Vladimir Ilyich Ulyanov, yang lebih dikenal dengan julukan Lenin, adalah seorang tokoh revolusioner komunis, politikus, dan teoretikus politik berkebangsaan Rusia. Nama Lenin sebenarnya adalah nama samaran yang diambil dari nama Sungai Lena di Siberia
wikipedia
A. Biografi Singkat Vladimir Lenin
Vladimir Ilyich Ulyanov, dikenal juga dengan nama populer Vladimir Lenin. merupakan seorang politisi, teoritikus, serta revolusioner dari Rusia.
Namanya dikenal dunia setelah mendirikan Partai Komunis Rusia. Dia menjadi arsitek sekaligus penggerak Revolusi Bolshevik yang berlangsung pada 1917.
Dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dunia di abad 20.
Berikut merupakan biografi Lenin setelah dilansir dari berbagai sumber.
Vladimir Lenin lahir pada 22 April 1870 di Simbirsk dan dibaptis enam hari kemudian. Semasa kecil, dia dipanggil Volodya yang merupakan kependekan dari Vladimir.
Merupakan pria terhormat, Vladimir Lenin menghabiskan waktunya di luar rumah atau bermain catur. Dia juga dikenal sebagai murid yang pandai serta disiplin di Simbirsk Classical Gimnazia.
Pada usia 15 tahun, ayahnya meninggal karena pendarahan otak. Sejak kematian ayahnya, perilaku Lenin berubah. Dia sering uring-uringan dan tidak percaya kepada Tuhan.
Deritanya makin bertambah setelah sang kakak, Alexander, mengikuti pergerakan yang menentang monarki absolut Tsar Alexander III dan mencoba membunuhnya.
Sebelum usahanya untuk menaruh bom berhasil, pergerakan mereka keburu terbongkar. Dia diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan digantung pada Mei 1886.
Meski sangat terpukul karena kematian ayah serta kakaknya, vladimir Lenin tetap melanjutkan pendidikan dan lulus sebagai juara sekolah, serta melanjutkan ke Universitas Kazan.
Saat belajar di Kazan pada Agustus 1887, dia bergabung dengan zemlyachestvo. Sebuah gerakan universitas berisi perwakilan mahasiswa dari berbagai wilayah.
Desember 1887, dia mengambil bagian dalam demonstrasi melawan pemerintah yang melarang adanya kegiatan mahasiswa. Polisi menangkap dan menuduh Lenin sengaja memprovokasi.
Imbasnya, dia dikeluarkan dari universitas dengan Kementerian Dalam Negeri memilih membuangnya ke kediaman keluarganya di kawasan Kokushkino.
Di sana, Lenin menjadi radikal dengan membaca buku seperti What Is To Be Done? karangan Nikolai Chernyshevsky yang membuatnya sangat memuja revolusi politik.
Kemudian dia membaca pemikiran filsuf Jerman Karl Marx yang dituangkan dalam buku Das Kapital yang kelak bakal berdampak terhadap pandangannya. Pada Januari 1889, dia mendeklarasikan diri sebagai Marxist.
Ibu Lenin sangat khawatir karena melihat putranya menjadi radikal, dan meyakinkan Kementerian Dalam Negeri agar bersedia mengizinkannya kembali ke Kazan.
Meski tidak diizinkan kembali ke kampus, Lenin berhasil menamatkan pendidikan di bidang hukum.
Bersama keluarganya, dia pindah ke daerah pedesaan di Samara.Di sana, kliennya merupakan petani. Kesulitan para petani itu dipandang Lenin sebagai bias kelas yang makin membuatnya percaya kepada pandangan Marx.
Vladimir Lenin begitu fokus terhadap revolusi politik. Pertengahan 1890, dia pindah ke St Petersburg yang menjadi ibu kota saat itu, dan menemukan sesama Marxist lainnya.
Desember 1895, perkumpulan mereka diketahui pemerintah. Lenin dan Marxist lainnya ditangkap dan ditahan. Dia kemudian dibuang ke Siberia selama tiga tahun.
Lepas dari pengasingan, dia pindah ke Muenchen, Jerman, di mana bersama Marxist lainnya mendirikan harian Iskra untuk menyatukan Rusia serta Marxist di Eropa.
Dalam Kongres Kedua Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia pada 1903, Lenin mengeluarkan retorika berapi-api tentang gagasan negara.
Negara merupakan senjata penindas dari satu kelas atas kelas yang lain. Jika kamu bukan bagian dari solusi, berarti kamu bagian dari masalah. Maka dari itu, bertindaklah. Modal menjadi penghalang bagi cara produksi yang telah berkembang bersamanya, dan tumbuh di bawah perlindungannya.
Vladimir Lenin
Lenin kemudian menjabat sebagai Kepala Negara Soviet Rusia sebelum berubah nama menjadi Uni Soviet pada November 1917 hingga dia wafat pada 21 Januari 1924.
