Beberapa tahun lalu ada seorang siswi berasal dari kampung yang sangat jauh dari kecamatan di mana berada di pedalaman yang tidak dihuni oleh banyak orang. Kedua orang tuanya petani. Siswi ini namanya Rita. Dia bersekolah SD dan SMP di lokasi tersebut. Karena tingkat pendidikan tertinggi di lokasi itu hanya sampai di tingkat SMP, maka mau tidak mau Rita harus tinggalkan kedua orang tuanya.
Rita punya niat untuk melanjutkan pendidikannya di SMA negeri karena di SMA negeri biaya sekolahnya murah. Rita memiliki cita-cita menjadi seorang perawat. Rita ingin menjadi seorang perawat untuk kembali mengabdi di kampung halaman.
Mulailah Rita datang bersama dengan para pedagang yaitu tante-tante yang berasal dari satu kampung dan kebetulan masih ada hubungan keluarga sehingga mereka tinggal bersama-sama satu kontrakan.
Maka Rita mulai mendaftarkan diri di salah satu SMA Negeri yang ada di kota Dili. Dengan berjalannya waktu dia mulai bergaul dengan teman-teman cowok maupun cewek. Mulai ada tugas kelompok di sekolah. Rita termasuk siswa yang cantik dan pintar. Sering menjadi pusat perhatian dalam kelas, sehingga ada beberapa teman-teman cewek pun cemburu karena banyak cowok ganteng yang suka godain Rita.
Suatu hari pada pertengahan cawu ketiga, ada suatu tugas yang diberikan oleh guru matematika untuk menyelesaikan soal cakaran. Maka ada beberapa cowok yang kurang mengerti untuk menyelesaikan soal tersebut, maka ada seorang teman cowok menawarkan diri ke rumah Rita untuk mendapatkan penjelasan dan jawaban dari soal tersebut. Tapi di samping itu, teman cowok itu memiliki niat negatif terhadap Rita.
Kebetulan orang-orang yang di kontrakan kosong karena masih berdagang di pasar. Maka timbullah niat jahat teman cowok tersebut yang bernama Aires. Sampai Rita tidak sadarkan diri. Akhirnya si Aires kabur karena mendengar ada keluarga Rita datang dari pasar. Tapi semuanya sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur.
Selama seminggu Rita tidak pergi ke sekolah karena sakit dan menanggung malu. Keluarga dari Rita mulai curiga dengan perbuatannya. Tapi Rita hanya menutupi semuanya. Minggu berikutnya Rita mulai masuk kelas lagi tapi semangat belajarnya mulai menurun. Akhirnya pada saat ujian cawu III Rita mendapat rangking di urutan ke IV padahal sebelumnya di cawu I dan Cawu II Rita rangking Selalu urutan I.
Pada saat liburan panjang, Rita mulai merasa tidak enak badan, sering mual dan muntah – muntah. Timbul banyak pertanyaan pada keluarga besar dan terutama kedua orang tuanya. Apa lagi tetangganya, mereka mulai mengerumpi tentang Rita karena perutnya mulai kelihatan membesar layaknya ibu hamil.
Teman sekelas Rita mulai aktif kembali masuk kelas di bangku kelas 2. Tapi Rita tidak muncul. Maka timbullah pertanyaan demi pertanyaan dari dalam hati cowok yang telah menghamili Rita. Dia mulai berpikir untuk pindah sekolah karena mendengar berita bahwa Rita sedang hamil. Akhirnya dia memutuskan untuk pindah sekolah ke tempat lain.
Sementara itu Rita merasa tersiksa di kampungnya. Dia sempat punya niat untuk bunuh diri tapi gagal karena di kuatkan oleh seorang guru agama yang rumahnya berdampingan dengan rumahnya Rita. Karena kedua orang tua sering marah – marah sama Rita. Karena Rita tidak berbicara jujur siapa ayah dari si bayi yang sedang ada dalam kandungannya. Karena Rita tahu persis ayah dari si bayi itu bahwa teman cowok itu anak nakal yang sangat brutal. Sehingga Rita hanya mendiamkan saja.
Setelah beberapa bulan kemudian tibalah saatnya Rita mau melahirkan. Maka lahirlah bayi itu. Bayi tersebut seorang putra yang dinamakan Brilian.
Kedua orang tua merasa bahagia dengan kehadiran Brilian. Setelah 3 bulan masuk tahun ajaran baru. Maka Rita kembali ke Dili untuk melanjutkan sekolahnya. Tapi pindah ke sekolah yang lain. Mulai kelas 2. Tanpa sengaja, Rita pindah dan ketemu kembali dengan Aires ayahnya Brilian. Akhirnya timbul perasaan cinta diantara mereka, walaupun hanya tersembunyi. Lama kelamaan mereka memutuskan untuk pulang kampung bareng karena si Brilian seringkali kali sakit. Akhirnya Rita tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena harus mengurus Brilian.
Mulailah orang tua minta kepada ayahnya Brilian untuk mengurus adat. Tapi orang tua dari bapaknya Brilian lepas tangan. Tidak mau tanggung jawab. Akhirnya keduanya putus sekolah hanya mencari nafkah lewat jual barang dagangan. Menanam sayuran lalu jual ke pasar – pasar.
Dalam hidup berumah tangga mereka sering saling marah-marah karena cemburu satu sama lain, sampai terjadi perselingkuhan. Lebih parah lagi ekonomi yang tidak terpenuhi.
Rita Selalu menyesali dan meratapi nasibnya yang malang itu. Dia tidak sanggup melihat teman se angkatan yang sukses melanjutkan kuliahnya di universitas. Terutama dia gagal menjadi perawat. Rita berjanji pada dirinya untuk menjaga dan membina anaknya Brilian agar suatu saat menjadi orang sukses dan tidak boleh mengalami hal buruk yang pernah dialami oleh kedua orang tuanya.
Mendengar kisah Rita, tiba-tiba teringat nasehat orang tua yang menarik dimaknai bahwa, “nasib bukan untuk diratapi, tetapi bangkit merubahnya, karena Tuhan tidak akan merubah nasib seorang hamba kalau tidak berusaha merubahnya sendiri”.
Penulis : Elvira Pereira Ximenes
