Oleh: Ruslan Ismail Mage
Dari tanggal 26 sampai dengan 29 September 2022, saya menyiapkan energi lebih untuk keliling beberapa fakultas di lingkungan Universitas Ekasakti Padang, memberi kelas inspirasi dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun ajaran 2022/2023.
Saya mengusung tema menarik, “Menjadi Generasi Emas Minangkabau”. Alhamdulillah, disambut antusias oleh para mahasiswa baru. Tema ini menjadi menarik karena sebagai penulis buku “Generasi Emas Minangkabau” saya mencoba berorasi menyadarkan mereka dengan mengungkap data dan fakta sejarah tidak terbantahkan bahwa 60% orang yang mendesain indonesia merdeka adalah orang Minangkabau. Bukan hanya itu, 60% satrawan besar dan penulis buku fenomenal Nusantara adalah orang Minangkabau.
Ketika meminta wakil mahasiswa tampil ke depan yang memiliki pemahaman tentang tokoh-tokoh bangsa yang terlibat mendesain indonesia merdeka, berdiri lima orang mahasiswa baru dan berjalan ke depan. Kelimanya masing-masing memiliki satu tokoh bangsa yang dikagumi dengan narasi yang menyentuh.
Saat mereka menjelaskan tokoh bangsa era pergerakan yang menjadi idolanya, tiga di antara lima mahasiswa itu membuat suasana hening. Saya pun larut dalam suasana itu sambil sebisa mungkin mengontrol emosi. Hening karena mata mereka berkaca-kaca hingga narasinya tersendat, terbata-bata, sambil menahan butiran kristal yang nyaris jatuh dari sudut matanya. Mereka meneteskan air mata bukan karena cengeng, tetapi menjiwai perjuangan para tokoh bangsa yang mewariskan kemerdekaan.
Satu di antara tiga mahasiswa itu tidak sempat lagi menahan air matanya ketika menjelaskan tokoh bangsa idola kekagumannya Sutan Sjahrir. Ia meneteskan air mata karena menjiwai sepak terjang Sultan Sjahrir yang menjadi inspirator Sumpah Pemuda dan arsitek kemerdekaan bangsanya. Ia mengenal “Tiga Serangkai” arsitek kemerdekaan, salah satunya adalah Sutan Sjahrir yang mendampingi Soekarno dan M. Hatta.
Kalau saja tidak malu di depan ratusan mahasiswa, mungkin saya juga sudah ikut meneteskan air mata melihat pemuda itu begitu menjiwai perjuangan para tokoh bangsa. Ia ingin menjadi seperti Sutan Sjahrir, tokoh bangsa idolanya. Menurutnya, Sjahrir ketika muda bukan hanya menyibukkan diri dengan buku-buku bacaan, tetapi juga seorang organisatoris sejati.
Nampaknya, mahasiswa baru ini benar-benar banyak paham tentang jejak pergerakan Sjahrir. Saya pun mendekatinya dan menepuk pundaknya sambil mengatakan, “Air matamu adalah air mata Sutan Sjahrir muda. Teruslah belajar dan berorganisasi untuk menjadi orang besar, sebagaimana yang dilakukan Sutan Sjahrir di masa mudanya.”
Salam pena dari Bumi Minangkabau tempat para arsitek kebangsaan bersemayam. []
