MAKASSAR – Mendengar kata ‘epilepsi’, ‘ayan’ atau ‘sawan’ saja orang-orang sering memakainya sebagai bahan lelucon dalam pergaulan sehari-hari. Dengan merebaknya media jejaring sosial tak jarang stigma epilepsi pun makin negatif karena kerap mendapat perlakuan diskriminatif..
Nah, untuk meluruskan itu semua dibutuhkan kebesaran hati para dokter spesialis syaraf yang hebat-hebat dengan posisinya, guru-guru, orang tua pendamping, tulisan karya-karya ilmiah kesehatan, kawan-kawan jurnalis, bloger dan profesi lainnya turut berpartisipasi nyata dalam menyadartahuan kepada khalayak bahwa kata ‘penyandang’ itu lebih manusiawi ketimbang menyebutnya “penderita” epilepsi. Dengan menulis kata “penderita” saja bisa memperkuat persepsi negatif pada penyandang gangguan neurologis ini.
Meski kedua kosa kata diatas mengandung makna serupa, alangkah indahnya mengatakan Orang Dengan Epilepsi (ODE) itu dengan sebutan “penyandang epilepsi” atau “pengidap” bukan “penderita epilepsi”, hal ini sebagai bentuk dari kampanye nyata menghentikan stigma negatif terhadap epilepsi.
Memang tidak semudah membalik telapak tangan, akan tetapi tanpa implementasi nyata dengan sering-sering menyebut, menulis, mengatakan, menggaungkan kata ‘penyandang’. Kata penyandang atau pengidap lebih manusiawi ketimbang “penderita” di tengah-tengah masyarakat awam.
Misalnya kita menyebutkan “orang itu kakinya buntung dan cacat, buta, budeg atau tuli”.
Membaca kata-kata itu sama halnya dengan merundung secara verbal. Akan lebih enak di dengar apabila mengatakan ‘Orang itu menyandang Disabilitas, tuna netra, tuna rungu’, silahkan bandingkan sendiri ya?
Aksi ini tentu dibutuhkan sinergi bersama dalam bentuk kampanye publik untuk memerangi sikap-sikap negatif terhadap Orang Dengan Epilepsi.
Upaya ini akan gagal total, apabila kita tidak bisa menyatukan visi dan misi memerangi stigma negatif tersebut. Namun untuk membuktikannya dibutuhkan lebih banyak orang-orang yang mempunyai kedudukan strategis berbicara menentang stereotip negatif yang terkait dengan epilepsi dan pesannya harus lebih kuat.
Sekarang saatnya bagi komunitas epilepsi dimana pun berada untuk bangkit, buatlah revolusi dengan sering-sering menggaungkan kata “Penyandang” ubah paradigma “Penderita” dengan kondisi yang dirasakan ini. ODE sendiri yang merasakan kenikmatan epilepsi, sementara orang terdekat hanya berperan sebagai pendamping buat memotivasi, selain itu dokter juga hanya sebatas konsultasi dan pengobatan anti epilepsi, selebihnya urusan biaya, pembelian obat anti epilepsi dan penyemangat hidup, ya dari ODE itu sendiri.
Menukil kalimat bijak dari sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Ali bin Abi Thalib, “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik”. Terimakasih, semoga bermanfaat.
