Oleh: Fitri Niati

Berusaha meredam amarah, lalu kembali seperti semula adalah cara yang paling tepat daripada harus mendiamkan tanpa sebab. Bertahan adalah sebuah tantangan dan kita bisa lalui itu bersama-sama. Bertengkar terus lalu baikan sudah biasa, cukup buang ego lalu kembali seperti sediakala.

Tidak ada hubungan dua hati yang datar terus. Bukankah setiap frekuensi pasti ada gelombangnya? Begitu pun laut yang tenang tidak bisa menghindar dari gelombang, bibir pantai pun yang jauh di tepi merasakan riak yang dibawa angin. Itulah hukum alam kehidupan. Tugas kita menetralisir ego lalu menikmati semilir angin yang menyejukkan jiwa.

Mungkin akan mengubah negatif thinking menjadi positif thinking. Dua orang yang hubungannya semakin dewasa pasti akan mengurangi kadar drama di dalamnya, saling terbuka tanpa diminta, saling bicara tanpa dipaksa, tahu kalau memang saling membutuhkan bukan sibuk untuk saling curiga dan menuduh.

Setidaknya, terima kasih sudah memberikan kesempatan buat saya untuk benar-benar merasakan mempunyai sosok yang selalu mengerti keadaan saya, jadi support sistem, dan juga berperan besar dalam menjadikan saya sosok penyabar.

Inilah mengapa ada banyak hubungan yang gagal, mereka lari dan menyerah karena dikendalikan ego. Merasa lelah dan putus asa, tidak mau memahami lebih dalam sifat dari pasangannya.

Mereka lupa untuk menjadi satu “KITA” itu harus bisa menyatukan dua kepala tanpa ego. Jadi perbaiki masalahnya, mulailah romantis lagi. Pergi jalan-jalan lagi, berusaha memahami satu sama lain dan yang terpenting ingatlah komitmen yang sudah disepakati saat menjalin sebuah hubungan.

Sudah pasti ada kekurangan pasangan kamu, sehingga kamu berpikir untuk menggantinya dengan yang lebih baik. Sudahkah kamu berpikir dan mengingat bagaimana bertemu pertama kali dengannya, menyulam sebuah kenangan yang sangat indah. Ingat, di luar sana ada begitu banyak orang yang lebih baik dari kamu, tapi dia tetap memilihmu. Jadi, pelihara dan pupuk hubungan itu hingga berbunga cinta dan berbuah kasih sayang di taman jiwanya.

*Pencinta literasi menulis

(Visited 34 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.