Oleh: Ruslan Ismail Mage*

Hidup di negeri paradoks memang harus terbiasa menelan ludah dan mengusap dada. Memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, tetapi kemiskinan tetap merajalela di tengah rakyat. Berlabel negara agraris dengan lahan pertanian yang luas dan subur, tetapi gemar mengimpor beras. Terdapat lahan sawit terluas, tetapi minyak goreng mahal dan langka. Kaya regulasi tetapi miskin integritas dan moralitas pengelola negara. Salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, tetapi yang makmur dan sejahtera hanya oligarki plus segelintir buzzer. Mayoritas penduduk Islam tetapi penghina agama dan tukang adu domba berkembang.

Rakyat patuh bayar listrik tepat waktu, tetapi PLN berutang Rp 500 triliun. Rakyat selalu mematuhi kenaikan harga BBM, tetapi pertamina berutang Rp 600 triliun. Rakyat tidak pernah berutang beli gas untuk memasak, tetapi PGN rugi Rp 3,8 triliun. Langganan air bayar tepat waktu, tetapi PDAM rugi Rp 25,8 miliar. Rakyat setengah mati memperjuangkan sebidang tanahnya, tetapi BPN obral ratusan ribu hektar kepada oligarki.

Lalu bagaimana dengan dunia pendidikan? Mungkin ada sependapat dan tidak sependapat jawabannya 11-12. Produk sistem pendidikan masih tertinggal jauh dari negara lain, padahal kurikulum pendidikan selalu mencari terbaik sesuai perkembangan zaman. Bahkan kalau ada penghargaan Guinness Book of World Records untuk kategori negara terbanyak mengganti kurikulum pendidikannya, bisa jadi negeri ini masuk nominasi utama. Betapa tidak, pascareformasi saja sudah empat kali ganti kurikulum. Kalau dihitung sejak bangsa ini merdeka, sudah ada 10 kali ganti kurikulum.

Kalau kegemaran ganti kurikulum pendidikan ini dianalogikan dengan pondasi bangunan rumah batu, maka di tengah proses pengerjaannya sudah 10 kali ganti pondasi. Lalu kapan rumah pendidikan negeri ini bisa berdiri kokoh sekokoh jiwa-jiwa pendiri bangsa ini? Miris sekali, kontraktor ganti, mandor ganti, pondasi ganti, keuntungan bagi-bagi, bangsaku makmur.

Membaca headline koran Sindo beberapa waktu lalu yang mengabarkan “Dunia pendidikan tidak baik-baik saja”, sungguh membuat hati dan jiwa ini miris. Saya merenung membisu membaca berita tewasnya MR (11), siswa SD asal Banyuwangi yang gantung diri lantaran diduga kerap mengalami perundungan atau bullying dari teman-temannya di sekolah karena anak yatim. Bapaknya meninggal setahun yang lalu.

Selain bullying, narasi antar siswa yang tumbuh mekar di lingkungan sekolah, juga kekerasan fisik menimpah lingkungan sekolah. Ada beberapa aksi kekerasan siswa kepada gurunya yang sempat viral di media sosial. Pertama, sejumlah murid laki-laki SMK swasta di Kendal menyerang gurunya paruh baya dengan mendorong dan menendangnya bertubi-tubi. Kedua, seorang guru kesenian di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura, Jawa Timur meninggal dunia akibat dianiaya oleh siswanya karena tidak terima ditegur dan dimarahi tidak mengerjakan tugas seni lukisnya. Ketiga, guru perempuan di Kalimantan Barat benjol kening hingga pusing trauma mendalam dipukul kursi oleh muridnya karena tidak naik kelas. Keempat, guru Madrasah Darussalam, Kecamatan Pontianak Timur, dipukul siswanya pakai kursi karena tidak terima ditegur saat menggunakan smartphone bermain game di tengah pelajaran berlangsung.

Kekerasan yang dialami guru bukan hanya dilakukan siswanya, tetapi juga dilakukan oleh orang tua siswa. Sebuah video viral memperlihatkan rambut seorang guru salah satu SD Negeri di Gorontalo dipotong asal-asalan orang tua siswa, karena tidak terima guru tersebut mendisiplinkan muridnya dengan memotong rambut anaknya. Serupa tidak sama terjadi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Seorang ibu guru diserang orang tua siswa ketika sedang mengajar di kelas karena dianggap tidak adil dalam melerai perkelahian anaknya di sekolah yang sudah berdamai.

Dari beberapa data dan fakta kekerasan yang di alami guru pada saat mendisiplinkan siswanya, ini mengisyaratkan bahwa sistem pendidikan Indonesia yang teori dan visi misinya selangit telah gagal membentuk hati murid. Di balik orientasi sistem pendidikan Indonesia yang melangit, teori-teori pendidikan yang canggih, terlebih di era digital ini, ternyata ada sesuatu yang kosong dan hampa dalam diri anak-anak. Ada yang hilang, yaitu hilangnya keberkahan ilmu.

