Oleh: Hildayanti Yunus

Mengutik laman dari Detik.com. Bandung-Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas.
Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati.

Informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Aksi para siswa tersebut menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika dan penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah.

Fenomena ini jujur bikin miris dan agak “nyesek” kalau dilihat. Di era sekarang, kita lagi dihadapkan pada realita di mana wibawa guru perlahan mulai luntur. Video viral yang memperlihatkan siswa mengejek bahkan menunjukkan gestur tidak pantas kepada guru di dalam kelas bukan cuma soal bercanda kelewatan, ini sudah masuk ke ranah krisis adab.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan kejadian yang muncul tiba-tiba. Ada proses panjang di baliknya. Banyak siswa yang tumbuh tanpa penanaman nilai hormat sejak awal, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Ditambah lagi, pengaruh media sosial yang kadang bikin standar sopan santun jadi blur apa pun bisa dijadikan konten, bahkan hal yang seharusnya dijaga kehormatannya.

Di sisi lain, hubungan antara guru dan murid sekarang juga mulai berubah. Guru sering dipandang hanya sebagai “penyampai materi”, bukan lagi sosok pembimbing yang dihormati. Padahal, kalau kita tarik ke nilai-nilai yang lebih dalam, khususnya dalam Islam, guru itu punya posisi yang sangat mulia. Menghormati guru bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

Mengapa semua itu terjadi?

Pertama, ada pergeseran nilai dari adab ke sekadar akademik. Pendidikan hari ini sering terlalu fokus pada nilai, ranking, dan capaian, sementara pembinaan sikap dan penghormatan tidak ditanamkan secara kuat. Akibatnya, siswa bisa pintar secara ilmu, tapi kosong dalam etika berinteraksi termasuk terhadap guru.

Kedua, krisis otoritas di ruang kelas. Guru sekarang berada di posisi yang tidak selalu “aman” untuk menegur. Ada kekhawatiran dilaporkan, diviralkan, atau diprotes orang tua. Kondisi ini membuat sebagian guru memilih menahan diri. Dari sudut pandang siswa, ini terbaca sebagai kelemahan, bukan kebijaksanaan.

Ketiga, inkonsistensi aturan dan sanksi. Banyak sekolah punya tata tertib, tapi penerapannya tidak tegas atau berbeda-beda. Ketika siswa melihat tidak ada konsekuensi nyata dari pelanggaran, maka batasan akan terus didorong—sampai akhirnya muncul tindakan yang ekstrem seperti yang vidio yang viral.

Keempat, pengaruh lingkungan digital. Media sosial membentuk pola pikir baru: sesuatu dianggap menarik kalau “berani”, “berbeda”, atau memancing reaksi. Tanpa filter adab yang kuat, siswa bisa menjadikan guru sebagai objek konten, bukan sosok yang dihormati.

Kelima, lemahnya peran keluarga dalam menanamkan adab. Banyak anak tidak dibiasakan menghormati figur otoritas sejak kecil. Bahkan dalam beberapa kasus, orang tua justru membela anak tanpa melihat kesalahannya. Ini membuat anak merasa selalu benar dan berani melawan siapa pun, termasuk guru.

Keenam, menurunnya posisi sosial guru. Ketika profesi guru tidak lagi dimuliakan secara nyata baik dari sisi kesejahteraan maupun penghargaan sosial maka persepsi siswa pun ikut berubah. Mereka tidak melihat guru sebagai figur yang “bernilai tinggi” untuk dihormati.

Pemerintah sering menggaungkan “Profil Pelajar Pancasila”, kasus ini menjadi tamparan keras bahwa program-program tersebut baru sebatas formalitas administratif di atas kertas.

Program seperti Profil Pelajar Pancasila itu akhirnya hanya menjadi beban kerja yang harus dilaporkan, diarsipkan, dan difoto untuk bukti kegiatan. Guru disibukkan membuat RPP, mengisi instrumen, dan memenuhi target penilaian, sehingga waktu dan energi untuk benar-benar menanamkan adab dan sopan santun menjadi tersisihkan. Nilai-nilai Pancasila diajarkan lewat teks bacaan dan hafalan, tapi tidak pernah ditanamkan lewat keteladanan yang tegas maupun penegakan disiplin.

Dalam Islam, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak siswa pintar, tapi membentuk kepribadian yang beriman dan berakhlak. Adab kepada guru adalah bagian inti. Rasulullah saw dan para ulama sangat menekankan bahwa keberkahan ilmu tergantung pada penghormatan kepada guru.
Artinya, sekolah harus menjadikan adab sebagai fondasi utama bukan sekadar pelengkap. Bukan hanya diajarkan, tapi dibiasakan dan ditegakkan dalam keseharian.

Di sisi lain, peran guru juga perlu dikembalikan sebagai pendidik yang membimbing, bukan hanya penyampai materi. Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang mulia karena membentuk akal dan akhlak generasi. Oleh karena itu, guru perlu diberi ruang dan perlindungan untuk menegur dan mendidik siswa tanpa rasa takut. Namun, wibawa itu juga harus dibangun melalui keteladanan, karena sikap dan perilaku guru akan menjadi contoh langsung bagi siswa.

Penegakan aturan juga tidak boleh diabaikan. Islam mengajarkan bahwa setiap pelanggaran harus ada konsekuensi, tetapi dengan tujuan mendidik, bukan sekadar menghukum. Ketegasan yang disertai keadilan akan membentuk batas yang jelas bagi siswa, sehingga mereka memahami mana yang boleh dan mana yang tidak. Ketika aturan diterapkan secara konsisten, siswa akan belajar bertanggung jawab atas perbuatannya.

Peran keluarga juga sangat penting dalam hal ini. Orang tua adalah tempat pertama anak belajar tentang adab. Jika di rumah tidak diajarkan untuk menghormati guru, maka sekolah akan kesulitan menanamkannya. Oleh karena itu, orang tua perlu menanamkan sikap hormat

sejak dini dan mendukung upaya sekolah dalam mendidik anak, bukan justru membela ketika anak berbuat salah.

Selain itu, lingkungan juga harus dijaga dari pengaruh yang merusak. Di era digital, siswa sangat mudah terpapar konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai akhlak. Karena itu, perlu ada upaya bersama untuk menyaring pengaruh tersebut, sekaligus membekali siswa dengan pemahaman agar mereka mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Dengan begitu, mereka tidak hanya bergantung pada pengawasan luar, tetapi juga memiliki kesadaran dari dalam diri.

Dalam islam, para guru juga sangat dihargai oleh masyarakat. Mereka tidak dibiarkan hidup dalam kesulitan. Negara dan masyarakat memberikan perhatian agar para pengajar bisa fokus menyebarkan ilmu tanpa terbebani urusan kebutuhan hidup. Dalam sistem Islam, orang-orang yang berkontribusi dalam pendidikan dan penyebaran ilmu mendapatkan jaminan kesejahteraan, baik melalui baitul mal maupun dukungan masyarakat. Hal ini membuat profesi mengajar benar-benar dimuliakan, bukan sekadar pekerjaan biasa.

Pada akhirnya, solusi dalam Islam tidak bersifat parsial, melainkan menyeluruh. Perbaikan harus dimulai dari pembentukan iman dan adab, diperkuat dengan keteladanan guru, didukung oleh keluarga, serta dijaga oleh lingkungan yang baik dan tentunya oleh negara. Jika semua ini berjalan bersama, maka wibawa guru akan kembali terbangun secara alami, dan hubungan antara guru dan siswa akan kembali dilandasi oleh rasa hormat dan kemuliaan ilmu. Waalahulaam bisshawab.



(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.