Oleh: Muhammad Sadar*

Kecamatan Tanete Riaja merupakan salah satu di antara 7 kecamatan di Kabupaten Barru. Kecamatan ini memiliki luas wilayah 174,29 kilometer persegi yang terdiri atas 6 desa dan 1 kelurahan. Berada pada ketinggian antara 10-900 meter di atas permukaan laut.Topografi wilayah datar dengan bentang alam dataran rendah hingga menengah pengunungan, bukit dan lembah. Jumlah penduduk berdasarkan sensus BPS terakhir sebanyak 25.718 jiwa. Luas baku sawah mencapai 2.923 hektare dan lahan kering seluas 1.398 hektare terdiri atas tegalan/ladang/huma/kebun. Sedangkan luas lahan perkebunan mencapai 2.104 hektare. Dengan luas lahan tersebut membuat diversifikasi komoditi pertanian di wilayah ini beragam dan variatif berdasarkan agroekologinya.

Komoditas pangan strategis yang paling dominan diusahakan petani di wilayah Kecamatan Tanete Riaja adalah padi-jagung. Komoditas palawija lain seperti kacang tanah yang sudah ter-branding sejak lama menjadi primadona utama di kalangan petani. Pada subsektor hortikultura dan peternakan juga demikian adanya menjadi tumpuan mata pencaharian hidup petani yang tidak kalah pentingnya. Di subsektor perkebunan khususnya komoditas cengkeh, kopi, kakao dan kelapa dalam, tidak lepas dari pengusahaan petani di wilayah tersebut.

Salah satu komoditi perkebunan semusim yang paling khas, spesifik lokasi dan hanya dibudidayakan di Kecamatan Tanete Riaja khususnya pada tiga desa pengembangan yaitu tanaman tembakau rakyat di Desa Lempang, Lompo Tengah dan Desa Kading. Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat dan situs sejarah pada tiga lokasi desa pengembangan tembakau di Kecamatan Tanete Riaja bahwa telah dilakukan penanaman tembakau jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 1945, dan diperkirakan kegiatan pertembakauan telah dilakukan hampir atau bahkan lebih seabad yang silam.

Budaya tembakau di daerah ini dalam istilah bahasa lokal disebut”ICO/ISO” yang berarti ISAP. Budaya “Mangngico” bermakna bahwa setiap waktu dilakukan kegiatan tembakau setelah panen padi di sawah sebagai rangkaian pekerjaan mulai pesemaian, penanaman, pemeliharaan, panen, pengeringan, perajangan daun tembakau selanjutnya dilinting-diusap secara alami menggunakan tangan dan membentuk sebatang rokok lalu diisap.

Budidaya tembakau secara tradisional tersebut di atas saat ini sudah berkembang menjadi sebuah usaha agribisnis komoditas pertanian penting setelah padi. Pengembangan tembakau di Lempang, Lompo Tengah dan Kading menggunakan introduksi varietas lokal yang diberi nama Bondeng dan Lampe.

Struktur varietas Bondeng tergolong tanaman yang lebat dan lebar daunnya sedangkan postur varietas Lampe berperawakan tinggi disertai daun memanjang. Varietas tersebut sangat adaptif dengan kondisi iklim di tiga desa ini. Kesesuaian lahan didukung oleh tekstur tanah aluvial atau petani lokal menyebutnya sebagai tanah “Palatta”. Top soil maupun sub soil-nya sangat cocok dengan round akar tanaman tembakau.

Petani mengklasifikasi mutu daun tembakau yang akan dipanen dalam bahasa lokal disebut “deceng”atau daun utama yang dimulai daun tengah hingga ujung tanaman dan mahal harganya. Kelas daun kedua disebut”raru” atau ratoon sebagai fase pertumbuhan tanaman kedua setelah dipanen total dan kelas daun ketiga disebut”bangkeng” (daun paling bawah dekat dengan tanah dan harganya murah).

Usaha budidaya tembakau di tiga desa Kecamatan Tanete Riaja telah berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat setempat. Pendapatan yang diperoleh petani adalah akumulasi dari produksi daun tembakau yang dilakukan pada setiap musim tanam April-September atau selesai panen padi rendengan.

Data Tanaman Perkebunan Semusim Komoditas Tembakau Dinas Pertanian Kabupaten Barru Tahun 2020-2022, menunjukkan luas tanam tembakau mencapai 13-25 hektare dengan produksi tembakau rajangan sebanyak 8.944-22.000 kg. Produktivitas antara 688-1.000 kg per hektare. Jumlah petani terlibat dalam budidaya tembakau antara 30-58 orang.

