Oleh: Lolita Eka Putri
Di sudut meja kayu yang sudah lapuk dimakan usia, Ibu selalu duduk setiap malam.
Bukan untuk menulis sebuah mahakarya, melainkan untuk menghitung lembar demi lembar uang recehan hasil menyulam.
Di matanya yang mulai merabun, aku melihat ada api yang tak pernah padam—api yang dulu pernah ia gunakan untuk merangkai kata dalam buku harian usangnya.
Ibu adalah Kartini-ku. Bukan karena ia mengenakan kebaya sutra, tapi karena ia adalah pejuang literasi yang dipaksa berhenti bicara oleh keadaan.
Dulu, Ibu adalah bintang di sekolahnya. Ia bercita-cita menjadi penulis hebat, merajut narasi tentang dunia yang luas.
Namun, nasib berkata lain. Perceraian pahit kedua orang tuanya dan jeratan kemiskinan membuat pena Ibu harus diletakkan sebelum tintanya habis.
Ia terpaksa menyerah pada kenyataan, mengubur mimpinya di bawah tumpukan cucian kotor , sawah dan ladang serta menjahit demi menyambung hidup.
“Nak,” ucapnya suatu sore sambil mengelus kepalaku, “Ibu tidak bisa melanjutkan tulisan Ibu. Tapi Ibu ingin kamu menjadi orang yang ‘menulis’ garis nasib keluarga kita sendiri.”
Ibu tidak pernah membelikan dirinya baju baru selama bertahun-tahun. Baginya, setiap rupiah adalah investasi untuk buku pelajaranku, seragamku, dan biaya kuliahku.
Saat aku lelah belajar untuk ujian CPNS, Ibu adalah sosok yang bangun paling awal untuk mendoakanku di sepertiga malam.
Ia menyerahkan estafet mimpinya ke pundakku. Bukan sebagai beban, tapi sebagai amanah yang ia pupuk dengan air mata dan kerja keras.
“Jangan jadi seperti Ibu yang berhenti di tengah jalan. Kamu harus sampai ke garis finish,” bisiknya saat aku berangkat ujian terakhir.
Hari itu, pengumuman muncul di koran. Namaku tertera di sana. Lulus. Aku kini resmi menjadi seorang PNS. Gelar yang bagi banyak orang mungkin biasa, tapi bagi Ibu, itu adalah bukti bahwa kemiskinan tidak berhasil memenangkan pertarungan.
Aku pulang dan memeluknya erat. Bahunya yang dulu teguh kini mulai membungkuk, namun wajahnya bersinar lebih terang dari lampu manapun.
“Bu, aku sudah jadi orang. Aku sudah punya gaji tetap. Ibu tidak perlu ke pasar lagi,” tangisku pecah.
Ibu tersenyum, menyeka air mataku dengan tangannya yang kasar karena kerja keras. “Tugas Ibu bukan cuma menyekolahkanmu sampai jadi pegawai, Nak.
Ibu menyekolahkanmu agar kamu punya suara. Sekarang, tulislah masa depanmu dengan pena yang dulu sempat Ibu lepaskan.”
Kini, setiap kali aku menandatangani dokumen negara atau menyusun laporan di kantor, aku selalu teringat bahwa pena yang aku pegang adalah milik Ibu. Aku adalah perpanjangan tangannya.
Ibu mungkin tidak pernah menerbitkan buku, tapi bagiku, hidupku adalah buku terbaik yang pernah ia tulis. Ia adalah Kartini yang tidak hanya memperjuangkan emansipasinya sendiri, tapi memenangkan masa depan generasinya.
Terima kasih Ibu. Terima kasih aba. Terima kasih Umi Itam ku. Terima kasih semua guruku.
