Agustus di Kecamatan Sutera bukan sekadar urusan baris-berbaris. Bagi Ibuk Evni Armaita, sang Kepala Sekolah, ini adalah ujian manajerial hati.

Di ruang kantor yang sederhana, beliau duduk bersama Ibuk Loli, Vira, Siska, Condra, Mereka bukan sedang menghitung anggaran negara yang melimpah, melainkan menghitung kepingan receh iuran demi memastikan anak-anak bisa sampai ke pusat kecamatan.

“Kita tetap berangkat,” tegas Ibuk Evni dengan nada tenang namun kokoh.

Di sudut lain, Yogi, sang OPS yang sehari-harinya berjibaku dengan data, kali ini sibuk memastikan urusan teknis di luar aplikasi.

Sementara itu, Pak Hariandi, guru olahraga yang enerjik, sudah mulai melatih fisik anak-anak di bawah terik matahari, didampingi Ibuk Nurhelmi yang tak putus memberikan wejangan agama tentang arti syukur dan pengabdian.

Ketulusan yang Tak Ternilai

Namun, denyut nadi sekolah ini ada pada mereka yang sering kali tak nampak di sistem: Dison, Ires, Suci, dan Buk Nori. Dison tetap setia mengajar meski namanya belum terbaca di Dapodik. Begitu pula Ires, Suci, dan Buk Nori. Bayangkan saja, dengan gaji 75 ribu rupiah sebulan, mereka tetap berdiri tegak di depan kelas.

Angka itu mungkin tak cukup untuk bensin sebulan, tapi bagi mereka, melihat anak-anak Koto Merapak bisa ikut Alek PHBN adalah sebuah kehormatan.

Saat hari keberangkatan tiba, mereka semua bahu-membahu. Tidak ada sekat antara guru PNS, honorer, atau OPS. Pak Hariandi mengatur barisan. Ibuk Nurhelmi memimpin doa. Dison dan kawan-kawan memastikan tidak ada satu pun atribut anak-anak yang terlepas.

Menang Tanpa Piala

Saat melewati panggung kehormatan di Kecamatan Sutera, rombongan SDN 31 Koto Merapak melangkah dengan dagu tegak. Mereka tahu, di depan mereka ada sekolah dengan anggaran “bos” yang besar, dengan kostum sewaan yang mahal, dan bus ber-AC.

Piala memang jatuh ke tangan mereka yang punya uang banyak. Tapi, saat rombongan SDN 31 lewat, orang-orang tahu bahwa di atas mobil-mobil pinjaman itu, ada keringat Ibuk Evni dan dedikasi luar biasa dari Ires, Suci, serta Buk Nori yang mengabdi hampir tanpa imbalan materi.

Mereka tidak butuh piala untuk merasa menang. Karena bagi SDN 31 Koto Merapak, kemenangan sejati adalah ketika mereka tetap mampu meramaikan hari kemerdekaan Republik Indonesia, meski dengan cara yang paling bersahaja.

“Piala mungkin milik mereka yang berduit, tapi semangat merdeka adalah milik kita yang berbakti tanpa pamrih.” []

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.