Lenin, arsitek Revolusi Bolshevik dan pemimpin pertama Uni Soviet, meninggal karena pendarahan otak pada usia 54 tahun. Peristiwa penting ini terjadi pada 21 Januari 1924.
Dalam filosofi Marxis, Leninisme merupakan bagian dari teori politik organisasi demokratis suatu partai politik revolusioner dan pencapaian demokrasi langsung kediktatoran proletariat sebagai awal dari sosialisme. (Kompas.id).
Tujuan Sosialisme adalah Komunisme.” “Komunisme muncul secara positif di setiap bidang kehidupan publik; permulaannya harus dilihat secara harfiah di semua bidang
Vladimir Lenin
B. Buku Vladimir Lenin: Religion
Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja. Ini adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang “bebas”, yang sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya “diberi hak” sebatas sarana subsistensinya.
Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan keberlangsungan perbudakan kapitalis.
Sebenarnya interpretasi oleh Lenin atas tulisan Marx lah yang kemudian membuat pernyataannya lebih tajam terhadap agama. Lenin sangat kritis terhadap agama, yang ditulis dalam bukunya “Religion”:
Atheism is a natural and inseparable part of Marxism, of the theory and practice of scientific socialism.
(Ateisme itu alami dan bagian tak terpisahkan dari Marxisme, dari sebuah teori dan praktik dari sosialisme ilmiah).
Dalam About the attitude of the working party toward the religion, ia menulis:
Religion is the opium of the people: this saying of Marx is the cornerstone of the entire ideology of Marxism about religion. All modern religions and churches, all and of every kind of religious organizations are always considered by Marxism as the organs of bourgeois reaction, used for the protection of the exploitation and the stupefaction of the working class.
atau diterjemahkan:
Agama adalah opium bagi masyarakat: ini tulisan Marx, inilah batu loncatan dari keseluruhan ideologi Marxisme mengenai agama. Seluruh agama dan gereja-gereja modern, semua jenis organisasi agama selalu dianggap organ dari reaksi borjuis oleh Marxisme. Ia digunakan untuk melindungi eksploitasi dan kelumpuhan kelas pekerja
Hanya saja , meskipun Lenin kritis terhadap agama, ia membuat kesimpulan untuk tidak memasukannya dalam “Program Kita” atau sasaran ideologinya dengan mengatakan:
But under no circumstances ought we to fall into the error of posing the religious question in an abstract, idealistic fashion, as an “intellectual” question unconnected with the class struggle, as is not infrequently done by the radical-democrats from among the bourgeoisie. It would be stupid to think that, in a society based on the endless oppression and coarsening of the worker masses, religious prejudices could be dispelled by purely propaganda methods. It would be bourgeois narrow-mindedness to forget that the yoke of religion that weighs upon mankind is merely a product and reflection of the economic yoke within society. No number of pamphlets and no amount of preaching can enlighten the proletariat, if it is not enlightened by its own struggle against the dark forces of capitalism. Unity in this really revolutionary struggle of the oppressed class for the creation of a paradise on earth is more important to us than unity of proletarian opinion on paradise in heaven.
atau diterjemahkan:
Namun dalam kondisi apapun, kita tidak boleh jatuh dalam kesalahan membuat pertanyaan agama dalam bentuk abstral, bentuk yang idealistik, dan dalam pertanyaan intelek yang tidak berhubungan dengan perjuangan kelas, sebagaimana ia sering dilakukan para radikal-demokrat dari kelas borjuis.
Hal bodoh untuk berpikir bahwa dalam sebuah masyarakat yang berbasis kepada tekanan dan pengkasaran massa pekerja, prejudice relijius bisa dilawan dengan metoda propaganda. Tidak ada bedanya dengan kesempitan pikir para borjuis untuk melupakan inti dari agama yang menitikberatkan bahwa manusia adalah produkn dan refleksi dari perbudakan ekonomi di dalam masyarakat. Tidak ada pamflet dan kotbah yang cukup untuk bisa menyadarkan para proletar, jika tidak tercerahkan oleh perjuangan mereka sendiri melawan kekuatan gelap kapitalisme.
Kesatuan dalam perjuangan revolusioner sebenarnya dari kelas tertindas untuk menciptakan surga di dunia lebih penting untuk kita daripada kesatuan opini para proletar di surga.
Sehingga terlihat bahwa Lenin berusaha menyarankan untuk mengelak untuk terjebak dalam debat kusir mengenai agama, dan berfokus kepada perjuangan kelas
Kita melihat bahwa sejak Engels dan Lenin dasar pandangan dunia proletariat adalah materialisme. Dengan demikian, “sosialisme ilmiah” versi Lenin tidak mempunyai tempat bagi agama. Materialisme berarti kepercayaan bahwa semula hanya ada materi dan apa saja yang ada berkembang dari materi.
Vladimir Lenin menulis: “Proletariat modern mengaku menganut sosialisme yang mengabdikan ilmu pengetahuan demi perjuangan melawan kabut keagamaan dan membebaskan buruh dari imannya akan hidup di alam baka dengan mempersatukan mereka dalam perjuangan di hidup ini demi kehidupan lebih baik di dunia” [Lenin 1956, 7].
