untuk melepaskan lelahku. Perjalanan dari rumah menghabiskan waktu sekitar 45 menit, menelusuri jalan bebatuan dan sedikit berlumpur tanah merah karena tingginya curah hujan, apalagi semalam hujan lebat.

Di bawah rindangnya pohon tempatku melepas lelah, kumenatap wajah-wajah lugu dan lucu anak-anak bangsa yang butuh perhatian, bimbingan, dan pembinaan karakter. Namun, yang terpenting bagaimana aku bisa memanusiakan mereka agar mampu menjemput masa depan yang cerah seperti anak-anak yang ada di kota.

Hal itulah yang menjadi sebuah keinginan yang tulus dari dalam hati sanubariku yang paling dalam. Namun, realitanya masih jauh dari harapan. Akses jalan, fasilitas, dan informasi masih sangat terbatas. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku berkomitmen bahwa di lembah tanah merah ini akan kuabdikan diriku untuk mengangkat semua dari keterbelakangan, terutama bidang pendidikan yang dihempas oleh keadaan.

Untuk semua itu, aku berusaha sekuat tenaga. Segenap jiwa ragaku akan berbuat yang terbaik untuk mengejar keterbelakangan, tentu dengan jalan membangun kolaborasi dengan sesama teman guru, orang tua siswa, dan tokoh-tokoh masyarakat untuk memberi kekuatan moril agar dapat mencapai tujuan yang ingin aku capai, yang selama ini menjadi kegelisahan dalam hatiku.

Anak anak bangsa yang ada di lembah tanah merah ini harus bisa menjadi yang terbaik untuk masa depannya, walaupun kami berada di pelosok negeri. Jauh dan sulit dari akses jalan menuju kota menjadi sebuah kegelisahan yang selalu kurasakan.

Kala itu, aku bercanda ria dengan anak-anakku dilembah tanah merah tersebut. Sering ku berucap pada mereka, “Nak, lihat gunung-gunung yang menegelilingi kita sekarang ini, mulai tandus dan gersang, akibat sebuah eksplorasi. Namun, semoga nanti akan ada nilai tambah bagi kita dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Akan ada yang datang untuk mengolahnya dan akan membuahkan hasil. Semoga dapat kita nikmati bersama. Hari ini, jangan kita melihat kondisi tandus dan gersangnya tempat kita, tetapi lihatlah nilainya. Begitu pun kalian, anak-anakku yang saat ini berada di lembah tanah merah dikelilingi gunung, kondisi jalan yang berbatu ini, akses informasi yang masih terbatas. Kobarkanlah semangatmu untuk belajar agar nanti menjadi anak-anak bangsa yang bernilai. Meskipun kita jauh di pelosok negeri, orang akan mencari kita karena kita bernilai di mata mereka.”

Sejalan dengan bergulirnya waktu, mulailah aku merasakan sedikit ketenangan jiwa yang hampir rapuh di tengah perjalanan bebatuan dan lumpur tanah merah yang setiap hari kulalui. Ada semangat, ketulusan, dan keyakinan bahwa lembah tanah merah ini akan menjadi lentera untuk anak-anak bangsa.

Kegelisahan yang selama ini kurasakan pelan-pelan mulai menghilang sedikit demi sedikit. Kulihat anak-anak bangsa di lembah tanah merah ini mulai ada perubahan. Hal itu bisa terwujud atas kolaborasi yang utuh dari kami semua. Untuk pahlawan tanpa tanda jasa, jangan berkecil hati. Terus berinovasi, kerja dan kerja tulus hari kita ini akan kita tuai di hari esok, menjadi lentera yang terang untuk anak anak kita di lembah tanah merah.

Aku kagum melihat kerja-kerja keras kita selama ini. Berkolaborasi bersama semua elmen yang ada, meskipun dalam keterbatasan. Namun, hal itu tidak membuat kita menyerah dengan keterbatasan ini, justru memacu kita untuk membuktikan bahwa kita bisa mengangkat harkat dan martabat pendidikan anak-anak bangsa di lembah tanah merah. Biarkanlah waktu yang menjawab semua kondisi kita dari derita dan jeritan yang kita rasakan bersama.

Semoga goresan pena ini menjadi penaut dan penguat rasa kita bahwa betapa aku butuh kolaborasimu. Goresan pena pertama ini kudedikasikan atas kerja-kerja keras kita bersama, menjadikan anak-anak bangsa yang ada di lembah tanah merah bisa menjadi manusia yang seutuhnya karena sentuhan kita bersama. Jadilah lentera yang tak akan redup oleh perkembangan zaman.

Terima kasih untuk semua.
Dari Syamsuriadi S. dari lembah tanah merah Mosiku.

(Visited 453 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Lentera di Lembah Tanah Merah Mosiku”
  1. Sungguh luar biasa. Semangat dan terus berjuang demi mengangkat harkat dan martabat anak-anak bangsa yang ada di lembah tanah merah mosiku untuk menjadi lentera yang tak akan redup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.