Pemimpin harus bersiap menghadapi dua ancaman yg akan mengganggu stabilitas negaranya. Salah satunya adalah rakyat. Pemimpin sebisa mungkin harus menjaga perasaan rakyatnya. Jika tidak, bersiaplah menghadapi rakyat sendiri sebagai musuh. Lalu yg kedua,adalah ancaman dari negara luar.

Untuk menghadapi ancaman ini, tentu diperlukan tentara. Dan tentara itu haruslah tentara yg murni dari negeri sendiri, atau bahasa kasarnya, pribumi.

Nicolo Macchiavelli

17 Mei 2021 tepat hari buku nasional, salah satu tujuannya agar kita gemar membaca, hari ini saya baca buku Sang Pangeran karya Niccolo Machiavelli, semoga adrenalin menulis setelah membaca di ikat dengan rapi dalam bentuk tulisan dari berbagai sumber, mari mendarasnya dalam utas yang padat.

Niccolo Machiavelli (1469-1527)

Biografi Singkat

Niccolo Machiavelli (lahir di Florence, Italia, 3 Mei 1469 – meninggal di Florence, Italia, 21 Juni 1527 pada umur 58 tahun) adalah diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf. Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans.

Dua bukunya yang terkenal, Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Diskursus tentang Livio) dan Il Principe (Sang Pangeran), awalnya ditulis sebagai harapan untuk memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara, kemudian menjadi buku umum dalam berpolitik di masa itu.

Mari kita membahas langsung buku terkenal dari Machiavelli berjudul The Prince!
Il Principe adalah sebuah risalat politik oleh seorang pegawai negeri dan teoretikus politik Firenze Niccolò Machiavelli. Aslinya berjudul De Principatibus, ditulis pada 1513, namun baru diterbitkan pada 1532, lima tahun setelah kematian Machiavelli. Wikipedia:(2021)

Ditulis tahun 1513, The Prince menjelaskan dengan sistematis bagaimana cara seseorang untuk dapat meraih kekuasaan, menjaganya, dan menggunakan kekuasaan politik itu dengan tepat.

Machiavelli menjelaskan bahwa fondasi fundamental sebuah negara itu ada 2, hukum yang tegak dan militer yang kuat. Maka dari itu, seorang pemimpin yang dapat dibilang seorang pemimpin sejati adalah pemimpin yang memiliki 2 hal ini untuk melawan musuh politiknya.

1. Benteng yang kuat

2. Bantuan kekuatan negara sekutu

3. Kecukupan logistik

4. Peran untuk menjaga moral pasukan

Keempat hal ini menjadi fondasi seorang pemimpin untuk meraih kredibilitasnya dalam menjaga negara yang ia pimpin.

Ada hal menarik dari Machiavelli ini juga. Ia menentang adanya mercenary atau biasa kita sebut dengan tentara bayaran. Saat itu, praktek mercenary adalah hal yang lazim dan Machiavelli mengutarakan penjelasan logis mengapa ia menentang praktek ini.

1. Mereka lemah, karena berperang untuk uang

2. Mereka tidak loyal

3. Mereka berdisiplin rendah

4. Mereka pengecut

Hal paling parah adalah ketika suatu negara menang perang, negara ini akan berhutang budi kepada negara lain yang membantu memberikan mercenary ini!

Hutang budi tersebut dapat menyebabkan kontrol negara turun drastis karena jadi ada dibawah pengaruh penguasa pasukan yang membantunya. Hal ini juga dapat merembet ke kudeta yang dapat dilakukan oleh jenderal pasukan bantuan tersebut.

Hal menarik lainnya dari buku ini adalah tentang reputasi dari seorang pemimpin. Ditulis bahwa seorang pemimpin harus punya reputasi sebagai orang yang dermawan, penyayang, bijak, religius, tapi TIDAK boleh benar-benar menjadi pemimpin yang seperti itu.

