Oleh: H. Tammasse Balla*

20 tahun lalu, dalam upacara Hardiknas di Unhas, 2 Mei 1997, seorang bocah perempuan yang baru berumur dua tahun mengundang banyak perhatian. Waktu itu masih pagi-pagi buta ayam, ayahnya berkemas-kemas mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional di Lapangan Unhas. Si kecil itu lebih cepat bangun, tidak seperti hari-hari biasanya. Namun, ia menangis sejadi-jadinya di sebuah RSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali) di bilangan BTP. Sulit meredakan tangisan pagi si bocah. Terpaksa diikutkan juga ke kampus. Memakai jaket tebal kumal, ia ikut dibonceng motor Suzuki Bebek RC 80 DD 7895 VA bersama ibunya masuk kampus Unhas.

Tiba di sekitar lapangan, tangisnya semakin menjadi-jadi. Teman-teman dosen dan karyawan yang kebetulan lewat di sekitar melirik ke arah suara tangisan anak kecil itu. Ada beberapa sahabat menyarankan digendong saja masuk upacara. Namun, dipertimbangkan dapat mengganggu jalannya upacara. Lagi pula amat janggal ada anak kecil masuk lapangan. Akhirnya, si kecil bersama ibunya tetap menunggu di pinggir lapangan.

Air matanya berderai sambil tangannya memberi isyarat ingin digendong, kasihan juga mengenang peristiwa pagi itu. Dengan ditemani ibunya, si bocah main-main di pinggir lapangan bersama boneka kesayangannya yang diberi nama Cici. Tangisnya pun mereda hingga ayahnya selesai ikut upacara.

Hikmah Tangisan Bocah

Ternyata, tangisan si bocah 20 tahun lalu berubah senyum bahagia pada suatu hari. Tangisannya kala itu ternyata bertasbih kepada Alllah Swt. Allah tak pernah tidur. Tangisan tasbihnya itu didengar Allah. Pada peringatan Hardiknas 2 Mei 2017, tangisan tersebut dijawab Allah Swt. Bocah yang menangis sejadi-jadinya 20 tahun lalu menjadi tamu istimewa sekaligus sebuah kehormatan besar mengikuti upacara Hardiknas. Ia diundang khusus Rektor Unhas mengikuti upacara yang dirangkaikan UKM DAY UNHAS. Ia mendapat hadiah istimewa dari Rektor Unhas kala itu, Prof. Dr. Dwia Aries Tiba Pulubuhu, M.A.

Mengapa ia diundang khusus ikut upacara Hardiknas? Karena ia terpilih sebagai pemenang pertama Mahasiswa Berprestasi MAWAPRES UNHAS 2017. Ia mewakili Kampus Merah pada ajang Pemilihan Mawapres Tingkat Nasional di Surabaya. Alhamdulillah, si bocah kecil yang menangis di pinggir lapangan itu adalah Iin Fadhilah Utami Tammasse yang berhasil menyabet predikat “The Most Inspiring Student” tingkat nasional.

Sahabat pemelajar, maksud catatan batin seorang ayah ini hanya ingin berbagi hikmah kehidupan yang terus berproses atas kehendak Allah Swt. Hikmahnya antara lain: Pertama, jangan terlalu bersedih kalau ada tangis menyeruak dalam jiwa. Kedua, jangan pernah berputus asa jika terjatuh. Kalau pun jatuh, lekas bangkit. Tunjukkan kepada dunia, Anda bukan orang cengeng. Ketiga, jangan pula pernah merasa terhina jika dihinakan. Tetap rendah hati, namun jangan pernah rendah diri.

Atas izin Allah Swt, Insya Allah, justru tangis itu akan tersulap jadi senyum sumringah pada suatu waktu. Karena ujung setiap tangis adalah senyum. (Narasi ini ditulis di lapangan Upacara Unhas, 2 Mei 2017, pukul 09.35 WITA)

*Kaprodi S2 Bahasa Indonesia FIB Unhas

(Visited 77 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.