By. Rosita Samad, S.P

Tiga puluh tujuh tahun lalu saat harga emas masih diangka Rp.21.500 per gram saat kita masih sibuk dalam pencarian jati diri. Kini saat harga emas sudah tembus Rp. 2,8 juta per gram naik berlipat-lipat dan masing-masing kita telah menjadi pribadi yang tak lagi seenergik dulu.

Saat seragam putih abu-abu masih menemani langkah kecil yang nantinya akan menjadi pondasi langkah besar di masa mendatang. Satu persatu datang ke sekolah mengambil ijazah untuk berbagai peruntukan. Sebagian untuk tiket mendaftar ke Perguruan tinggi favorit dan sebagian lagi menjadi arsip dokumen pribadi yang menjadi bukti otentik perjalanan hidup. Masa sekolah berubah menjadi panggung realita masing-masing pribadi, kembali utuh dengan lingkungan keluarga. Satu persatu melepas masa lajang dengan cerita cinta dan romansa yang berbeda. Kami yang memilih meninggalkan kampung halaman menuju kota tempat menimba ilmu pengetahuan berbaur dengan lingkungan sekitar yang baru dan menjadi guru experience mumpuni.

Waktu berlalu berganti dari hari ke minggu ke bulan dan ke tahun mengukir kisah masing-masing di tempat yang berbeda-beda. Bermula dari pertemuan angkatan 89 di kali biru Binuang Sulawesi Barat pada tanggal, 14 Mei 2022 bertajuk family gathering yang sangat memorable dan penuh canda tawa khas anak putih abu-abu. Kemudian membentuk grup whatsapp yang menjadi wadah informasi dan komunikasi walau hanya sekadar say hello setiap hari.

Beberapa pertemuan berikutnya sebagai bentuk ikatan persaudaraan seperti acara nikahan keluarga angkatan 89, kedukaan, jenguk yang sakit atau lepas kangen diberbagai tempat sesuai kesempatan bersama.

Hari ini kami menghadiri undangan H. Suryadi dan keluarga untuk bersilaturahim sekaligus menikmati suguhan hasil panen kolam air tawar dan peternakan telur yang beliau kelola. Keseruan teman mancing dan canda tawa serta diskusi lepas berbagai bidang berbaur indah dalam kebersamaan tanpa sekat. Beberapa alumni 89 yang menduduki posisi strategis di pemerintahan Kabupaten Sidrap, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Soppeng. Duduk bercengkrama membahas berbagai hal disertai joox yang mencairkan suasana. Tak terasa waktu berlalu dan berpamitan dengan janji pertemuan dilain tempat dan di lain waktu.

Persahabatan tanpa batas mengajarkan kita bahwa saudara tak harus sedarah dan sepenanggungan tak harus satu kepala keluarga. Beribu teman terlalu sedikit sepanjang perjalanan hidup, satu musuh terlalu banyak dalam sepenggalan waktu. Saya dan anda mungkin setuju bahwa untaian indah hidup itu bukan hanya sekedar memiliki limpahan harta, tapi memiliki sahabat yang selalu ada saat manis dan pahit hidup jauh lebih indah karena sejati nya kita adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa orang lain.

Rosita Samad, S.P
Penelaah teknis kebijakan DLHK Prov. Sulsel
Alumni SMT Pertanian Negeri Sidrap

(Visited 2 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.