Dengan harga tembakau saat ini (Oktober- November 2023) sebesar Rp70.000 per kg maka perolehan pendapatan petani setiap masa tanam antara 80-100 hari mampu menghasilkan Rp40-70 juta. Bahkan petani terlatih dengan luas tanam dan volume produksi yang tinggi serta dukungan sarana air, pupuk, dan cuaca normal penghasilannya bisa melampaui hasil rata-rata yang diterima petani lainnya. Sistem pemasaran yang dilakukan petani adalah melalui transaksi pedagang lokal maupun buyer dari Kabupaten Soppeng untuk memenuhi kebutuhan industri rokok sebagai bahan baku pencampur rokok kretek di daerah tersebut.

Maka dari itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru menyelenggarakan kegiatan pertama Pelatihan Kerja Pengolahan Bahan Makanan Hasil Pertanian pada tanggal 30 November-01 Desember 2023 dan kedua Pelatihan Peningkatan Usaha Pertanian Tembakau pada tanggal 6 Desember 2023. Kegiatan pelatihan pertama melibatkan keluarga petani tembakau terutama para istri petani tembakau.
Pelatihan kedua melibatkan langsung petani tembakau. Materi pelatihan disampaikan langsung oleh Guru Besar Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Yunus Musa, M.Sc. Materi teknologi budidaya dan sistem pasar agribisnis tembakau. Dijelaskan bahwa kebutuhan tembakau nasional sesuai yang dicatat BPS (2022) mencapai 225,7 ribu ton atau 99,6 persen produksi tembakau berasal dari perkebunan rakyat yakni perkebunan yang dikelola masyarakat dengan skala usaha kecil atau rumah tangga, sisanya 0,4 persen diproduksi oleh perkebunan besar atau swasta. Pemanfaatan daun tembakau lebih didominasi untuk pembuatan rokok sigaret dan cerutu di samping tentunya tembakau terkadang digunakan sebagai bahan obat herbal, pestisida nabati, dan perlakuan tradisional lainnya.”

Lebih lanjut, Prof.Yunus melanjutkan materinya dengan mengatakan, “Teknologi penggunaan varietas benih unggul dan volume benih serta pemupukan sangat penting pada tanaman tembakau terutama dalam pengaturan unsur nitrogen. Pengendalian penyakit layu-fusarium yang disebut petani sebagai ‘pedda'”‘ dikendalikan dengan memerhatikan lokasi semai dan penggunaan bahan kimia fungisida.”

Sistem pemasaran dengan jaringan online bisa membantu petani dalam transaksi hasil pertanamannya,
agar keuntungan bisa lebih banyak diterima petani. Dengan mekanisme pasar konvensional keuntungan masih lebih banyak berpihak ditingkat pedagang lokal. Kemudian untuk memperkuat bargaining position petani dalam penawaran produk sebaiknya dibentuk asosiasi petani tembakau di daerah ini. Wadah inilah nanti yang memfasilitasi anggotanya dalam manajemen budidaya maupun manajemen pasar. Prof.Yunus juga melayani sesi diskusi bersama petani dengan mengurai manfaat dan kerugian dalam mengisap rokok sebagai bagian dari produk akhir tembakau yang dihasilkan petani.”

Acara pelatihan tembakau pada episode kali ini bertempat di Dusun Pesse Desa Lempang yang dihadiri oleh Camat Tanete Riaja Dr. Mukti Ali, S.H., M.H., Mantri Tani, para PPL, PBT, POPT Tanete Riaja dan segenap petani tembakau Desa Lempang yang berjumlah 50 orang. Pada sesi pembukaan acara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menyampaikan, “Pengembangan komoditas tembakau di Tanete Riaja akan terus didorong karena tempat ini merupakan spesifik lokasi. Sangat cocok ekosistemnya dan tidak ada desa lain di Barru ini yang bercocok tanam tembakau kecuali Tanete Riaja khususnya Lempang, Lompo Tengah, dan Kading. Bahkan nanti akan terus diupayakan agar terbentuk asosiasi pertembakauan di tingkat petani untuk menguatkan peran petani dalam pasar tembakau.”

Beliau menguraikan pendanaan pelatihan ini, “Pelatihan tembakau bersumber dari pos APBD Barru sebagai bagian dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tahun 2023. Penggunaan DBH CHT untuk kegiatan usaha tani tembakau dan ekonomi produktif lainnya.”

Sebagai gambaran tentang DBH CHT tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan No.03/PMK.07/2023 Tahun 2023 tentang Rincian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau menurut Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2023. Dalam PMK tersebut ditunjukkan DBH CHT sebesar
Rp.5,47 triliun. Khusus Provinsi Sulawesi Selatan DBH CHT sebesar 18,86 miliar dengan 5 kabupaten terbesar yaitu Soppeng 3,82 miliar, Sinjai 1,68 miliar, Bone 1,27 miliar, Maros 952 juta, dan Bulukumba 551 juta. DBH CHT merupakan proporsi pembagian dalam kontribusi suatu daerah sebagai penghasil komoditi tembakau.

