Oleh : Elvira Pereira Ximenes
Menulis adalah mengungkapkan dan menyampaikan aspirasi, pikiran, gagasan, opini, pandangan bahkan curahan hati seseorang yang dirangkai menjadi kalimat. Dalam dunia pendidikan menulis merupakan santapan sehari-hari. Namun, bagi orang luar menulis adalah suatu aktivitas yang menyenangkan tapi bisa jadi suatu pelarian yang berujung pada kesuksesan.
Ada kalanya seseorang terinspirasi oleh sesuatu hal yang memotivasi dirinya sehingga timbul niat untuk memulai suatu karya tulis yang berawal dari memulai mengisi buku diary, membuat puisi, dan bahkan mengarang lagu. Terbukti pada zaman dahulu kala ada orang yang mengekspresikan gagasannya pada batu nisan hingga menjadi prasasti yang masih tersimpan manis sebagai suatu dokumen.
Tujuan menulis tidak sekedar merangkai kata-kata tapi menjadi media komunikasi antara penulis dan pembaca sehingga menulis memiliki tujuan berupa menyampaikan informasi, mendidik, mengajak, membujuk, bahkan menghibur pembaca tergantung konteksnya. Namun, tidak membatasi ruang dan waktu, bisa kapan dan di mana saja asalkan ada kemauan.
Mengingat kata-kata mutiara yang disampaikan oleh sang inspirator kita Bang RIM berbunyi: “Jika ingin memutar waktu ke belakang, maka menulislah. Jika ingin waktu berjalan ke depan lebih cepat, maka menulislah. Jika ingin hidup selamanya maka menulislah. Sesungguhnya satu-satunya yang mampu mendaur ulang waktu hanya penulis”.
Kata-kata di atas menyadarkan kita sebagai generasi penerus bangsa dan gereja untuk memulai menulis dalam bentuk apa pun. Gunakanlah waktu disisa hidup yang masih diperkenankan oleh sang pencipta untuk mengekspresikan isi hati kita melalui tulisan dalam bentuk apa pun sebagai simbol ucapan syukur kepada-NYA. Selain itu sebagai dokumen penting yang menjadi cenderamata di kemudian hari bagi generasi selanjutnya. Sebagai bukti bahwa kita pernah lahir dan hadir di dunia tapi tidak sia-siakan waktu.
