Burung Garuda dianalogikan sebagai burung terhebat di seantero angkasa dunia. Burung yang dianggap mampu terbang sejauh-jauhnya, melintasi awan, melintasi samudra, melintasi apapun, apatah lagi jika hanya tempat yang kecil, menyusup ke dalam gua yang gelap dan kecil. Pancasila lahir dari rancangan dan ramuan oleh sembilan pendiri bangsa yang telah diamanahkan oleh rakyat yang kala itu Indonesia juga belum resmi menjadi sebuah negara.
Burung Garuda yang hebat dengan sayap-sayapnya yang kokoh mampu terbang mengangkasa melintasi zaman dan ruang. Kakinya mencengkeram “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai ikrar persatuan dalam perbedaan. Di dadanya ada sila-sila Pancasila yang menjadi roh kekuatan dan semangat dalam perjuangan yang tidak kenal lelah. Di situ ada Tuhan yang memberi rahmat (sila pertama), semangat kebersamaan yang saling memanusiakan sesama anak bangsa (sila kedua), rasa persatuan sebagai bangsa (sila ketiga), saling memimpin dengan hikmat dan kebijaksanaan lewat permusyawaratan dan perwakilan (sila keempat), dan akan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima). Pancasila tertuang dalam Mukadimah UUD 1945, melengkapi kesempurnaan melangkah menuju gerbang kemerdekaan Indonesia.
Bangsa yang besar – dari generasi ke generasi – adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya. Itulah mengapa kita perlu mengetahui sembilan orang perancang dan peramu kelahiran Pancasila dan UUD 1945 yang telah diamanatkan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Kesembilan founding fathers tersebuat adalah: 1) Mr. Maramis (48), alumnus Universitas Leiden Belanda dengan keahlian di bidang hukum, aliran nasionalis, berasal dari Menado; 2) Abikoesno Tjokrosoejoso (48), alumnus Polytecnish Institut Amhem Nederland dengan keahlian teknik sipil, aliran Syarikat Islam, berasal dari Ponorogo; 3) KH. A. Kahar Moezakir (38), alumnus UNiversitas Sal Azhar, keahlian di bidang syariah, aliran Muhammadiyah, asal yogyakarta; 4) KH. Agus Salim (61), alumnus HBS V diploma, keahlian di bidang syariah, aliran Syarikat Islam, berasal dari Kota Gadang; 50 Mr. Muh. Yamin (42), alumnus Rechtohogeschool, Sekolah Tinggi Hukum Jakarta, keahlian di bidang hukum, aliran nasionalis, berasal dari Sawahlunto; 6) Drs. Moh. Hatta (43), alumnus Nederlandech Handelschoogeschoo Rotterdam, ahli ekonomi,aliran nasionalis, berasal dari Bukittinggi; 7) Ir. Soekarno (44), alumnus THS/ITB, keahlian arsitektur, aliran nasionalis, berasal dari Surabaya; 8) Mr. Soebardjo, alumnus Universitas Leiden Belanda, keahlian di bidang hukum, aliran nasionalis, asal Karawang; dan 9) KH. Wahid Hasyim, alumnus Universitas Leiden Belanda, alumni Sekolah Agama, keahlian di bidang syariah, aliran Nahdatul Ulama (NU), asal Jombang.
Kesembilan orang inilah yang merancang dan meramu hingga lahirlah Dasar Negara Indonesia yang menjadi pedoman berbangsa dan bernegara hingga saat in. Mereka berasal dari berbagai latar belakang keahlian dan aliran. Aliran nasinalis sebanyak lima orang dan aliran keagamaan (Islam) empat orang, sempurna.
Perlu pula disimak pidato Ir. Soekarno pada Sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 saat masih tahap sharing pendapat agar dapat menjadi renungan bagi anak bangsa saat ini sampai kapan pun, sebagai berikut.
…Saya mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah Swt, bahwa kita mendirikan Negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia merdeka yang demikian itu adalah Negara Indonesia yang kuat, bukan negara yang lambat laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah Swt…
Soekarno
Dari pidato Bung Karno tersebut, dapatlah kita jadikan penyemangat selain proses lahirnya rancangan dasar negara dan proses perjuangan kemerdekaan dengan rentang waktu yang lama. 1 Juni, Indonesia bagai mendapat tiupan roh untuk makin melaju meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Hari ini, jelang 76 tahun kemerdekaan secara hukum telah kita dapatkan, kembalikanlah roh-roh itu di dada untuk anak-cucu kita agar Indonesia tidak menjadi bubur, demi anak-cucu di hari esok, bahkan sampai kapan pun. Kepakkan sayap-sayap Garuda itu agar terus mengangkasa, menelusuri ruang dan waktu, kapan pun dan di mana pun. Jangan patahkan sayap-sayapnya. Tanpa sayap, Garuda tak akan mampu lagi terbang setinggi-tingginya.

