Klinik Harapan Bunda

Beberapa jam setelah mengikuti zoom meeting Halal Bihalal Virtual dengan semua sahabat super di Komunitas Bengkel Narasi pada tanggal 22 Mei 2021 dengan tema “Manajemen Satu Rasa”, ponselku berdering. Ternyata saudara iparku menelepon. Dia memberi tahu bahwa kakakku akan melahirkan di Klinik Harapan Bunda dan memintaku beserta ibu untuk segera datang ke sana.

Setelah percakapan kami berakhir ditelepon, aku melangkah untuk memberi tahu kabar ini kepada ibu. Dia terkejut dengan menyebut nama Allah Swt dan memintaku untuk segera mengantarkannya ke klinik tersebut. Kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor.

Di tengah perjalanan, aku melihat ada kekhawatiran di wajah ibu yang tampak dari kaca spion. Aku bertanya pada ibu apa yang dia pikirkan dan khawatirkan. Ternyata dia khawatir karena kakakku sudah berumur 42 tahun, kemungkinan memiliki risiko tinggi untuk melahirkan. Karena itu, ibu tidak berhenti berdoa kepada Allah Swt dan berharap agar persalinan kakakku berjalan lancar dan bayinya lahir dengan selamat.

Tak lama kemudian, kami tiba di Klinik Harapan Bunda. Aku memarkirkan sepeda motor di samping klinik tersebut. Kami pun berjalan menuju pintu masuk klinik. Sebelum masuk, kami terlebih dahulu mencuci tangan, memakai hand sanitizer, dan menggunakan masker sesuai protokol kesehatan yang disyaratkan. Setelah itu, petugas security mengecek keadaan suhu tubuh kami dan mengizinkan kami untuk.

Aku bertanya kepada perawat di mana ruangan kakakku. Lalu dia memberi tahu kepada kami tempatnya. Kami bergegas, ternyata kakakku sudah berada di ruang bersalin.

Dari kejauhan, tampak saudara iparku yang sangat gelisah dan cemas di depan pintu kamar bersalin. Sesekali dia mengintip ke jendela kaca untuk melihat keadaan istrinya. Kami menghampirinya dan bertanya bagaimana keadaan kakakku. Dia menjawab bahwa kakakku sedang ditangani oleh dokter untuk melahirkan.

Aku dan ibu mengintip dari jendela kaca untuk melihat keadaan kakakku. Aku berdoa dari lubuk hati terdalam dan berharap agar kakakku dan keponakanku selamat keduanya. Kami semua menunggu dengan sabar dan penuh harapan. Ibuku tak hentinya berdoa dan berharap pada Allah Swt agar persalinan kakakku berjalan dengan lancar dan keduanya selamat.

“Eaaak…Eaak…!”Hampir setengah jam kami menunggu di luar, terdengarlah suara tangisan bayi yang sangat keras. Mendengar suara tangisan tersebut, kami sangat kaget, senang, terharu, dan bercampur semua perasaan.  “Alhamdulillaahirobbil ’aalamiin!” Kami merasa sangat bersyukur, bercampur antara senyum dan air mata.

Tak lama kemudian, pintu ruang bersalin pun terbuka. keluarlah seorang perawat mengatakan bahwa kakakku telah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat dan bayinya juga dalam keadaan sehat. Kami bertiga kembali mengucap syukur kepada Allah Swt atas kelancaran persalinan kakakku ini. Ibu langsung memelukku. Dia sangat senang sekali karena doa dan harapannya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Kehadiran sang bayi ditengah-tengah kehidupan

Berumah tangga akan membuat suasana rumah dan kehidupan menjadi lebih berwarna. Pada saat bayi lahir ke dunia, orang tuanya pasti berharap yang terbaik untuk sang buah hati agar kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara.

Sering kali ketika seseorang berbicara sebuah harapan untuk anaknya, akan selalu ada perasaan haru yang menyelinap di dada. Seperti itulah harapan seorang bunda untuk anak tercintanya. Dia tidak akan pernah berhenti berdoa dan berharap hingga akhir hayatnya, walaupun anak itu sudah tumbuh dewasa, mampu berdiri sendiri, bahkan sudah memiliki keluarga sendiri.

Harapan, doa, cinta, dan kasih sayangnya akan selalu ada dan tidak akan pernah pudar. Seorang bunda akan terus memohon dan berharap pada Sang Illahi untuk keselamatan, kebahagiaan, kesuksesan, dan kehidupan anaknya di dunia ini. Di balik diamnya seorang ibu, ada doa dan harapan yang selalu tersimpan untuk anaknya.

Harapan tidak lain adalah sebuah doa, keinginan, atau sesuatu yang (dapat) diharapkan oleh semua orang. Baik itu harapan dari orang tua untuk anaknya, harapan anak kepada orang tuanya, maupun untuk dirinya sendiri. Jadi, teruslah berharap kepada Tuhan selagi itu adalah harapan yang baik. hanya kepada Tuhanlah tempat kita satu-satunya berharap. []

(Visited 78 times, 1 visits today)
2 thoughts on “Harapan Bunda”
    1. Makasih bunda yg slalu memberi semangat utk saya menulis…insha allah bunda💪💪💪

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.