Oleh: Gugun Gunardi*
Pengantar:
Setiap tahun, hampir dipastikan para lulusan SLTA berbondong-bondong mencari Perguruan Tinggi (PT) favorit mereka. Tentu saja yang menjadi pilihan adalah perguruan tinggi negeri (PTN) yang terkenal di daerahnya masing-masing. Untuk Jawa Barat, PTN yang menjadi pilihan adalah ITB, IPB, UNPAD, UPi, ISBI dan UIN. Enam PTN tersebut saat ini hampir dipastikan menjadi pilihan para lulusan SLTA di Jawa Barat, untuk melanjutkan studi mereka di PTN. Namun demikian, jangankan untuk lulusan SLTA di luar Jawa Barat, enam perguruan tinggi tersebut belum tentu dapat menampung calon mahasiswa se-Jawa Barat. Lulusan SLTA di Jawa Barat pun belum tentu dapat diterima di lima PTN tersebut.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Moto itu rupanya sudah sangat dipahami oleh masyarakat kita, dan tentu saja oleh pemerintah. Oleh sebab itu, pemerintah menggelontorkan dana yang sangat banyak demi membantu masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan lebih baik lagi. Melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), kesempatan untuk belajar bagi masyarakat Indonesia terbuka lebar. KIP dapat diperoleh mulai dari pendidikan tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Kembali pada calon mahasiswa lulusan SLTA di seluruh Indonesia, demi bisa lolos di dalam persaingan meraih bangku kuliah di PTN favorit, usaha keras para siswa SLTA kelas 3 akan nampak di akhir tahun menjelang testing ke PTN. Lembaga bimbingan test akan menjadi sasaran para calon mahasiswa untuk mematangkan persiapan testing ke PTN. Saat seperti inilah kesibukan para siswa bertambah hingga pulang ke rumah pun bisa memasuki jam malam.
Kerja keras mereka (para siswa), akan terpunahkan jika mereka dapat diterima di PTN pilihannya. Kebahagiaan mereka, menjadi kebahagiaan orang tua dan keluarganya ketika nama mereka ada di daftar mahasiswa yang diterima di PTN. Para orang tua akan merasa sangat bangga jika anaknya dapat diterima di PTN. Lebih lagi jika diterima di PTN ternama di daerahnya.
Akan tetapi, PTN bukanlah satu-satunya PT yang bisa menjadi tumpuan para lulusan kelas 3 SLTA untuk melanjutkan studi ke PT. Sebab, masih banyak Perguruan Tinggi Swasta ( PTS) yang berkualitas untuk melanjutkan studi ke PT jika tidak diterima di PTN favorit yang menjadi pilihan mereka. Yang perlu dicatat, PTS berkualitas yang tersebar di seluruh nusantara pun mendapatkan KIP dari pemerintah, demi membantu kesulitan pembayaran uang kuliah bagi yang tidak mampu. Jadi, jika tidak diterima di PTN, calon mahasiswa dapat memilih PTS yang dipercaya oleh pemerintah untuk mendidik mahasiswa dengan KIP dari pemerintah. Dengan demikian, tak ada alasan lagi tidak dapat melanjutkan studi di PTS, karena tidak bisa membayar uang kuliah. Sebab, asal tekun memilih PT dengan tepat, calon mahasiswa dapat melanjutkan studi di PT.
Permasalahan:
Untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat PT, saat ini bukan lagi menjadi masalah besar. Selain banyak PTS yang tersebar di seluruh pelosok nusantara, kesulitan dana untuk membayar kuliah di PTS yang terkesan mahal pun, sekarang dapat dicover dengan diberlakukannya KIP oleh pemerintah hingga pendidikan ke PT. Jadi, tidak ada lagi alasan tidak dapat melanjutkan kuliah karena tidak diterima di PTN, dan uang kuliah di PTS dianggap mahal. Sebab, masih banyak PTS yang pembayaran uang kuliahnya tidak mahal dan juga mendapatkan dukungan dan bantuan dari pemerintah melalui dana KIP.
Sekarang, yang menjadi permasalahan adalah, kehati-hatian calon mahasiswa dalam memilih PTS yang betul-betul melaksanakan proses belajar mengajar (PBM). Oleh karena tidak sedikit PTS yang menerima calon mahasiswa, hanya ada kampusnya saja sedangkan PBM tidak dilaksanakan dengan benar. Hanya sekadar namanya saja, lalu mengeluarkan ijazah aspal (asli tapi palsu). Tentu saja, PTS seperti ini sangat merugikan masyarakat dan merugikan nama baik PTS yang menjalankan PBM dengan baik.