Dalam praktik politik, Vladimir Lenin selalu bersikap pragmatis. Juga dalam hal agama. Dalam sebuah karangan dari tahun 1905 tentang “Sosialisme dan Agama” [Lenin 1956, 6–11].
Vladimir Lenin menjelaskan posisinya. Merebut hati buruh lebih penting daripada menyebarkan ateisme. Oleh karena itu, orang yang bukan ateis pun boleh masuk partai komunis. Partai harus memperhatikan prasangka-prasangka religius kaum buruh, jangan sampai mereka terasing dari partai karena sikap partai yang anti-agama.
Dalam arti ini Lenin menyatakan mengakui kebebasan beragama. Akan tetapi, propaganda komunis niscaya juga memuat propaganda ateis.
Namun, mengenai prinsip ateisme, Lenin tidak mengenal kompromi. “Bagi partai proletariat sosialis, agama bukan urusan pribadi.
Partai kita merupakan serikat pejuang demi pembebasan kelas buruh yang sadar akan kedudukan kelas mereka dan progresif.
Serikat semacam itu tidak dapat dan tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap ketidaktercerahkanan, ketidaktahuan dan kebodohan dalam bentuk kepercayaan religius” [Lenin 1950; 9].
Dalam negara yang dikuasai oleh partai komunis, agama tidak boleh berperan sama sekali. Dalam kenyataan, Gereja Ortodoks Rusia sesudah Revolusi Oktober segera diserang. Hak milik Gereja dan sekolah-sekolahnya diambil alih. Gereja dila- rang untuk melakukan kegiatan apa pun di luar gedung gereja; tidak boleh menerbitkan buku dan majalah;, pelajaran agama dilarang dan tempat pendidikan calon pastor ditutup. Kebanyakan biara di wilayah Uni Soviet ditutup. Ribuan pastor, biarawan dan biarawati dibunuh [Bochenski/Niemeyer 1958 , 543].
Lenin sendiri sudah tidak beragama sejak muda. Baginya ateisme begitu biasa sehingga tak pernah dianggap perlu dibuktikan. Berbeda dengan Karl Marx yang juga seorang ateis, tetapi bersikap dingin terhadap agama karena sekunder, Lenin rupa-rupanya secara pribadi benci terhadap agama.
Kritik agama Lenin tajam: “Agama adalah candu bagi rakyat.
Agama adalah semacam wiski rohani murahan, di dalam- nya para budak modal menenggelamkan muka manusianya, hak mereka atas hidup yang masih pantas bagi manusia” [Lenin 1956, 7].
Dengan mengetahuinya, dan membaca pikiran pikiran komunisme bukan berarti kita sudah Komunis, idiologi bisa dipelajari dan tidak menjadi bagian darinya. Dengan mengetahuinya kita bisa paham dan titik lemahnys sehingga kita tidak bagian darinya.
Dr. Sudirman, S. Pd. M. Si.
C. Simpulan pendapat Lenin terhadap agama
1). Vladimir Lenin dalam Tulisannya “Sosialisme dan Agama“, mengatakan bahwa “Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi.” Lenin meminta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi dan tidak menjadi perhatian negara.
2). Menurut Lenin agama menjadi sarana yang dengan sengaja dipakai oleh kelas_kelas berkuasa untuk menipu kelas bawah.”(Franz Magnis Suseno, Dalam bayang2 Lenin). (https://t.co/Z9xxRJ2Po7).
3). Lenin pendiri sosialis menurut nya agama adalah penyakit yang membuat suatu kaum tidak akan beranjak dari kemunduran dunia.
4). vladimir lenin agama adahal urusan pribadi yang bukan urusan negara. namun diskriminasi agama tidak ditolerir oleh negara.
Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman apapun.
Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai.
Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan.
Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan.
Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir.
Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi.
5). Proletariat modern mengaku menganut sosialisme yang mengabdikan ilmu pengetahuan demi perjuangan melawan kabut keagamaan dan membebaskan buruh dari imannya akan hidup di alam baka dengan mempersatukan mereka dalam perjuangan di hidup ini demi kehidupan lebih baik di dunia” [Lenin 1956, 7].
Referensi Bacaan :
Sumber: V. I. Lenin, Collected Works, Edisi Bahasa Inggris yang ke-4, Progress Publishers, Moscow, 1972, Cetakan ke-3, halaman 83-87
Demikian pembahasan tulisan tentang pemikiran Vladimir Lenin mengenai Agama. Semoga bermanfaat sebagai bacaan referensi dan menambah wawasan dalam literasi.
Makassar, 9 Mei 2022
Sudirman Muhammadiyah

Baca agar kita tahu supaya obyektif dalam menilai dan bersikap. ilmu pengetahuan adalah pisau analisis untuk membedah fenomena di sekitar kita.
Sudirman Muhammadiyah
