Hajatan Harusnya untuk Pererat Silaturahmi
Berlalunya hari raya Iduladha sering diikuti dengan acara pernikahan di mana-mana. Kadang-kadang dalam satu hari ada tiga sampai empat undangan pesta. Ada yang menyebut bulan Zulhijah ideal dan istimewa karena dianggap sebagai bulan sakral dan penuh berkah. Juga tersedianya waktu libur dan berkumpulnya keluarga besar.
Tulisan ini secara khusus mengulas fenomena yang menunjukkan seolah-olah pelaksanaan hajatan seperti pesta pernikahan, kenduri, atau syukuran harus meriah. Meski tentu saja, untuk pernikahan ada yang menganggapnya wajib dilaksanakan, ada juga yang menyesuaikan dengan kemampuan finansial, dan bahkan ada yang memandang itu tidak perlu karena wajibnya telah gugur saat akad nikah.
Mayoritas baby boomers dan sebagian Generasi X (Gen-X) menilai pesta pernikahan yang wah adalah wajib. Selain untuk mengumumkan dan memperkenalkan pengantin baru kepada kerabat dan handai taulan, juga untuk ‘maaf’ sarana jaga gengsi. Bahkan ada juga yang unik tapi serius, yaitu konsep berjudi, menghabiskan sekian rupiah untuk pesta, dan berharap isi amplop bisa jauh lebih banyak. Kalau yang ini sifatnya orientasi pada laba.
Bagi Generasi Z (Gen-Z), juga sebagian Generasi Y (Gen-Y) atau Generasi Milenial, nilai itu perlahan bergeser. Lebih tepatnya, kembali ke substansi pernikahan. Mereka menganggap pernikahan itu hanya kewajiban pragmatis, bukan kewajiban sosial. Yang penting sah. Tidak sedikit yang membujuk orang tuanya agar pernikahan cukup dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) dengan mengundang kalangan terbatas. Hanya keluarga dekat. Sampai di sini, sebenarnya tidak masalah. Apalagi kalau orang tua juga mendukung, dan tidak ada tuntutan macam-macam dari kiri dan kanan.
Pada hakikatnya wajar jika Gen-Z berpandangan seperti itu. Artinya, mereka visioner, mengutamakan kehidupan setelah menikah. Bukankah esensi utama pernikahan adalah pemberian doa restu. Memberikan doa dan dukungan bagi keluarga yang baru untuk menjalani kehidupan yang super panjang setelah jadi raja dan ratu sehari. Lagi pula kalau merujuk pada tulisan di undangan, biasanya dicantumkan kata-kata, mohon doa restu.
Terkait hal yang terakhir ini, harusnya dipahami bahwa doa restu yang paling afdol untuk pernikahan adalah jika dilakukan dengan cara datang dan menyalami mempelai beserta ayah ibunya, dan mendoakan. Kalaupun ada hal lain, sifatnya sekunder, atau melengkapi, yang tanpa dilakukan pun, seharusnya tidak mengurangi makna dari kehadiran.
Tuan rumah pesta meminta undangan untuk hadir secara fisik, tatap muka, jabat tangan sambil mulut berucap selamat yang dijawab terima kasih. Bibir ditarik lima senti, semakin siang semakin berkurang setiap milimeter, sehingga tak jarang di penghujung waktu sudah tidak ada senyum sama sekali. Bukan marah, melainkan lelah.
Jika diwakilkan, maka yang hadir harus menyampaikan informasi ekstra selain ucapan selamat tadi. Ada tambahan yakni titipan salam, dia tidak bisa datang jadi cukup mendoakan dari jauh. Ini pun sah. Meski masih ada yang merasa sesuatu kurang ketika undangan tidak datang dan hanya menitipkan pesan.
Ini juga perlahan bergeser. Di zaman milenial, banyak undangan digital, yang mencantumkan nomor rekening bank. Di undangan ini, tersedia kolom untuk ucapan, dilengkapi dengan informasi tambahan, hadir atau tidak hadir.
Lalu, kalau datang, apakah harus makan? Di sini gengsi baby boomers kebanyakan masih kelihatan. Lazimnya tuan rumah mempersilakan tamu dan undangan untuk langsung menuju area buffet untuk mengambil makanan dan minuman. Jika ada tamu yang tidak makan, akan ditanya mengapa. Kadang dengan setengah memaksa menyuruh makan. Dasarnya, kalau tidak makan, dianggap tidak menghargai tuan rumah yang sudah capek-capek mengadakan resepsi.
Di sinilah terkadang nilai dari acara itu melenceng. Seolah tamu dan undangan itu jika datang maka harus makan. Kalau tidak, yang punya resepsi akan tersinggung. Padahal, kembali ke tujuan semula, yaitu memberikan doa restu. Yang lain, termasuk makan, adalah hal yang sifatnya sekunder. Tentu saja setiap yang datang boleh memilih untuk melakukan atau tidak melakukannya. Seharusnya tidak perlu ditanya lagi mengapa, karena itu masuk ke ranah pelanggaran privasi.
Makan atau tidak, orang punya argumen bermacam-macam. Puasa, diet, atau karena alasan kesehatan yang mengharuskan dia menghindari makanan tertentu. Ini sifatnya pribadi, dan kadang sensitif. Tidak usah didesak. Apalagi sok akrab mengulang-ulang pertanyaan, paling parah sampai menyindir.
Acara hajatan dan semacamnya sejatinya sarana untuk berbagi suka cita. Semua yang datang untuk menyambung silaturahmi dan bersuka ria. Janganlah dinodai dengan pembicaraan atau hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari, tapi dapat mengurangi makna kebersamaan. Banyak cara lain untuk beramah tamah: jabat tangan sambil tatap mata, senyum, kalau bisa sampai rahang yang bolong kelihatan, tanyakan kabar, atau pembicaraan umum yang lain.
Satu hal lagi, di saat makan, sebaiknya fokuslah pada makanan. Gunakan waktu di atas 90 persen bersama makanan. Jika suara musik terlalu kencang, tidak usah berteriak kepada tamu lain. Seolah informasi yang mau disampaikan sifatnya super penting, urgen dan segera. Tidak baik makan sambil bicara. Satu, kurang menghargai makanan. Dua, bagaimana kalau potongan makan itu loncat dari mulut dan hinggap di piring orang lain yang sedang makan.
Orang datang memenuhi undangan adalah satu hal yang patut disyukuri. Tidak usah melakukan atau mengatakan sesuatu yang memberi kesan buruk, sampai ada cerita negatif di belakang hari.
Oleh karena itu kalau ada hajatan, dan semacamnya, persilakanlah orang untuk makan. Cukup satu kali. Kalau dia tidak mau, ya sudah. Temani dia duduk. Kalau mau cerita, dengarkan. Tanggapi seperlunya. Biarkan dia memenuhi kewajibannya: datang untuk memberikan doa restu. Hanya Allah yang maha tahu.
Selamat Tahun Baru 1448 Hijriyah.
Balikpapan, Kalimantan Timur, 14 Juni 2026
