Di sore hari, 6 Juni 2026. Ketika sedang menikmati udara petang sambil mengenang perjalanan yang sudah genap setengah abad, tiba-tiba terpikir untuk melihat-lihat media sosial. Seorang teman sekolah di SMK mengirimkan, lebih tepatnya memposting video di akun pribadinya tentang pemandangan senja hari di Enrekang, Sulawesi Selatan. Diberi caption, Di Suatu Senja. Dan diberi komentar pendek: Senja selalu mengajarkan untuk pulang.
Indah memang. Dengan latar belakang pegunungan, sahabat menggambarkan suasana Enrekang yang akrab dengan tanaman hortikultura. Terutama bawang merah yang banyak dijumpai di sekitar tempat tinggalnya. Video itu diambil dari jok depan penumpang sebuah mobil minibus yang bergerak perlahan di atas jalan usaha tani yang membelah kebun bawang tak bertepi.
Di sela-sela hijaunya daun bawang yang subur, bermunculan bebatuan berwarna putih, seolah membenarkan bahwa tanah pusaka ini adalah tanah surga, karena tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Mengutip salah satu bait di lagunya Koes Plus berjudul Kolam Susu (1970).
Di antara kebun yang luas itu, ada beberapa rumah warga, yang berkelompok-kelompok kecil. Rumah panggung khas Enrekang dengan atap seng yang kebanyakan berwarna merah kecoklatan. Kolong rumahnya, biasa digunakan untuk berbagai kegiatan. Salah satunya, penanganan bawang merah pasca panen.
Caption sahabat ini memang betul, bahwa senja, terutama senja di Enrekang, selalu mengajarkan untuk pulang. Kini, tepat di usia setengah abad, keinginan itu tiba-tiba menyeruak di dalam kalbu.
Seketika memori bermunculan tentang puluhan tahun silam, sekiar tahun 1980an, saat masih menikmati senja demi senja di sebuah tempat di ujung utara Enrekang. Sebuah daerah pedalaman di atas gunung, yang katanya ‘tinggal bayar ojek sepuluh ribu, kita sudah sampai di langit pertama.’
Kampung itu, diberi nama Pasa Dalle, sejak 2007 masuk Kecamatan Baroko, hasil pemekaran dengan Kecamatan Alla. Pasa Dalle berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tak jauh dari tempat ini, ada sungai melintas dari barat ke timur. Namanya Sungai Mata Allo. Menyeberangi sungai ini berarti masuk ke wilayah Kabupaten Tana Toraja.
Senja biasanya lebih awal muncul karena matahari terbenam jauh sebelum magrib. Meski lokasi di atas gunung, ternyata gunung sebelah barat masih lebih tinggi, membuat bola raksasa harus menghilang saat masing sayang-sayangnya bersama penduduk. Cahayanya tetiba lenyap di antara dedaunan pohon kopi, dan panasnya berganti suasana dingin terasa sampai ke sumsum.
Hilangnya mentari di barat biasanya disusul dengan munculnya kabut tebal di lembah sebelah selatan, menyisakan pemandangan indah puncak gunung di atasnya. Warga Pasa Dalle menyambut magrib seolah berada di negeri atas awan.
Dan sesaat sebelum suara H Nanang Qosim ZA mengumandangkan azan magrib di RRI Nusantara IV Ujung Pandang pada frekuensi 92.5 FM, muncullah rombongan bangau di antara kabut itu dengan suaranya yang khas. Ibu selalu melarang untuk meniru suara itu karena katanya mata bisa timbilan. Anak usia SD saat itu percaya, meskipun diam-diam tetap menirukan suara itu. Beberapa tahun kemudian diketahui bahwa timbilan muncul akibat infeksi bakteri. Bukan karena meniru suara bangau.
Aktifitas luar rumah di senja hari harus benar-benar berhenti sebelum matahari terbenam. Jangan harap bisa mandi setelah itu. Airnya sedingin es. Jika harus berada di luar rumah pada malam hari, seperti saat ada hajatan, sarung harus selalu menyelimuti tubuh. Kalau tidak, angin dingin bercampur kabut akan menembus kulit menusuk tulang.
Normalnya sejak azan magrib kebanyakan pintu rumah sudah tertutup rapat. Rumah jauh dari masjid, jalan rusak, dan tidak ada kendaraan selain kuda. Jadi, salat magrib di rumah, makan malam, mengaji sambil menunggu salat isya, lalu tidur. Atau mendengarkan siaran radio sekitar tiga puluh menit hingga satu jam.
Namun, tentu saja suasana ini tidak terjadi di semua daerah, meskipun dalam satu Kabupaten. Hanya sekitar 30 kilometer ke selatan, di tempat tinggal sahabat yang memposting video di awal tulisan ini, kondisi jauh berbeda. Pada awal tahun 1980an, warganya sudah menghabiskan sebagian waktunya di malam hari menonton televisi. Masih hitam putih. Sebagian sudah punya sepeda motor, bahkan beberapa sudah punya mobil. Kehidupan malam juga masih ramai hingga waktu tertentu.
Kembali ke 6 Juni 2026, video itu terus bergerak. Di kejauhan, di ujung cakrawala, di atas daun-daun bawang, sebagian langit terlihat dengan guratan panjang berwarna jingga. Tampaknya matahari sudah kembali ke peraduan.
Perlahan video menghilang, berganti dengan audio Paul Mauriat, Love is Blue (1968). Pikiran kembali menerawang seiring terdengarnya bait-bait lagu itu. Kali ini harusnya suasana senja lebih berwarna karena lagunya mirip pelangi.
Blue, blue, my world is blue, blue is my world now I’m without you
Gray, gray my love is gray, cold is my heart since you went away
Red, red, my eyes are red, crying for you alone in my bed
Green, green my jealous heart, I doubted you and now we’re apart
Black, black, the nights I’ve known, longing for you so lost and alone.
Seiring berakhirnya lagu, senja mulai tiba. Hati dan pikiran mencoba menembus waktu, flash back (kilas balik), reminisce (nostalgia), ke masa awal populernya lagu ini. Apakah yang terjadi pada 1968? Gelap. Ada kabut tebal menghalangi jalan pikiran sehingga sampai azan magrib berkumandang di masjid dekat rumah, tidak ada jalan tembus. Tidak ada gambaran suasana senja, apalagi berwarna-warni. Mejikuhibiniu.
The spirit is strong, but the flesh is weak. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Setelah tegukan kopi terakhir melewati kerongkongan, ketemu jawabannya. Ada penghalang untuk visualisasi lagu itu. Karena waktu itu, penulis belum lahir. Tersenyum, memeluk senja.
Untuk seorang sahabat, ibu Hawa, teman seangkatan tapi beda jurusan di SMK Watang Pulu, Sidrap, yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Enrekang, terima kasih atas inspirasinya. Senja ini.
Paser, Kalimantan Timur, 6 Juni 2026
