Perkembangan teknologi dewasa ini luar biasa pesat, termasuk teknologi dalam berkomunikasi. Perkembangan teknologi sebagai media berkomunikasi sangat beragam dan mudah untuk dioperasikan. Bermunculannya aplikasi-aplikasi digital yang biasa di sebut sosial media atau disingkat sosmed.

Namun sayang, seiring perkembangan sosial media yang semakin pesat, tidak dibarengi dengan meningkatnya pengetahuan dalam memanfaatkan sosial media tersebut. Walaupun banyak juga yang memanfaatkan sosial media ke arah positif, namun tidak sedikit pula yang salah kaprah dalam menggunakan sosial media tersebut.

Penyalahgunaan sosial media dewasa ini sangat marak terjadi, bukan hanya terjadi pada anak-anak, namun juga terjadi pada orang dewasa. Salah satu bentuk penyalahgunaan terjadi adalah curhat di sosial media.

Berbicara mengenai curhat, kita flash back pada saat tahun 90-an. Ketika kita mendapatkan masalah pada masa itu, kita meluapkannya kedalam goresan-goresan di buku diary, buku yang setia mendengarkan setiap curhatan yang kita ungkapkan.

Kebiasaan menuliskan setiap masalah yang dihadapi inilah yang sudah menjadi kebiasaan, sehingga sebagian orang ketika mendapatkan masalah diungkapkan ke beranda sosial media mereka. Semua unek-unek diungkapkan sama seperti ketika mereka menulis di sebuah buku diary.

Buku diary dan beranda sosial media sepintas memiliki kesamaan, yakni sama-sama setia menjadi sarana untuk mengungkapkan unek-unek yang dirasakan. Namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh dalam soal privasi. Buku diary mampu menjaga kerahasiaan unek-unek kita lebih baik dibandingkan beranda sosial media.

Bercerita di sosial media tanpa mengaktifkan menu privasi maka semua unek-unek yang diungkapkan akan menjadi konsumsi publik secara luas. Reaksi dari publik pun sangat beragam, mulai dari yang peduli, sekedar ingin tahu bahkan ada yang justru menertawakan dan menghujat apa yang kita alami. Alih-alih, cerita yang diungkapkan akan menyelesaikan masalah, justru semakin memperkeruh masalah yang kita hadapi.

Bijaklah bersosial media!

Soppeng, 12 Oktober 2022

(Visited 54 times, 1 visits today)
2 thoughts on “Ini Sosmed, bukan buku diary”
  1. Iya sepakat bijaklah dalam bermedsos.
    Saya jadikan medsos sejak multiply sebagai catatan Harian. Ada penerbit tertarik minta dibukukan dan bukan hanya satu penerbit. Beberapa buku memoar saya pindahan dari website.
    Salam literasi

    1. Iya Bu. Harus banyak edukasi kepada pengguna sosmed agar mereka paham tentang pentingnya privasi. Apa yang bisa dan tidak bisa diposting. Contoh ibu, bisa dijadikan inspirasi, Krn dapat memanfaatkan sosmed ke jalur positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.