Ingatkah kamu setahun yang lalu kita duduk di sini? Di sudut Dapur Keraton Resto, tempat orang-orang datang untuk berbuka, sementara aku datang membawa niat yang ingin kutenangkan.

Menjelang Magrib, aku tiba lebih awal. Aku hanya ingin memastikan satu hal: apakah aku cukup siap berdiri di sampingmu, apa pun cerita yang akan kita hadapi.

Langit menggantung rendah. Anginnya pelan, seperti menunggu keberanian yang tidak perlu diumumkan.

Kamu datang beberapa menit sebelum azan. Langkahmu tenang, wajahmu biasa saja. Ketenangan orang yang sudah lama belajar hidup dengan sunyi.

Kita saling tersenyum. Tidak ada keramaian. Hanya kesepahaman dua orang dewasa yang memilih berhenti berlari.

Hari pertama Ramadan. Aku sengaja meluangkan waktu untuk menemanimu berbuka. Bagiku, berbuka puasa adalah pengakuan paling jujur bahwa manusia butuh ditemani. Dan sore itu, aku ingin menjadi orang yang tinggal, bukan hanya singgah.

Pelayan meletakkan air dan kurma. Kita berbincang seperlunya; tentang pekerjaan, tentang rencana sederhana, tentang hal-hal kecil yang justru menentukan apakah hidup bisa dijalani dengan tenang.

“Lebaran nanti,” katamu pelan, “kita pulang ke kampungku, ya.”

Aku mengangguk.

Aku tahu, di sana tak ada lagi orang tuamu. Dan aku juga tahu satu hal lain: selama tiga tahun ini, kamu memilih diam. Kamu menjalaninya tanpa pengumuman, tanpa cerita panjang. Kampungmu mengenalmu sebagai perempuan yang pernah pulang sendiri, tidak lebih.


Perjalanan ke kampungmu sunyi. Sawah menguning, jalan memanjang, rumah-rumah menua. Kamu menunjuk beberapa tempat: sekolahmu, warung lama, musala kecil di ujung gang. Ceritamu singkat, nyaris datar. Aku hanya mendengarkan. Tidak semua luka perlu ditanya.

Di pemakaman, kamu menunduk lama. Aku berdiri di sampingmu, menjaga jarak yang sopan. Aku tahu, kehilanganmu bukan peristiwa baru. Ia sudah menjadi bagian dari caramu berjalan.

Di rumah kerabat, kejutan itu datang.

“Lho… ini siapa?” Tatapan-tatapan berhenti di wajahku, lalu kembali padamu.

Aku berdiri lebih tegak. “Saya calon suaminya,” kataku pelan.

Sunyi jatuh sejenak. Bukan sunyi yang indah, melainkan sunyi yang terkejut.

“Bukannya…?” Kalimat itu tidak selesai. Mereka saling pandang.

“Kamu kan… sejak kapan?” Pertanyaan itu mengandung keterkejutan yang tertunda bertahun-tahun.

Kamu tersenyum. Senyum yang tidak defensif, tidak meminta pengertian, tidak pula menjelaskan segalanya.

Aku melihat wajah-wajah itu berubah. Bukan marah. Bukan menolak. Lebih pada merasa tertinggal; seolah mereka baru sadar bahwa hidup seseorang bisa berjalan jauh tanpa perlu izin.

“Maaf… kami tidak tahu,” ucap seseorang lirih.

Aku meraih l, sebentar. Bukan untuk melindungi, tapi untuk menegaskan: aku di sini bukan karena masa lalumu, melainkan karena keberanianmu menjalani hidup tanpa mengeraskan hati.

“Kapan rencananya?”

“Mohon doanya,” kataku. “Insyaallah Mei ini.”


Kembali ke Dapur Keraton. Kita duduk lagi, seolah menutup lingkaran yang pernah kita buka. Ponselmu terbuka di meja.

“Baju Lebaran,” katamu, “warna apa ya? Sekalian buat Ibu dan Bapak.”

Aku tersenyum. “Puasa aja belum.”

“Kita beli sekarang aja,” jawabmu. “Biar puasanya nanti tenang.”

Kalimat itu sederhana. Dan di sanalah aku paham: kamu tidak ingin dirayakan, hanya ingin diterima. Kamu tidak mencari pengganti, hanya memilih berjalan bersama.

Azan Magrib terdengar. Aku memimpin doa singkat. Dalam hati, aku memohon: semoga aku dijadikan laki-laki yang cukup dewasa untuk mencintai tanpa takut pada cerita orang, dan cukup lapang untuk memeluk masa lalu tanpa merasa terancam.

Ramadan sore itu tidak memberiku euforia. Ia memberiku kejelasan. Dan jika suatu hari nanti kita kembali ke kampung itu, bukan lagi sebagai kejutan. Aku ingin orang-orang tahu: hidup tidak selalu perlu diumumkan, dan cinta tidak pernah meminta izin pada prasangka.

Di sini. Menjelang Magrib. Di Dapur Keraton.

Saat seorang laki-laki memilih hadir dan seorang perempuan memilih percaya, meski dunia baru menyadarinya terlambat.

(Visited 9 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.