Kerajaan Bone sebelum datangnya Islam, pernah diperintah oleh seorang raja yang sangat dibenci oleh rakyatnya sendiri. Sang Raja bernama La Inca Tolawa (ada juga sumber menyebutnya “La Iccang”) adalah raja Bone ke-8 (1585-1596), menggantikan saudaranya sendiri Latenrirawe BongkangE MatinroE ri Gucinna, Raja Bone ke-7(1560-1585) yang telah mangkat.
La Inca Tolawa ini memerintah dengan tangan besi, penuh kesewenang-wenangan. Dia bisa mengambil perempuan yang disukainya, tanpa peduli status perempuan tersebut. Dia juga memerintahkan pembunuhan terhadap banyak pembesar Kerajaan Bone; misalnya: Arung Paccing, Arung Awampone, Maddanreng Palakka. Bahkan banyak pula yang dibunuhnya lewat tangannya sendiri. Pemerintahannya kacau balau.
Suatu hari sang raja mengamuk dan membakar rumah rumah yang ada dalam kompleks Istana (Lalebbata) Kerajaan di Watampone. Rakyat kemudian bersatu melaporkan perilaku sang raja kepada Arung Majang bernama Latenrigora, salah satu bangsawan tinggi dikerajaan waktu itu yang juga kakek dari sang Raja. Setelah berunding Arung Majang pun mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan kepada La Inca Tolawa, namun naas, sang pembawa pesan pun dibunuhnya.
Akhirnya bersama rakyat Watampone, Arung Majang menyerang sang Raja dengan menggunakan kayu bercabang sebagai senjata, karena darah sang raja tidak boleh tumpah membasahi tanah Bone. La Inca yang kelelahan sendirian melawan banyak orang akhirnya mundur, ketika ditangga Istana, Arung Majang pun membunuhnya, sehingga sang raja digelari MatinroE ri Addenenna (yang wafat di tangga (istananya) ). Dibuku lain disebutkan, bahwa La Inca ini bukan mati terbunuh, tapi karena kelelahan setelah mengamuk sekian lama. (diolah dari beberapa sumber).
Sumber gambar illustrasi : foto raja raja Bone yang di Pamerkan pada Stand Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bone, pada “Pekan Perpustakaan Sulawesi Selatan” di halaman kantor Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan.

