Oleh: Sabrie Mustamin

Hidup dan kehidupan terbingkai dalam tiga dimensi waktu, masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Albert Einstein dalam kata bijaknya mengatakan, “Belajar dari masa lalu, untuk hidup hari ini, dan berharap masa depan penuh keindahan.”

Apa yang disampaikan para orang bijak pemikir kehidupan selalu menarik untuk dimaknai dan direnungkan dalam proses pembelajaran diri menjadi manusia bijak. Diantaranya menurut Samuel Pisar, “Kita mungkin tidak hidup di masa lalu, tapi masa lalu hidup di dalam diri kita.”

Betapa kenangan indah masa lalu laksana benih bunga yang terus bertumbuh membiaskan harum semerbaknya di lahan jiwa. Satu diantaranya yang tak terlupakan untuk dikenang adalah kebersamaan dengan komunitas Bengkel Narasi di salah satu objek wisata Danau Biru di Kabupaten Kolaka Utara.

Kenangan itu terlintas kembali sesaat setelah selesai shalat subuh Sabtu 31 Desember 2022 yang sebentar lagi kita tinggal. Seperti biasanya setiap selesai shalat Subuh selalu memeriksa pesan masuk di ponsel untuk mengantisipasi kalau ada pesan urgen yang harus ditindak lanjuti.

Sesekali membuka dokumen album foto yang banyak menyimpan kenangan. Saat itulah melihat gaya dan aksi sebagian dari panitia seminar nasional bertema, “Menjadi Guru Tangguh di Tengah Serbuan Imperialisme Digital” yang sedang menghilangkan kepenatan setelah sukses menggelar acara itu 25 Mei 2022 lalu.

Kebersamaan panitia seminar yang berselimutkan kekeluargaan itu menurut istilah Bang RIM yang ikut larut dalam suasana indah itu adalah, “Senam jiwa” sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Swt.

Sungguh kehadiran sang inspirator pendiri rumah jiwa Bengkel Narasi di tengah-tengah keluarga besar Bengkel Narasi Kolaka Utara ini, telah memberikan keindahan, kedamaian, keteduhan, kesejukan, kebahagiaan, dan semangat literasi yang tak terlupakan sepanjang hidup.

Masih teringat jelas di saat beliau memberikan sepatah kata yang sangat menggugah hati, hingga mata yang berkaca-kaca tidak sadar meneteskan air mata kebahagiaan dikelilingi sahabat rasa saudara.

Bang RIM menggunakan bahasa air mata memeluk jiwa kami. Setiap tetesan air matanya adalah pupuk yang menyuburkan bunga-bunga literasi di lahan jiwa kami yang kian bermekaran. Itulah air mata seorang pejuang tangguh yang ingin melihat gerakan literasi membumi di Bumi Patampanua.

Mewakili seluruh keluarga besar Bengkel Narasi Kolaka Utara, dari lubuk hati terdalam, dihaturkan terima kasih tanpa batas kepada Bang RIM yang selalu hadir membersemai jiwa kami. Dengan kebersamaannya, banyak kenangan indah terlukis di sepanjang tahun 2022. Semoga tahun 2023 lebih jaya Bengkel Narasi.

*Penggerak literasi menulis di Kolaka Utara

(Visited 51 times, 1 visits today)
One thought on “Kenangan Indah 2022”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.