Pada era tahun 60-an, 70-an, sampai awal 80-an, sistem pendidikan tidak secanggih sekarang, model pembelajaran tidak sehebat sekarang, begitu pula teori pendidikan biasa-biasa saja, tapi bisa melahirkan generasi petarung masa depan yang berdiri kokoh menantang gelombang kehidupan. Sukses di bidangnya masing-masing.

Bagi pembaca yang berumur 50-an sekarang, kita sejenak bernostalgia mengingat masa sekolah dulu. Ketika melihat ibu dan bapak guru menuju kelas, pasti sudah berlarian masuk kelas duduk rapi. Ketika jari-jari tangan di pukul penggaris karena lupa potong kuku, kita hanya meringis menahan sakitnya dan berusaha menyembunyikan bekasnya di rumah, karena sudah pasti bukan pembelaan didapat, tapi tambahan hukuman ekstra dari orang tua. Ketika ibu dan bapak guru mencubit perut karena ujung baju tidak dimasukkan dalam celana, atau kancing baju paling atas terbuka, kita hanya meringis menahan sakit minta ampun. Sampai di rumah dijamin tutup mulut agar tidak dapat hukuman tambahan.

Sanksi, teguran, hardikan, bentakan, hukuman, bahkan sampai pukulan fisik sekalipun waktu itu kita anggap sebagai irama yang melagukan simponi kerinduan. Rindu kepada guru, kangen caranya mendidik disiplin yang keras tapi tidak kasar. Teringat ketika orang tua tiba-tiba menjadi hakim, polisi, atau bahkan algojo yang menghukum kita karena ketahuan bikin masalah di sekolah.

Tahun 1980 kelas 1 SMPN Cabenge, saya dan tiga orang teman diam-diam memindahkan pos satpam sekolah dari ujung pintu gerbang ke belakang sekolah. Akibatnya kami berempat dapat surat pemanggilan orang tua yang membuat semalam tidak tidur memikirkan bagaimana caranya keluar dari situasi rumit ini. Saya akhirnya bermohon kepada om yang mengasuh waktu kecil supaya bisa mewakili orang tua ke sekolah sebagai wali.

Cara itu ternyata ampuh tidak ketahuan bahwa saya melakukan kesalahan di sekolah. Namun entah dari mana sumbernya, seminggu kemudian ketika hendak berangkat sekolah, tiba-tiba bapak mencabut kunci motor. Sesaat kemudian mengatakan seminggu semua fasilitas dicabut karena telah melakukan kesalahan di sekolah. Jadi uang jajan rutin tiap pagi dan kendaraan dihentikan selama seminggu. Satu lagi, tidak boleh dijemput teman. Terpaksa tiap hari selama seminggu selalu bangun pagi lebih awal untuk menunggu becak atau dokar (bendi) ke sekolah.

Itulah ciri dan karakter generasi 60-an dan 70-an, semua patuh, hormat kepada guru dan memuliakan orang tua. Belum ada sertifikasi, tetapi guru tulus ikhlas mendidik. Belum ada sekolah penggerak, tetapi siswa selalu tergerak ke sekolah dan mengerjakan tugas dari guru. Belum ada merdeka belajar, tetapi semua satuan pendidikan menikmati proses belajar mengajar dalam kelas tanpa beban administratif.

Entah pengambil kebijakan dan guru waktu itu memahami bahwa “Masa depan adalah wilayah transendental yang tidak hanya membutuhkan setumpuk ijazah, tetapi juga keberkahan ilmu.” Namun, yang pasti semua satuan pendidikan konsisten menegakkan kedisiplinan di semua lini kehidupan siswa dalam proses belajar di sekolah. Guru memberi teladan, dan siswa menghargai waktu, menjaga etika perilaku dan lisannya ke sesama siswa, terlebih kepada guru dan orang tuanya. Inilah kuncinya keberhasilan generasi terdahulu yang biasa disebut generasi kolonial, yaitu memiliki keberkahan ilmu. Sesungguhnya sumber utama keberkahan ilmu adalah menghargai dan hormat kepara guru, serta memuliakan orang tua.

Kini di tengah digitalisasi hampir semua elemen kehidupan, tidak terkecuali sistem pendidikan dengan seabrek teori pendidikan yang melangit, keberkahan ilmu tercerabut akarnya di lahan jiwa anak-anak negeri. Kalau kemudian negeri ini hidup dalam paradoks, bisa jadi salah satu penyebabnya karena hilangnya keberkahan ilmu dalam diri para pengambil kebijakan. []

*Akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku motivasi

(Visited 1,894 times, 1 visits today)
2 thoughts on “Hilangnya Keberkahan Ilmu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.