Di samping kehati-hatian di dalam memilih PTS yang betul-betul melaksanakan PBM dengan baik, harus diperhatikan juga arah pembinaan pola pembelajaran di PTS tersebut. Artinya, tidak hanya melihat keren kampusnya dan terkenal namanya saja. Dalam pengembangan pendidikan yang berbasis internasional dan pengembangan budaya nasional (budaya daerah), yang harus menjadi pegangan dalam menentukan studi lanjut di PT. Karena, meski bagaimanapun pola pembinaan internasional dan pengembanan budaya daerah, dirasa penting di dalam pendidikan di era global ini.
Mengapa calon mahasiswa diharapkan memilih PT yang bervisi Internasional. Oleh karena, di era global ini, para lulusan PT selain dihadapkan pada persaingan nilai mutu kumulatif yang unggul (terpuji), juga dihadapkan pada kemampuan mereka di dalam berkomunikasi secara internasional pula. Salah satunya ditandai dengan lulusan PT yang memiliki kemampuan bertutur di dalam bahasa internasional yang baik, yaitu kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. Karena, dengan kemampuan bahasa Inggris ini, kesiapan para lulusan PT berkomunikasi secara internasional akan teruji dengan baik. Saat ini, boleh dikatakan hampir setiap perusahaan asing yang berinvestasi di negeri kita ini, mewajibkan sumber daya manusianya memiliki kefasihan berbahasa Inggris. Jadi, PTS yang mengembangkan pendidikan dengan pembinaan bahasa Inggris yang baik, harus menjadi perhatian calon mahasiswa, demi kesiapan berkompetisi di dunia internasional.
Di samping itu, dunia pendidikan apalagi di PT, tidak pula meninggalkan pembinaan budaya dan bahasa daerah. Sebab, budaya daerah yang ada di negeri kita ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya nasional. Dengan kata lain, tidak akan ada budaya nasional, kalau tidak hidup budaya daerahnya. Jadi, antara budaya nasional dan budaya daerah, seperti kita membalik tangan saja.
Kepentingan lain dalam hal pembinaan budaya daerah adalah, agar para peserta ajar dan lulusan tidak lepas kendali dengan hanya mengenal dunia internasional saja. Sebab, di dalam budaya daerah yang ada di negeri yang kita cintai ini, secara implisit terselip pembinaan karakter yang tidak diajarkan langsung kepada peserta didik. Tetapi, mereka akan mengambil contoh-contoh yang baik dari local wisdom yang mereka peroleh melalui pembelajaran dan diskusi dengan dosen pembinanya. Ini sangat penting, dalam pengembangan soft skill peserta didik (mahasiswa) yang tidak mendapatkan mata kuliah khusus bersangkutan dengan soft skill. Jadi, pembinaan soft skill bagi mahasiswa erat sekali dengan pembinaan budaya daerah di PT. Oleh karena itulah, pemerintah saat ini menetapkan mata kuliah budaya dan bahasa daerah, dijadikan mata kuliah umum (MKU), baik di PTN dan PTS. Jadi kepentingannya jelas, MKU Budaya dan Bahasa Daerah, diadakan demi mematangkan soft skill peserta didik secara tidak langsung melalui contoh-contoh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa dan budaya daerah.
Penutup:
Ada peribahasa; “Banyak Jalan Menuju Roma”, maka banyak jalan yang dapat kita kerjakan dan kita lakukan dengan baik untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dengan latar belakang PTS yang melaksanakan PBM dengan benar. Berhati-hatilah memilih PTS yang tersebar luas hingga ke pelosok nusantara ini. Pilihlah PTS yang juga visi internasionalnya jelas, serta mengembangkan pembinaan budaya dan bahasa daerah. Sehingga ketika lulus jadi sarjana, para lulusan menguasai media berkomunikasi secara internasional dan memahami soft skill yang diperlukan dalam persaingan global saat ini. Terima kasih untuk kesediaan pemirsa membaca artikel sederhana ini.
*Penulis: Lektor Kepala (Associate Professor), Dosen Tetap Fakultas Sastra Universitas Al-Ghifari
alumni S3 Pascasarjana Unpad.

Artikel yang sangat bermanfaat terutama untuk anak anak yg hendak masuk PTN.
Ada satu anak yatim, atlet, anak asuh saya. Kelas 3 SMA N 4 Subang. Moga bisa lulus masuk PTN.
Leres, Tèh. Insya Alloh ditampi di PTN.