Pagi ini, Kamis 21 April 2022 tepat pukul 01.00 Wita, ketika mata tidak kunjung terpejam karena usai menonton sebuah drama romantis, aku seketika terdiam dan berpikir tentang suatu hal yang berkaitan dengan drama.
Drama….
Eeemmm, kita semua pasti tahu apa itu drama. Ya, drama adalah sebuah panggung yang diperankan oleh beberapa orang dan pasti memiliki sutradara yang berperan sebagai pembuat drama tersebut sehingga dapat ditonton oleh pemirsa.
Di dalam drama pasti ada pemeran utama, pemeran pendukung dan pengganti. Semuanya berjalan sesuai dengan arahan sutradara.
Di dalam kehidupan, masing-masing kita adalah pemeran utama dalam drama kehidupan kita. Orang yang ada di sekeliling kita seperti bapak, mama, kakak, adik, sanak keluarga, kerabat, sahabat, dan bahkan orang yang tidak kita kenal adalah pemeran pendukung dan pengganti dalam drama kehidupan kita.
Skenario atau alur cerita dalam drama kita akan terus maju dan tidak akan pernah ada alur maju-mundur seperti drama yang selalu kita tonton. Mungkin, tapi bukan mungkin lagi sih karena kita semua akan tahu bagaimana ending atau akhir cerita yang kita tonton bahkan hanya dengan melihat judul ceritanya.
Namun, drama kita yang di sutradarai oleh Sang Pemilik Kekuasaan tertinggi dalam hidup kita, skenarionya yang tidak akan pernah salah dalam merangkai cerita hidup kita dan tidak satu orang pun bahkan Malaikat sekalipun tidak akan tahu bagaimana akhir cerita hidup kita.
Kita tidak akan pernah tahu bagaimana cerita di setiap episodenya. Jangankan alur cerita atau endingnya, bahkan karakter pemeran yang ada dalam cerita tersebut kita tidak pernah bisa menebaknya. Siapa yang berperan sebagai orang yang jahat atau pun baik dalam hidup kita.
Betapa dahsyatnya skenario yang Allah ciptakan untuk kita. Drama hidup kita tidak membutuhkan skrip yang tebal dan harus dihapal karena skrip dari Tuhan terjadi secara natural dan tanpa rekayasa sedikitpun.
Perjalanan dari drama yang kita lakoni akan sangat berbeda bahkan tidak akan pernah sama dengan orang lain, sekalipun itu saudara kembar kita. Mulai dari bagaimana kita bisa ada dalam rahim ibu, proses dilahirkan, kita lahir di lingkungan yang seperti apa, masa pertumbuhan kita yang bagaimana, berproses menjadi seseorang yang berguna, berkeluarga hingga menghembuskan nafas.
Akhir cerita masing-masing dari kita pasti akan berbeda. Ada yang berakhir tragis, bencana, sepele, dan penuh kedamaian. Apakah akan berakhir ketika masih di dalam rahim, usia balita, dewasa atau pun di usia tua.
Di dalam cerita kehidupanku juga seperti itu. Terlahir dalam keluarga yang sedehana, bertumbuh tanpa adanya sosok ayah. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh seorang single mother yang tangguh.
Bersyukur yang sangat luar biasa karena mampu bersekolah dengan sangat baik, bahkan tidak pernah sekali pun terpikir untuk ke tanah Jawa mengenyam pendidikan hingga mampu lulus S1 Pendidikan di kampus hijau, UNISSULA Semarang.
Berkali-kali gagal dalam tes penerimaan CPNS dan PPPK, tetapi tetap semangat dan selalu mencoba untuk terus bangkit meskipun hingga sekarang belum berhasil.
Tidak jauh berbeda dengan jodoh. Di usia yang sudah bukan belasan tahun lagi bahkan mungkin kata orang tua, usia lampu kuning tapi belum ketemu arjunanya.. hahaha dianya masih belum dipertemukan oleh Sang Pemilik hati ini, Allah SWT.
Satu hal lagi yang tidak pernah terlintas dalam benak, bahwa aku yang dulunya jangankan satu narasi, satu paragraf saja akan mampu merangkai kata-kata untuk menjadi sebuah narasi yang dapat dikonsumsi oleh pencinta literasi.
Keikutsertaanku dalam sebuah komunitas yang tidak ada sekat pemisah untuk saling berbaur dan bertukar pikiran secara lugas dengan mentor-mentor hebat di komunitas Bengkel Narasi yang disingkat BN.
Dorongan awal hingga saat ini dari Bunda Rosmawati tercinta yang merupakan mentor PAI yang luar biasa dan motivator yang sangat gigih untuk terus memberikan dorongan dalam menulis satu paragraf lalu dua, tiga dan seterusnya.
Melalui bunda Rosmawati, aku dipertemukan dan diperkenalkan dengan seorang motivator hebat, pendiri komuntas BN, PAI dan Sipil Institute, Bang Ruslan Ismail Mage. Walau belum pernah bertatap muka secara langsung, tapi selalu berkomunikasi lewat media sosial dengan beliau. Beliau selalu meluangkan waktnya yang jam terbangnya sangat padat untuk membimbing tulisanku sehingga layak untuk konsumsi publik.
Orang ke tiga yang memotivasi saya adalah pak Samrin. Beliau adalah salah satu mentor di PAI Kolut. Dari rayuan dengan ucapan manisnya untuk aku ikut bergabung dalam sebuah komunitas menulis yang melahirkan karya-karya yang luar biasa dari insan-insan yang hebat, sehingga rasa ingin tahuku bergejolak untuk bergabung. Sekarang aku telah ada di komunitas yang dipenuhi oleh orang-orang hebat tersebut dan aku sangat bangga akan itu.
Skrip sebelumnya mampu aku ceritakan tetapi untuk selanjutnya tidak bisa aku ceritakan karena hanya Dia lah yang mengetahui bagaimana jalan hidupku nantinya.
Semoga episode selanjutnya, Allah SWT memberikan aku kesempatan untuk lulus dalam seleksi PPG karena saat ini lagi menantikan pengumuman apakah ikut atau tidak dalam ujian PPG. Aamiin..
Saya percaya semua itu Allah rancang jauh sebelum kita dilahirkan. Semua yang telah terjadi dengan kita adalah takdir yang telah Allah tentukan atas kita. Tidak akan ada keraguan sedikitpun.
Jangan pernah kita memaksa orang lain untuk mengikuti bagaimana kehidupan kita begitupun sebaliknya. Kita tidak boleh memaksakan jalan cerita kita harus seperti orang lain. Jadilah pemeran pendukung yang seharusnya yang telah Allah buatkan untuk kita dalam cerita mereka dan jadilah pemeran utama untukmu sendiri.
This is your life and it is their life. We have different ways to live.
