Hidup manusia bukan hanya urusan makan dan bekerja, bukan pula sekadar mencari nama di hadapan sesama. Hidup adalah perjalanan batin menuju Tuhan, tempat kita belajar memuliakan mereka yang telah menjadi perantara kasih-Nya: orangtua yang melahirkan dengan cinta, dan guru yang membimbing dengan sabar. Tanpa keduanya, hidup akan kehilangan arah seperti perahu tanpa kompas di tengah samudra.

Ibumu, anakku, adalah pelabuhan pertama tempat engkau berlabuh dari rahim kehidupan. Dari peluh dan air matanya, engkau belajar tentang pengorbanan tanpa pamrih. Ayahmu adalah bayangan kekuatan yang diam, memikul beban dunia agar engkau dapat berjalan ringan. Mereka mungkin tidak pandai berkata manis, tapi setiap letih di wajah mereka adalah puisi cinta yang hanya bisa dibaca dengan hati.

Guru adalah pelita kedua dalam hidupmu. Dari lisannya engkau mengenal huruf, dari tangannya engkau belajar makna. Ia menanam ilmu di ladang jiwamu, berharap kelak tumbuh kebajikan. Ia tidak menuntut balas, cukup melihat muridnya menjadi manusia yang berbudi. Bila engkau melupakan jasanya, maka seperti engkau mencabut akar dari pohon yang menaungimu.

Berbaktilah, anakku, selagi masih ada waktu. Karena waktu lebih cepat dari rasa sesal. Berapa banyak anak yang menangis di kubur ibu dan ayahnya, menyesal tak sempat meminta maaf. Berapa banyak murid yang menunduk di makam gurunya, menyesal tak sempat mengucap terima kasih. Air mata penyesalan tak mampu membangunkan yang telah tidur di keabadian.

Buya Hamka pernah menulis, “Budi yang tinggi adalah hiasan hidup.” Dan budi itu berakar dari hormat dan kasih kepada mereka yang telah berjasa dalam hidupmu. Tak ada ilmu yang tumbuh dalam hati yang congkak, sebagaimana tak ada berkah yang turun kepada anak yang durhaka. Ilmu sejati hanya bersinar di dada yang tunduk dan penuh syukur.

Jangan merasa bangga dengan gelar dan pangkat, sebab semua itu tak berarti di hadapan Tuhan bila engkau lupa pada orangtua dan gurumu. Ilmu tanpa adab adalah bara tanpa cahaya. Ia panas membakar, tetapi tak memberi penerangan. Adapun adab yang lahir dari hormat adalah sinar yang menuntun langkah manusia menuju kemuliaan.

Anakku, jika suatu hari engkau merasa hebat, ingatlah tangan ibumu yang dulu menggigil memandikanmu di pagi buta. Ingatlah suaramu yang terbata-bata dieja oleh gurumu di bangku kecil. Tanpa mereka, engkau hanyalah lembaran kosong. Jangan biarkan kesombongan menutup hatimu dari rasa terima kasih.

Kehidupan yang diberkahi adalah kehidupan yang berterima kasih. Engkau takkan miskin karena memberi hormat, dan takkan rendah karena menundukkan kepala di hadapan orangtua atau gurumu. Justru di situlah letak ketinggian budi, sebab yang paling tinggi di hadapan Allah bukanlah yang paling pandai berbicara, melainkan yang paling lembut hatinya kepada sesama.

Jangan tunggu hari tua untuk belajar menghargai. Karena waktu tak pernah menunggu kita sadar. Lakukan sekarang — teleponlah ibumu, peluk ayahmu, kunjungilah gurumu. Ucapkan terima kasih sebelum kata itu menjadi doa yang hanya bergaung di pusara. Hormat dan kasih adalah dua sayap yang akan membawamu terbang menuju rida Ilahi.
Hidup ini, anakku, hanyalah sebentar — sekejap napas di antara dua keabadian. Dalam sekejap itu, kita diberi kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka yang telah menjadi perantara cinta Tuhan di muka bumi. Rida Allah tersembunyi dalam rida orangtua, dan keberkahan ilmu terletak pada kerendahan hati di hadapan guru. Bila engkau menjaga keduanya, maka hidupmu akan tenteram, langkahmu ringan, dan hatimu lapang. Tak ada doa yang lebih tulus dari doa ibu, tak ada restu yang lebih luhur dari restu guru. Siapa yang berjalan di bawah cahaya keduanya, niscaya ia akan sampai pada cahaya Tuhan.

Kelak bila engkau telah menjadi orangtua atau guru bagi orang lain, engkau akan mengerti betapa dalamnya makna dua cinta itu. Engkau akan tahu bahwa setiap nasihat, setiap teguran, bahkan setiap air mata yang jatuh dari mereka, hanyalah bahasa lain dari cinta. Jagalah cinta itu baik-baik, karena di situlah letak keberkahan hidupmu — di bawah rida orangtua dan doa seorang guru. [HTB]

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.