Prioritas dan proporsi penggunaan DBH CHT meliputi bidang kesejahteraan sebesar 50 persen dengan program peningkatan kualitas bahan baku dan pembinaan lingkungan hidup. Bidang penegakan hukum sebanyak 10 persen melalui program pembinaan industri, sosialisasi ketentuan cukai dan pemberantasan barang kena cukai ilegal. Selanjutnya bidang kesehatan sebesar 40 persen dalam program pembinaan lingkungan sosial.

Pada bulan November 2022, Pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada rokok sebesar 5-10 persen pada tahun 2023 dan 2024. Kenaikan ini dilakukan untuk mendukung target penurunan prevalensi merokok pada anak di samping pertimbangan keberlangsungan tenaga kerja di pabrik rokok dan kesejahteraan petani tembakau. Kementerian Keuangan melaporkan bahwa hingga Agustus 2023, realisasi penerimaan cukai rokok telah tercapai Rp.126,8 triliun atau 54,53 persen dari target APBN 2023 sebesar Rp232,5 triliun. Kementerian Keuangan juga menargetkan penerimaan negara dari cukai tembakau sebesar Rp246,1 triliun dalam Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara(RAPBN) 2024. Angka tersebut meningkat 8,31 persen dibandingkan pada outlook APBN 2023 sebesar Rp227,2 triliun.

Cukai hasil tembakau berkontribusi cukup penting dalam pembentukan postur APBN. Artinya bahwa dengan meningkatnya volume produksi dan belanja rokok pada setiap individu perokok maka penyerapan hasil cukainya akan meningkat pula dan mampu menghidupkan perekonomian para petani tembakau,pabrik rokok dan varian tenaga kerjanya terlebih kepada signifikansi terhadap penerimaan negara untuk membiayai pembangunan negeri ini.

Namun demikian, jika memperhatikan data dari lembaga Riset CISDI (2019) bahwa kompensasi biaya kesehatan untuk penyakit akibat rokok sebesar Rp27,7 triliun. Kemudian estimasi biaya kesehatan yang ditanggung BPJS Kesehatan sebesar Rp15,6 triliun. Lalu penerimaan cukai rokok untuk BPJS Kesehatan dalam membiayai penyakit peserta terkait rokok mencapai Rp7,4 triliun. Data ini menyadarkan kita dan bisa diinterpretasi bahwa harga yang sangat mahal bagi kesehatan manusia jika harus berurusan dengan penyakit akibat rokok.

Menurut BPS (2021) melaporkan bahwa komoditas rokok masih menjadi bahan konsumsi utama bagi masyarakat Indonesia. Rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau sebesar Rp76.583 per kapita per bulan pada Maret 2021. Konsumsi rokok tersebut meningkat 4,3 persen dari Rp73.442 per kapita per bulan Maret 2020. Pengeluaran konsumsi rokok merupakan tertinggi kedua di antara kelompok belanja lainnya setelah pengeluaran bahan makanan dan minuman.

Mencermati keniscayaan dan dinamika dunia pertembakauan yang menghasilkan komoditas rokok sebagai produk akhir dan menjadi bahan konsumsi bagi sebagian masyarakat, maka penulis bersikap arif dan bijaksana untuk memposisikan pandangan secara rasional bahwa komoditas tembakau yang menghidupkan perekonomian bagi pelakunya terutama para petani, tenaga kerja industri dan CHT sebagai salah satu pilar penerimaan negara untuk APBN dalam membiayai pembangunan nasional.

Sementara di sisi yang lain terutama di sektor kesehatan, jika mengkonsumsi tembakau melalui produk sigaret, kretek atau cerutu akan berdampak buruk terhadap kesehatan individu manusia terutama komplikasi penyakit sebagaimana peringatan pabrik rokok pada kemasan produk yang menyatakan dengan tegas dan logis bahwa “merokok dapat menyebabkan gangguan jantung, kehamilan dan janin.” Telah menjadi bukti dan nyata serta terang benderang tentang pengaruh signifikan rokok yang berkomposisi nikotin dan bahan kimia seperti karbon monoksida berperan dalam mempersempit ruang gerak oksigen pada organ vital manusia terutama paru-paru,jantung, pembuluh darah dan otak yang pada akhirnya melumpuhkan dan menghentikan kehidupan ini di dunia. Begitupun juga aktifvis perokok, dengan berbagai aturan mereka dibatasi ruang geraknya untuk menyemburkan asapnya di ruang-ruang publik dan direlokasi di ruang khusus untuk mengisap rokok yang pada gilirannya mematikan pergerakan para smoker.

Barru,07 Desember 2023

*Penguji Perbenihan dan Perbibitan TPHBun Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Barru

(Visited 245 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.