Kalau misalnya seorang pemimpin benar-benar kayak gitu, ia akan mudah dikeliling orang jahat yang dapat mengancam kapanpun. Makanya, ada kutipan dari Machiavelli yang terkenal seperti ini:

“Lebih baik ditakuti dibanding dicintai kalau seseorang tidak bisa menjadi keduanya”

Ia mengelaborasinya lebih dalam menjadi seperti ini:

“Komitmen yang dibuat pada kondisi damai takkan dijaga dan ditepati pada kondisi sulit (ketakutan), tapi komitmen yang tercapai pada ketakutan akan selalu ditepati, walaupun kondisi ketakutan itu telah usai.”

Seorang pemimpin tidaklah boleh takut dibenci, begitu juga dengan mengelola pasukan yang besar. Kenapa?

Karena yang mempersatukan para pasukan ialah ketakutan akan pemimpinnya. 

Rasa takut boleh dimunculkan dengan kekejaman yang sistematis agar mencapai rasa hormat yang absolut!

Bagian terakhir yang cukup menarik untuk disimak dari buku ini adalah ketika Machiavelli menjelaskan bahwa pemimpin itu HARUS berpihak, tidak boleh netral. Kenapa?

1. Kalau pihak yang kita bela menang, kita akan dapat keuntungan bagaimanapun kondisinya.

2. Kalau kita lebih kuat daripada pihak yang kita bela, mereka akan patuh sama apapun yang kita inginkan.

3. Kalau pihak yang kita bela lebih kuat, tetap saja mereka akan berhutang budi dan berusaha memenuhi keinginan kita.

4. Kalau kalah, kita punya teman dalam kekalahan!!!

Pada akhirnya, Machiavelli memberikan catatan untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kita harus yakin bahwa keputusan yang diambil, layak untuk diperjuangkan dengan gagah berani. Ini patut kita contoh juga dalam setiap kondisi bernegara.

Dalam bab 17 buku The Prince , Machiavelli memperbincangkan apakah seorang Pangeran itu lebih baik dibenci atau dicintai.

Pendapat Machiavelli: “Jawabannya ialah seorang pemimpin selayaknya bisa ditakuti dan dicintai sekaligus. Tetapi, jika tidak mampu mendapatkan keduanya, lebih baik ditakuti daripada dicintai. Sebabnya, cinta itu diikat oleh kewajiban yang membuat seseorang mementingkan dirinya sendiri, dan ikatan itu akan putus apabila berhadapan dengan kepentingannya. Tetapi, ketakutan didorong oleh kecemasan dijatuhi hukuman…”

Karena rasa takut sungguh cocok dengan tidak adanya rasa benci. Seandainya memang ada alasan untuk menghukum seseorang, ini harus dilakukan hanya kalau ada pembenaran yang wajar dan alasan jelas untuk melakukan hal tersebut. Tetapi lebih-lebih raja harus menjauhkan diri dari harta milik orang lain, karena orang lebih mudah melupakan kematian leluhurnya daripada kehilangan warisan leluhurnya.

Memang selalu ada alasan untuk merampas harta seseorang, tetapi seorang raja yang mulai hidup dengan merampok selalu ingin berusaha merebut harta milik orang lain. Sebaliknya, alasan untuk menghukum seseorang lebih sulit ditemukan dan alasan-alasan itupun tidak mudah mendapat dukungan.

Seorang raja tidak perlu memiliki semua sifat baik yang disebutkan diatas, tetapi ia tentu saja harus bersikap seakan-akan memilikinya. Itulah kunci absolutisme suatu kekuasaan.

Niccolo Machiavelli

Demikian utas maha karya Niccolo Machiavelli (1469-1527)semoga ghirah dan semangat membaca kita tak pernah pudar, SELAMAT HARI BUKU NASIONAL

Sumber:

1. The Philosophy Book (DK)

2. The Greatest Philosopher (Andi)

3. Konten oleh: @NathPribady

4. http://id.shvoong.com/books/1697554-il-prince/


(Visited 1,086 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

4 thoughts on “Sang Pangeran Karya Niccolo Machiavelli”
  1. Cintailah MEMBACA, Karen semakin banyak kamu membaca maka semakin banyak juga tempat yg kamu kunjungi 🙏

  2. Cintailah MEMBACA, Karena semakin banyak kamu membaca maka semakin banyak juga tempat yg kamu kunjungi 🙏

  3. Cintailah MEMBACA, Karen semakin banyak kamu membaca maka semakin banyak ilummu kau dapat ☺️🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.