Di pesisir Koto Merapak, Surantiah, debur ombak seolah berbisik tentang waktu yang kian dekat. Bagi saya, seorang guru SD yang setiap hari melangkah menyusuri jalanan desa di Pesisir Selatan, getaran di hati ini sudah berpindah jauh ke utara. Ke sebuah negeri yang sejuk di bawah lindungan Bukiktogang, jorong Simpang Goduang, Nagari Simpang Kapuak.

Tradisi Balimau segera tiba.

Namun, bagi kami keluarga Saura, Balimau bukanlah tentang berhura-hura di tempat wisata atau mandi berdesakan yang kini kian bergeser maknanya.

Bagi kami, Balimau adalah “pulang”. Pulang ke akar, pulang ke rumah gadang, dan pulang ke pangkuan satu-satunya pelita yang masih ada, Umi Itam.

Perjalanan dari Pasisia ke Lima Puluh Kota saya tempuh dengan membawa harta karun paling berharga: Goreng Baluik.

Belut-belut garing itu saya bawa langsung dari Surantiah, masih beraroma laut dan cabai goreng yang menggoda, sebuah persembahan dari pesisir untuk perbukitan.

Setibanya di rumah gadang, suasana riuh menyambut.

Umi Itam—sosok putih bersih yang setia dengan baju hitamnya—duduk dengan wibawa.

Para Mamak datang bersama istri-istri mereka, memenuhi setiap sudut rumah. Di sinilah prosesi pembersihan diri yang sesungguhnya terjadi.

Bukan sekadar membasuh kulit dengan air limau, tapi membasuh hati dengan saling bersimpuh, memohon maaf atas lisan yang tajam dan sikap yang salah selama setahun berlalu.

Puncak kehangatan itu ada di atas kain seprah yang terbentang.

Di sana, Goreng Baluik Pasisia bersanding mesra dengan Pongek Paku dan Pongek Cubadak yang santannya kuning kental.

Tak lupa Sambalado Uwok yang pedasnya meresap, ditemani Rubik dan aroma khas Daun Tapak Leman.

Untuk pencuci mulut, katidiang boghuak telah siap dengan Onde-onde, Limpiang, Pisang, dan Cimangko.

Makan bersama ini bukan sekadar mengenyangkan perut, tapi memberi makan bagi jiwa yang rindu akan kekeluargaan.

Malam harinya, saat suara beduk dari Mesjid Annur memecah sunyi kaki Bukiktogang, kami melangkah bersama untuk Tarawih 23 rakaat.

Di bawah langit Mungka yang jernih, doa-doa melangit, memohon ampunan dan keberkahan.

Doa Menyongsong Ramadan untuk Keluarga Saura
Di ambang bulan yang suci ini, mari kita tundukkan kepala sejenak, membayangkan wajah Umi Itam dan seluruh keluarga besar:

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim…

Segala puji bagi-Mu yang telah mempertemukan kami kembali dengan bulan Ramadan yang penuh ampunan.

Kami bersyukur atas nafas yang masih Engkau titipkan, dan atas langkah kaki yang Engkau tuntun kembali ke rumah gadang kami.
Ya Allah, berkatilah Umi Itam kami.

Limpahkanlah kesehatan, kekuatan, dan ketenangan baginya.

Jadikanlah beliau senantiasa menjadi cahaya bagi kami anak cucunya.

Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh sanak keluarga kami dalam keluarga besar Saura.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami sebagaimana air limau membasuh raga kami. Hilangkanlah rasa iri, dengki, dan dendam di antara kami.

Eratkanlah tali silaturahmi kami, dari hilir Pesisir Selatan hingga ke mudik Lima Puluh Kota.

Terimalah amal ibadah kami, shalat kami, sahur dan buka kami, serta Tarawih kami di Mesjid Annur.

Jadikanlah Ramadan tahun ini sebagai Ramadan terbaik yang membawa kami menjadi hamba-Mu yang lebih bertakwa.

Semoga kehangatan di kaki Bukiktogang ini tetap terjaga hingga kami bertemu kembali di surga-Mu kelak.

Amin, Amin, Ya Rabbal Alamin.

(Visited 8 times, 8 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.