Oleh: Muhammad Hasanuddin

Berbicara tentang anak muda, bukan lagi tentang umur. Berbicara tentang anak muda, bukan lagi menjadi pemandu sorak. Sudah saatnya menetukan pilihan sikap, ingin menjadi pemuda optimis atau pesimis, yang jelas selama harapan, keyakinan, dan cita-cita masih ada dalam dada harus tetap di perjuangkan.

Jadilah reprensentasi terbaik dan responsif terhadap hal-hal baru yang lebih relevan. Jangn pernah takut untuk mengambil resiko, karena menurut orang bijak, “semakin sering terbentur semakin besar terbentuk”. Jangan menunda melangkah, karena kegagalan sesungguhnya adalah tidak pernah mencoba.

Anak muda hari ini tidak lagi menjadi penonton di barisan belakang, melainkan menjadi aktor utama dalam panggung peradaban. Kehidupan tidak lagi membutuhkan sekadar kritik tanpa solusi, melainkan memerlukan keberanian untuk mengeksekusi ide-ide cemerlang.

Menjadi responsif berarti peka terhadap dinamika zaman. Jika teknologi berkembang, maka literasi harus meningkat. Jika tantangan sosial memuncak, maka empati harus bergerak. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten, bukan sekadar letupan semangat yang sesaat.

Selain itu, integritas harus menjadi fondasi utama dalam setiap langkah perjuangan. Pemuda yang cerdas tanpa karakter hanya akan menjadi beban bagi masa depan. Sebaliknya pemuda yang memiliki prinsip dan kejujuran akan menjadi mercusuar bagi bangsanya.

Kita harus berani mendefinisikan ulang makna sukses; bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan seberapa luas kebermanfaatan yang disebarkan kepada sesama. Jangan biarkan idealisme luntur hanya karena tuntutan pragmatisme yang sempit.

Terakhir, ingatlah bahwa sejarah mencatat mereka yang berani mendobrak kemapanan demi kebenaran. Jangan menunggu hari esok untuk memulai sebuah kebaikan, karena waktu adalah aset yang tidak bisa diputar kembali.

Selama darah muda masih mengalir dan pikiran masih jernih, gunakanlah untuk merajut persatuan dan menciptakan inovasi yang inklusif. Masa depan bangsa ini tidak terletak di pundak orang lain, melainkan ada di dalam genggaman tanganmu sendiri. Jadilah bagian dari alasan mengapa bangsa ini layak untuk dibanggakan. []

*BNsiana, penikmat literasi menulis di Bogor.

(Visited 4 times, 4 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.